Kamis Desember 14 , 2017

Lawatan Roh Kudus di Pulau Santay (3)

Elsa mulai aktif dalam pertemuan belajar Alkitab. Dia juga mulai berani berdoa di dalam pertemuan besar, juga mulai aktif untuk memberitakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Moore menambahkan, "hal ini benar-benar sesuatu yang baru didengar di pulau Santay. Tuhan punya rencana besar dalam hidup Elsa secara khusus, DIA juga punya rencara khusus bagi penduduk pulau Santay pada umumnya."

Baca Selanjutnya: Lawatan Roh Kudus di Pulau Santay (3)

 

Lawatan Roh Kudus di Pulau Santay (2)

Anggota OM lainnya Tabitha Moore menyaksikan perubahan dalam hidup orang lain yang tinggal di Pulau Santay tersebut Elsa, seorang wanita yang sudah tinggal di pulau itu selama 30 tahun, sangat takut akan air, dan tidak pernah bisa berenang, sekalipun dia tinggal di pinggir sungai Guayas.

Baca Selanjutnya: Lawatan Roh Kudus di Pulau Santay (2)

 

Lawatan Roh Kudus di Pulau Santay (1)

Delapan Tahun berlalu sudah. Selama itu waktu yang dipakai oleh yayasan penginjilan OM (Operation Mobilization) negara Equador bersama dengan tenaga relawan dari gereja setempat melayani dengan kasih orang-orang yang tinggal di pulau seberang sungai Guayas. Sepertinya pelayanan mereka tidak nampak membuahkan hasil. Tetapi, setelah sepuluh tahun, nampak benih-benih Firman mulai bersemi. Hati penduduk setempat siap untuk mendapat lawatan kuasa Roh Kudus.

Baca Selanjutnya: Lawatan Roh Kudus di Pulau Santay (1)

   

Ketika Iman Ikut Mempengaruhi Cara Berbusana (2)

Tidak hanya menolong mereka untuk menemukan jati diri mereka lebih lagi, kursus ini juga melatih mereka dalam keahlian menggambar dan teknik merancang busana. Bagi Joanna, iman bisa mempengaruhi segala aspek dari merancang busana itu, baik dalam hal pemotongan bahan, warna, maupun pilihan bahan yang digunakan untuk membuat pakaian tersebut. “Daripada membuat rancangan yang menjadi penghalang, lebih baik kita mencari apa yang dimaksud dengan modis dan melihat siapa kita sebenarnya dan bagaimana kita merefleksikan Tuhan sebagai suatu pribadi. Dari sana, kita bisa membalikkan hal-hal lainnya ke dalam ungkapan yang luar biasa, penuh kekreatifan, dan mengerti diri kita sendiri.”

Baca Selanjutnya: Ketika Iman Ikut Mempengaruhi Cara Berbusana (2)

 

Ketika Iman Ikut Mempengaruhi Cara Berbusana (1)

Selama tiga hari ‘Empty Hanger’ mengadakan kursus di Universitas Fashion London yang diselenggarakan oleh Rev. Joanna Jepson. Dia mempunyai hasrat untuk melihat anak muda perancang busana menemukan inspirasi dari iman mereka ketika merancang rancangan pakaian baik yang mereka kenakan maupun orang lain kenakan. “Banyak gadis yang datang dari sekolah agama konservatif, di mana banyak dari mereka yang terkoneksi antara iman dan fashion yang belum pernah dibuat selama ini,” katanya.
“Mereka tidak pernah mengira bahwa busana merupakan bagian dari iman mereka atau ekspresi atas iman dan wujud pengabdian, dengan kata lain semua itu saling terjalin.” Pertanyaan yang dikemukakan oleh murid-murid yang mengikuti kursus itu adalah bagaimana iman mereka bisa menginspirasi apa yang akan dipakai?
Bagian terbanyak dalam kursus itu adalah menolong para gadis tersebut mengerti siapa mereka, apa yang mereka percayai dan tempat mereka di dunia ini, dan memperbolehkan pemahaman itu menuntun mereka akan rancangan apa yang mereka gambar di dalam buku sketsa mereka. Untuk menolong mereka, setiap gadis harus membawa sesuatu atau pun mengucapkan sesuatu tentang mereka atau tentang makna spiritual yang mereka dapatkan. Lalu selama tiga hari itu mereka merefleksikannya pada objek dengan membuat rancangan yang mengekspresikan siapa mereka. ...bersambung...

   

Halaman 4 dari 16

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com