Sabtu Desember 20 , 2014

Kekudusan

Pdt. Simon Kostoro
Minggu, 6 November 2011

Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 1Tesalonika 4:7

Kekudusan bukan hal yang terlalu tinggi untuk dibicarakan karena kekudusan ialah tentang kehidupan sehari-hari dan inilah proses yang sedang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita, itulah sebabnya Alkitab menyebut kita sebagai orang-orang kudus.

Gereja/Ekklesia artinya dipanggil keluar. Jadi setiap anak Tuhan adalah orang-orang yang dipanggil keluar oleh Tuhan. Dipanggil keluar dari mana? Dari dunia, dari kegelapan, menuju kepada terangNya yang ajaib (1Pet. 2:9). Untuk apa Tuhan memanggil kita? Untuk menjalani suatu kehidupan yang kudus. Kehidupan kudus ialah suatu kehidupan yang indah, yang teratur, yang tidak acak-acakan.
Apa itu kekudusan?
Seringkali kita mengacaukan kata “suci”  dan “kudus.” Ada sedikit perbedaan antara “suci” dan “kudus.”

Suci: Taher (Ibr) ; Katharismos (Grk) - artinya: dibasuh, disucikan.
Ini adalah proses yang kita alami ketika kita bertobat dan percaya kepada Yesus. Dosa kita dibasuh oleh darah Yesus dan kita menjadi bersih, putih seperti salju (Yes. 1:18). Jadi ini semata-mata adalah karya salib Kristus.

Kudus: Qadash (Ibr) ; Hagiasmos (Grk) - artinya: dimurnikan, dikhususkan, dipisahkan dari semua yang cemar.
Ini adalah proses yang terjadi setelah kita percaya dan proses ini berjalan terus sampai kita disempurnakan. Kekudusan tidak cukup hanya karya Allah tetapi perlu kerja sama dari manusia. Kita juga “mau” dan “berusaha” untuk menjadi kudus.  

Mengapa kita perlu dikuduskan?
* Imamat 19:1
Ayat ini merupakan ayat kunci dari Kitab Imamat. Allah mau memiliki umat yang kudus, yang cara hidupnya terpisah, berbeda dari cara hidup bangsa-bangsa lain. Mengapa? Sebab Allah itu kudus! Dan pesan ini diulang oleh Tuhan Yesus di Mat. 5:48. Ternyata kehendak Allah dari dahulu sampai sekarang tidak berubah, yakni ingin memiliki umat yang kudus!

* Ibrani 12:14
Ayat ini berkata bahwa tanpa kekudusan kita tidak akan melihat Allah. Melihat saja tidak bisa apalagi masuk ke Kerajaan Allah.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kekudusan bukanlah suatu “pilihan” tetapi suatu “keharusan”.

Lalu dalam hal apa kita harus kudus?
* Cara hidup. 1Tes. 4:1-6; 2Tim. 2:22
* Cara penampilan. 1Pet. 3:3, 4
* Cara berbicara. Ep. 4:29, 5:4
* Cara bergaul. 1Tim. 5:1, 2; Ep. 4:31, 32
* Cara hidup berkeluarga. Ep. 5:22-23, 6:1-4
* Cara bekerja. Ep. 6:5-9
* Cara bertengkar. Ep. 4:29, 4:26
* Dan lain-lain

Dengan lain kata dalam segala segi kehidupan kita harus memiliki cara hidup yang terpisah (yang tidak sama) dari dunia. (2Kor. 6:17-7:1; Rom. 12:2)

Bagaimana untuk menjadi kudus?
Di atas telah disinggung bahwa untuk menjadi kudus perlu kerjasama antara Allah dengan manusia (2Tim. 2:20, 21). Waktu Tuhan Yesus di dunia, Ia menguduskan diriNya untuk murid-muridNya (Yoh. 17:19). Sebagai orang tua kita juga bertanggungjawab terhadap anak cucu kita sebab itu kita juga harus menguduskan diri agar kita menjadi menjadi benih/akar yang kudus (Rom. 11:16).

Lalu dengan apa Tuhan menguduskan kita?
1. Dengan DarahNya. Darah Yesus berkuasa menyucikan segala dosa kita. 1Yoh. 1:9
2. Dengan FirmanNya. Firman Tuhan adalah kebenaran yang dapat menguduskan kita. Yoh. 17:17
3. Roh Kudus (2Tes. 2:13). Pribadi yang dikirim Tuhan kepada kita, tinggal di dalam hati kita dan mengurapi kita lewat doa, pujian dan penyembahan.

Tuhan sedang menguduskan kita sebab itu biarlah kita juga mau memberi diri untuk dikuduskan agar kita dapat menjadi persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah karena itulah ibadah kita yang sejati (Rom. 12:1). (LL)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com