Jumat November 21 , 2014

Hati Sebagai Hamba

 

Pdp. Daniel Rudianto
Sabtu, 26 Januari 2013

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Markus 10:43-44


Tuhan berkenan dan mencari pelayan yang memiliki hati sebagai hamba. Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada para hamba Tuhan, namun juga kepada anak-anak Tuhan dengan profesi apapun yang disandangnya. Tuhan tidak berkenan kepada anak-anak Tuhan yang berhati BOS. Sebaliknya, jadilah bos yang berhati hamba.
Tuhan Yesus telah memberikan teladan kepada kita. Tuhan Yesus adalah Raja segala raja dan Tuan dari segala tuan, namun Ia datang ke dunia sebagai hamba, bahkan sampai mati di atas kayu salib bagi kita (ay. 45).
Apakah yang dimaksud dengan hamba? Hamba yang dalam bahasa aslinya ”doulos” yang artinya budak belian. Hamba atau doulos ini memiliki arti yang sangat rendah, jauh lebih rendah dibandingkan profesi seorang pembantu pada jaman sekarang. Begitu rendahnya sehingga dibunuh oleh tuannya pun tidak ada yang akan menuntut. Dan Tuhan menginginkan kita memiliki hati seorang hamba yang demikian. Tanpa hati seorang hamba maka apapun yang kita lakukan dan kebaikan-kebaikan kita tidak akan diperhitungkan oleh Tuhan. Tuhan tidak hanya melihat bagaimana pelayanan kita, tetapi yang terutama justru Tuhan melihat hati seorang pelayan (1 Kor. 3:12-15). Seperti Martha yang giat melayani Tuhan namun ia tidak melayani dengan hati hamba sehingga pelayanannya penuh dengan sungut-sungut, iri hati dan tidak puas.

Bagaimana hati seorang hamba atau doulos ?
Mat. 11:29 mengajarkan kita bagaimana hati seorang hamba : LEMAH LEMBUT dan RENDAH HATI.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Markus 10:43-44


Tuhan berkenan dan mencari pelayan yang memiliki hati sebagai hamba. Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada para hamba Tuhan, namun juga kepada anak-anak Tuhan dengan profesi apapun yang disandangnya. Tuhan tidak berkenan kepada anak-anak Tuhan yang berhati BOS. Sebaliknya, jadilah bos yang berhati hamba.
Tuhan Yesus telah memberikan teladan kepada kita. Tuhan Yesus adalah Raja segala raja dan Tuan dari segala tuan, namun Ia datang ke dunia sebagai hamba, bahkan sampai mati di atas kayu salib bagi kita (ay. 45).
Apakah yang dimaksud dengan hamba? Hamba yang dalam bahasa aslinya ”doulos” yang artinya budak belian. Hamba atau doulos ini memiliki arti yang sangat rendah, jauh lebih rendah dibandingkan profesi seorang pembantu pada jaman sekarang. Begitu rendahnya sehingga dibunuh oleh tuannya pun tidak ada yang akan menuntut. Dan Tuhan menginginkan kita memiliki hati seorang hamba yang demikian. Tanpa hati seorang hamba maka apapun yang kita lakukan dan kebaikan-kebaikan kita tidak akan diperhitungkan oleh Tuhan. Tuhan tidak hanya melihat bagaimana pelayanan kita, tetapi yang terutama justru Tuhan melihat hati seorang pelayan (1 Kor. 3:12-15). Seperti Martha yang giat melayani Tuhan namun ia tidak melayani dengan hati hamba sehingga pelayanannya penuh dengan sungut-sungut, iri hati dan tidak puas.

Bagaimana hati seorang hamba atau doulos ?
Mat. 11:29 mengajarkan kita bagaimana hati seorang hamba : LEMAH LEMBUT dan RENDAH HATI.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Markus 10:43-44


Tuhan berkenan dan mencari pelayan yang memiliki hati sebagai hamba. Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada para hamba Tuhan, namun juga kepada anak-anak Tuhan dengan profesi apapun yang disandangnya. Tuhan tidak berkenan kepada anak-anak Tuhan yang berhati BOS. Sebaliknya, jadilah bos yang berhati hamba.
Tuhan Yesus telah memberikan teladan kepada kita. Tuhan Yesus adalah Raja segala raja dan Tuan dari segala tuan, namun Ia datang ke dunia sebagai hamba, bahkan sampai mati di atas kayu salib bagi kita (ay. 45).
Apakah yang dimaksud dengan hamba? Hamba yang dalam bahasa aslinya ”doulos” yang artinya budak belian. Hamba atau doulos ini memiliki arti yang sangat rendah, jauh lebih rendah dibandingkan profesi seorang pembantu pada jaman sekarang. Begitu rendahnya sehingga dibunuh oleh tuannya pun tidak ada yang akan menuntut. Dan Tuhan menginginkan kita memiliki hati seorang hamba yang demikian. Tanpa hati seorang hamba maka apapun yang kita lakukan dan kebaikan-kebaikan kita tidak akan diperhitungkan oleh Tuhan. Tuhan tidak hanya melihat bagaimana pelayanan kita, tetapi yang terutama justru Tuhan melihat hati seorang pelayan (1 Kor. 3:12-15). Seperti Martha yang giat melayani Tuhan namun ia tidak melayani dengan hati hamba sehingga pelayanannya penuh dengan sungut-sungut, iri hati dan tidak puas.

Bagaimana hati seorang hamba atau doulos ?
Mat. 11:29 mengajarkan kita bagaimana hati seorang hamba : LEMAH LEMBUT dan RENDAH HATI.

1. Seorang hamba tidak memiliki kebanggaan apa-apa
Hamba seharusnya tidak bisa sombong atau bangga dengan hasil pekerjaannya (Luk, 17:10 à Inilah hati seorang hamba). Kesombongan dalam hati saja Tuhan sudah melihatnya dan itu tidak berkenan kepadaNya (Ams. 4:23).

2. Seorang hamba pasti taat
Ibr. 13:17 mengajar kita untuk taat kepada pimpinan. Doulos atau seorang hamba tidak memiliki hak untuk tawar menawar melainkan ia harus taat kepada perkataan Tuannya. Hati-hatilah terhadap kepandaian dan ide-ide pribadi kita, karena seringkali itu membuat kita sulit taat. Tuhan Yesus sendiri walaupun Allah, Ia belajar taat sampai mati di atas kayu salib (Ibr. 5:8).

3. Seorang hamba tidak bisa tersinggung
Seorang hamba memiliki hati yang bisa menerima kritik dan saran (Bil. 12:3). Sangatlah sulit menerima kritik dan saran dari orang lain meskipun yang kita kerjakan memang kurang benar. Apalagi dicela pada saat kita sudah melakukan yang benar dan terbaik. Tuhan Yesus tidak tersinggung walaupun Ia sudah diperlakukan dengan tidak adil, dihina dan disalibkan walaupun Ia sama sekali tidak bersalah (Luk. 23:34).

4. Siap setiap saat
Sebagai seorang hamba kita harus siap setiap saat. Hamba harus memiliki dua macam SIAP yaitu siap yang pertama siap melakukan apa saja yang diperintahkan baik itu berat maupun ringan. Dan siap yang kedua adalah siap untuk tidak disuruh apa-apa atau tidak dipakai sebagai apa-apa. Dalam keadaan tidak disuruh apa-apa ia tetap siap.

Tuhan menginginkan kita memiliki hati seorang hamba yaitu memiliki empat hal di atas. Dengan demikian kita adalah pelayan yang dapat dipercayai (1 Kor. 4:1-2). (ME)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com