Kamis Desember 14 , 2017

 

Artikel berikut ini diambil dari Institut Sejarah Kristen.
“Anna Spafford bersaksi bahwa dia seperti tersedot dengan keras ke bawah. Bayi Tanetta terlepas dari tangannya oleh tabrakan dengan beberapa puing berat, pukulan begitu keras sehingga lengan Anna memar parah. Dia mencoba menggapai di air untuk menangkap bayinya. Anna menangkap gaun Tanetta untuk sesaat sebelum pukulan ombak merobek, menghempaskan gadis kecil itu dari lengannya selamanya. Saat menggapai keluar lagi dari air, yang ditemukannya adalah kaki seorang pria dengan celana corduroy. Anna yang hampir tidak sadar berputar-putar dalam pusaran air sebelum mencapai permukaan dekat Loch Earn. Ia lalu meraih sebuah papan kecil dan hal berikutnya yang dia ingat adalah percikan dayung saat ia terbaring di dasar sebuah perahu kecil. Memar dan sakit, rambut panjangnya kusut karena garam dan gaunnya robek. Tapi rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat ia menyadari bahwa keempat putrinya telah hilang dalam bencana. Seorang lelaki muda penumpang kapal, mengapung di atas sepotong kayu mendekati Maggie dan Annie, dua anak tertua Spafford. Atas petunjuknya, setiap gadis menggenggam kantong pada sisi tubuhnya sambil mencoba mencari papan yang cukup besar untuk mereka bertiga. Sekitar 30-40 menit di air, ia menemukan sepotong serpihan kapal dan berjuang untuk membantu dua gadis muda naik ke atas papan. Tapi ia melihat tangan mereka melemah, mata mereka tertutup. Tubuh tak bernyawa mereka mengambang menjauh dari tangan pria yang juga lumpuh karena kelelahan. Tentang Bessie kecil, tidak ada orang yang tahu bagaimana."
Setelah Anna diselamatkan, Pastor Nathaniel Weiss, salah seorang majelis yang bepergian bersama mereka teringat mendengar Anna berkata, "Tuhan memberiku empat anak perempuan. Sekarang mereka telah diambil dariku. Suatu hari nanti aku akan mengerti mengapa.." Anna benar-benar hancur. Orang-orang yang selamat memperhatikan Anna, mereka takut ia mungkin mencoba mengakhiri hidupnya. Dalam kesedihan dan keputusasaan, Anna mendengar suara lembut berbicara padanya, "Kamu diselamatkan untuk suatu tujuan!" Lalu Anna teringat seorang teman pernah berkata, "Sangat mudah untuk bersyukur bila engkau memiliki segala sesuatu, tetapi melupakan Tuhan dan hanya mengingatNya saat berada dalam masalah"
Setelah pertemuan mereka di Eropa, Horatio dan Anna kembali ke Chicago untuk memulai kembali kehidupan mereka. Tuhan mengaruniai Anna dan Horatio dengan tiga anak. Mereka memiliki seorang putra pada tahun 1876, diberi nama "Horatio” untuk mengenang putra mereka yang telah meninggal. Pada tahun 1878 putri mereka Bertha lahir. Tragisnya, ketika Horatio berusia 4 tahun, ia juga meninggal karena scarlet fever seperti saudaranya sebelumnya. Pada tahun 1880 Anna dan Horatio memiliki putri lain yang diberi nama Grace. Setelah meninggalnya Horatio kecil, Spaffords memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka di Amerika dan menetap di Yerusalem. Pada bulan September 1881 Spaffords dan beberapa teman meninggalkan Amerika untuk Israel.
Kelompok ini menetap di kota tua Yerusalem dan memulai pekerjaan yang kemudian dikenal sebagai "American Colony." Di sana mereka melayani orang yang kekurangan, membantu orang miskin, merawat orang sakit dan menampung anak tunawisma. Tujuan mereka hanyalah untuk menunjukkan kasih Yesus kepada mereka. Novelis Swedia Selma Ottiliana Lovisa Lagerlof menulis tentang koloni Kristen ini dalam dua volume novelnya yang memenangkan hadiah Nobel berjudul "Yerusalem."
Seorang sejarawan Kristen menulis tentang Anna dan Horatio: "Tergerak oleh serangkaian musibah tragis, penduduk Chicago, Anna dan Horatio Spafford memimpin kelompok kecil dari Amerika ke Yerusalem pada tahun 1881 untuk membentuk masyarakat Kristen yang dikenal sebagai 'American Colony.”
Bertha Spafford Vester, menulis kisah ini dalam bukunya "Our Yerusalem."
"Di Chicago, ayah mencari penjelasan tentang hidupnya. Hingga saat ini, semuanya mengalir dengan lembut seperti sungai. Kedamaian rohani dan keamanan telah menopang awal hidupnya, kehidupan keluarganya dan tempat tinggalnya...  Orang di sekelilingnya bertanya-tanya, “kesalahan apa yang menyebabkan terjadinya tragedi pada Anna dan Hoaratio Spafford?' .... Tapi ayah yakin bahwa Allah baik dan ia akan melihat anak-anaknya lagi di surga. Hal ini menenangkan hatinya dan membawa ayah terbuka dengan Kekristenan. Bagi ayah, seperti melewati "lembah bayang-bayang maut," tapi imannya bangkit dan kuat. Di laut lepas, dekat tempat di mana anak-anaknya tewas, ia menulis himne yang menenangkan banyak orang."

It Is Well With My Soul

When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou has taught me to say,
It is well, it is well, with my soul.

It is well, with my soul, It is well, with my soul,
It is well, it is well, with my soul.

Though Satan should buffet, though trials should come,
Let this blest assurance control,
That Christ has regarded my helpless estate,
And hath shed His own blood for my soul.

My sin, oh, the bliss of this glorious thought!
My sin, not in part but the whole,
Is nailed to the cross, and I bear it no more,
Praise the Lord, praise the Lord, O my soul!

And Lord, haste the day when my faith shall be sight,
The clouds be rolled back as a scroll;
The trump shall resound, and the Lord shall descend,
Even so, it is well with my soul.

It is well, with my soul, It is well, with my soul,
It is well, it is well, with my soul.

Pada 1876 P.P. Bliss memberi musik pada lirik Horatio Spafford. Lagu ini masih dinyanyikan di gereja-gereja Protestan hari. "It Is Well With My Soul" pertama kali dinyanyikan di depan umum oleh P.P. Bliss tanggal 24 November 1876 sebelum pertemuan majelis yang diselenggarakan oleh Dwight L. Moody di Chicago Farewell Hall. Ironisnya, satu bulan kemudian, P.P. Bliss dan istrinya tewas dalam kecelakaan kereta api yang mengerikan. Hal ini diyakini bahwa Horatio mengambil kata-kata "It is well (selamat)" dari kata-kata wanita Sunem yang kehilangan anak satu-satunya, tetapi kemudian dibangkitkan dari kematian oleh Elisa. (II Raj. 4:26 KJV)
Horatio G. Spafford lahir pada 20 Oktober 1828 di Lansingburgh, New York dan meninggal karena Malaria pada 16 Oktober 1888 di Yerusalem. Anna Spafford terus bekerja di daerah sekitar Yerusalem sampai kematiannya pada tahun 1923. Mereka dimakamkan di Yerusalem. Inilah yang dikatakan dengan "jiwa mereka selamat”
(Diterjemahkan dari artikel dalam voices.yahoo.com)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com