Kamis Desember 14 , 2017

Mujizat Itu Nyata

Ibu Hari P - Jl. Bengkalis

Pada bulan Juni 2013, jari tengah tangan kiri saya bagian ujungnya membiru seperti cantengan. Saya bawa ke dokter, dan dokter sarankan harus operasi kira-kira seruas jari. Adik ipar saya dengar kalau saya akan dioperasi, dia membawa saya ke Ambulu untuk di ozon. Setelah di ozon sepuluh kali ternyata HB dan trombosit saya tidak bisa turun. Lalu saya kontrol ke dokter darah di Surabaya.

Baca Selanjutnya: Mujizat Itu Nyata

 

Bersama Tuhan, Saya Sanggup Menghadapi Hidup Ini

Rina - Tidar

Kira-kira 8 bulan yang lalu, mata saya sebelah kanan mengalami keanehan. Setelah melewati beberapa pemeriksaan, akhirnya diketahui retina mata sebelah kanan robek bahkan sudah lubang. Mendengar hal itu yang ada di pikiran saya, anak-anak saya masih kecil, mereka masih membutuhkan saya.

Baca Selanjutnya: Bersama Tuhan, Saya Sanggup Menghadapi Hidup Ini

 

Yesus Harapanku

Wewe

Dokter mengatakan epilepsi tidak bisa sembuh kalau pasien sudah berusia 30 tahun, namun saya tetap berharap pada Yesus bahwa suatu saat saya pasti bisa sembuh.

Baca Selanjutnya: Yesus Harapanku

   

Artikel berikut ini diambil dari Institut Sejarah Kristen.
ďAnna Spafford bersaksi bahwa dia seperti tersedot dengan keras ke bawah. Bayi Tanetta terlepas dari tangannya oleh tabrakan dengan beberapa puing berat, pukulan begitu keras sehingga lengan Anna memar parah. Dia mencoba menggapai di air untuk menangkap bayinya. Anna menangkap gaun Tanetta untuk sesaat sebelum pukulan ombak merobek, menghempaskan gadis kecil itu dari lengannya selamanya. Saat menggapai keluar lagi dari air, yang ditemukannya adalah kaki seorang pria dengan celana corduroy. Anna yang hampir tidak sadar berputar-putar dalam pusaran air sebelum mencapai permukaan dekat Loch Earn. Ia lalu meraih sebuah papan kecil dan hal berikutnya yang dia ingat adalah percikan dayung saat ia terbaring di dasar sebuah perahu kecil. Memar dan sakit, rambut panjangnya kusut karena garam dan gaunnya robek. Tapi rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat ia menyadari bahwa keempat putrinya telah hilang dalam bencana. Seorang lelaki muda penumpang kapal, mengapung di atas sepotong kayu mendekati Maggie dan Annie, dua anak tertua Spafford. Atas petunjuknya, setiap gadis menggenggam kantong pada sisi tubuhnya sambil mencoba mencari papan yang cukup besar untuk mereka bertiga. Sekitar 30-40 menit di air, ia menemukan sepotong serpihan kapal dan berjuang untuk membantu dua gadis muda naik ke atas papan. Tapi ia melihat tangan mereka melemah, mata mereka tertutup. Tubuh tak bernyawa mereka mengambang menjauh dari tangan pria yang juga lumpuh karena kelelahan. Tentang Bessie kecil, tidak ada orang yang tahu bagaimana."

Baca Selanjutnya:

 

Pada akhir tahun 1860, kehidupan bagi Horatio G. Spafford dan Anna istrinya, sangat baik. Mereka tinggal di sebelah utara pinggiran kota Chicago dengan lima anak mereka, Annie, Maggie, Bessie, Tanetta dan Horatio Jr. Dia memiliki karir hukum yang sukses di Chicago. Pintu rumah Spaffords selalu terbuka sebagai tempat pertemuan bagi para aktivis selama gerakan reformasi pada masa itu. Horatio G. Spafford cukup aktif dalam gerakan abolisionis. Frances E. Willard, ketua National Women's Christian Temperance Union serta pemimpin penginjil seperti Dwight L. Moody sering menjadi tamu di rumah mereka. Spafford adalah seorang penatua Gereja Presbyterian dan seorang Kristen yang tulus.

Baca Selanjutnya:

   

Halaman 2 dari 14

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com