Kamis Desember 14 , 2017

Mari Belajar Kisah Para Rasul (86)

BAHAN BACAAN: Kisah Para Rasul 27:14–26


    Pada bagian berikut ini kita akan melihat bahwa apa yang tadinya dianggap aman dan baik ternyata berubah menjadi malapetaka yang mengerikan. Namun untung, masih ada seorang hamba Tuhan di situ..

Baca Selanjutnya: Mari Belajar Kisah Para Rasul (86)

 

Airmataku (Tidak Lagi) Menjadi Makananku (3)

Berbekal ijazah SMA, kemampuan komputer dan bahasa Inggris, tahun 1995, Samuel Irwan diterima bekerja di sebuah perusahaan kayu. Benar-benar mulai dari posisi bawah , hanya sebagai operator radio.
    Karena keuletannya dalam bekerja dan kemampuannya di bidang komputer, hanya dalam waktu 5 bulan ia diangkat menjadi kepala produksi log di perusahaan kayu itu.

Baca Selanjutnya: Airmataku (Tidak Lagi) Menjadi Makananku (3)

 

Airmataku (Tidak Lagi) Menjadi Makananku (2)

TEMPAT MULAI MENJALANI NAZAR
Setelah lulus dari STT Tawangmangu, tahun 1993 Samuel Irwan menjalani masa praktek dan ditempatkan di Kecamatan Mangkupalas, Samarinda, Kalimantan Timur.
    Di tempat inilah ia mulai menjalani kehidupan sebagai hamba Tuhan sepenuh waktu. Semua dijalani dengan sukacita dan penuh semangat walaupun harus meninggalkan kehidupan nyaman di Surabaya dan menjalani kehidupan yang berat di Kalimantan dengan persembahan kasih yang sangat kecil. Hanya Rp 80.000 per bulan.

Baca Selanjutnya: Airmataku (Tidak Lagi) Menjadi Makananku (2)

   

Airmataku (Tidak Lagi) Menjadi Makananku (1)

Kita sering mengasosiasikan orang yang sedang menangis sebagai orang yang sedang menderita, walaupun ada juga air mata bahagia..., karena saking terharunya atas suatu peristiwa yang membahagiakan hati.
    Tapi memang lebih banyak air mata keluar dikarenakan penderitaan. Bani Korah menuliskan mazmur yang menunjukkan kesesakan hatinya, Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku, "Di mana Allahmu?" (Mzm. 42:4a) sampai-sampai air mata terus mengalir tiada henti-hentinya. ..

Baca Selanjutnya: Airmataku (Tidak Lagi) Menjadi Makananku (1)

 

Pengakuan Harun Jusuf

PENGAKUAN HARUN JUSUF, MANTAN TUKANG KWAMIA:
“PASIEN YANG DATANG JUSTRU DIKUTUK SI TUKANG KWAMIA!" (3)


Bagaimana pandangan Bapak jika ada orang Kristen yang masih datang untuk dikwamia atau diramalkan kehidupannya?
    Orang Kristen yang pergi ke tukang kwamia? Oh, banyak. Banyak sekali. Dulu, sebelum saya bertobat, sudah bukan rahasia lagi jika di antara sekian banyak pasien saya, banyak yang beragama Kristen. Cuma, sekarang setelah saya bertobat, saya ingin memberitahukan kepada mereka untuk menghentikan hal tersebut. Sebab, jika masih tetap percaya atau pergi ke tukang kwamia, nasib mereka sudah tak ada di tangan Tuhan lagi. Ia harus tunduk atau menuruti kepada ramalan- ramalan yang dia pegang. Setelah saya bertobat, saya membaca Firman Tuhan dalam Roma 6:16.

Baca Selanjutnya: Pengakuan Harun Jusuf

   

Halaman 16 dari 16

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com