Rabu September 24 , 2014

Menjaga Hati

 

Pdt. Simon Kostoro
Minggu, 10 Juni 2012

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Amsal 4:23

Dalam terjemahan lain, ayat ini berbunyi demikian: Jagalah hatimu lebih dari segala yang patut dipelihara/dijaga. Yang lebih penting di dunia adalah menjaga hati, bukan yang lain-lain karena dari hatilah terpancar kehidupan, kita bisa menjadi berkat dan memuliakan Tuhan. hati manusia seperti mata air, jika tercemar dan tidak lagi bersih, tidak berarti lagi. Begitu pentingnya menjaga hati.
Dalam 2Raj. 2:19-22 diceritakan tentang sebuah kota yang baik dan sangat menjanjikan tetapi mata airnya tidak baik, banyak bayi-bayi yang gugur. Kota adalah bayangan anak Tuhan (Mat. 5:14). Dalam dunia yang gelap, ada kota yang menyala, bercahaya dan bisa dilihat orang. Biarlah mata air kita juga jernih supaya juga bisa dinikmati orang lain.

Dari apa kita harus menjaga hati kita?
1. Kepahitan
Jika hati kita pahit maka semua yang keluar dari lidah, perbuatan, pekerjaan, semuanya tercemar. Kepahitan itu menular (Ibr. 12:15). Dalam Why. 8:11 juga dikatakan, di akhir jaman ada sebuah bintang yang bernama Apsintus yang akan jatuh dan memahitkan 1/3 dari mata air di bumi. Ini tidak lain berbicara tentang kejatuhan si AntiKris.
Dari mana datangnya kepahitan? Dari perselisihan (sakit hati) --> amarah --> tidak mengampuni --> dendam --> kepahitan. Perselisihan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari selama kita saling berhubungan dengan orang lain, tetapi jangan hal itu menjadi sumber kepahitan, oleh sebab itu kita harus cepat melepaskan pengampunan.
Satu kali bangsa Israel kehausan (Kel. 15: 22-25). Mereka menemukan mata air tetapi saat diminum airnya pahit. Tuhan berkata kepada Musa supaya melempar sepotong kayu dan air itu menjadi manis. Kayu bayangan salib Kristus yang akan menetralisir segala kepahitan di dalam hati kita. Dalam Efe. 4:31-32, Paulus mengingatkan kita akan karya salib Kristus yang telah mengampuni kita, itulah sebabnya biarlah kita juga mau saling mengampuni.

2. Tawar hati
Tawar hati datangnya dari kekecewaan. Banyak hal yang dapat mengakibatkan kekecewaan. Mungkin sudah berdoa tetapi tidak dijawab-jawab, mungkin karena penderitaan sehingga kehilangan iman, atau mungkin juga karena melihat orang fasik diberkati tetapi orang benar tidak seperti Daud yang pernah mengalami kekecewaan melihat orang fasik diberkati (Mzm. 73:13-14, Mzm. 37). Yunus juga kecewa saat melihat orang Niniwe yang jahat diampuni oleh Tuhan. Yohanes Pembaptis juga pernah tawar hati dalam penjara (Mat. 11:6).
Oleh sebab itu, mari belajar dalam segala keadaan tetap memuliakan Tuhan karena penderitaan itulah yang menyempurnakan iman kita. Dan penderitaan yang sekarang ini tidak dapat sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima apabila kita tetap bertahan dalam penderitaan dan tidak tawar hati bahkan juga waktu menghadapi maut (2Kor. 4:16-18).

3. Kehilangan kasih yang mula-mula
Ciri akhir jaman adalah kehilangan kasih, kasih menjadi dingin. Mungkin seseorang masih berada dalam ibadah, dalam pelayanan tetapi telah kehilangan kasih yang mula-mula. Apa tanda-tanda orang yang kehilangan kasih yang mula-mula? Mereka tidak lagi memiliki:
- passion (gairah)
- enthusiasm (antusiasme/minat)
-  sukacita
Jangan sampai kasih itu hilang dari hidup ini seperti siding jemaat Epesus (Why. 2:2-4). Jangan sampai kita seperti sumbu yang apinya sudah hilang, hanya tinggal asap. Nyalakan terus api itu, jangan sampai padam!

Bagaimana menjaga hati:
1.       WORD -->  Firman Tuhan
Firman Tuhan sangat penting dan bermanfaat untuk menjaga hati kita. Saat kita mulai melalaikan firman, kita bisa menjadi lemah dan kehilangan gairah, itulah sebabnya usahakan untuk selalu membaca mendengar dan merenungkan firman.

2. Words --> Perkataan/pujian
Pujian tidak lepas dari kata-kata. Mungkin ada saatnya kita datang ke hadirat Tuhan dengan dingin, perasaan kita biasa-biasa saja, itulah saatnya bagi kita untuk mulai memuji Tuhan. Keluarkan kata-kata pujian sehingga api dalam hati akan mulai memercik dan akan menyala. Kita yang harus membawa perasaan (hati) kita untuk memuji Tuhan seperti Daud dalam Mzm. 42:6 membangkitkan jiwanya sendiri. Mzm. 81:11 juga menyuruh kita untuk membuka mulut kita untuk memuji Tuhan. Sebab itu pujilah Tuhan dengan semampu kita, nanti Roh Kudus akan mengambil alih doa kita.

3. Worship --> penyembahan
Penyembahan bagaikan dupa yang selalu kita persembahkan di mezbah yang akan tetap menjaga supaya api di mezbah itu tetap menyala!

Yesus mampu menjalani salib karena Dia punya passion kepada kita, karena kasihNya pada kita. Kasih itu yang membuat kita mampu bertahan dalam penderitaan. Biarlah Roh kudus menolong kita, membangkitkan dan memberi hati yang baru pada kita. (LL)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com