Senin May 21 , 2018

Kesaksian Pdt. Petrus - Pencipta Lagu-Lagu Campursari

Saya berasal dari keluarga dengan latar belakang yang tidak benar dan sangat jahat. Usia 13 tahun saya sudah diberi “aji” oleh Eyang yaitu aji kekebalan dan kekuatan karena dari sekian banyak anggota keluarga, saya dianggap yang paling kuat. Dari kehidupan yang tidak benar, maka ketidak benaran makin bertumbuh dalam hidup saya.  
Tahun 1985 saya ditangkap Kristus. Saat itu saya harus membayar resiko yang sangat besar, ada harga yang sangat mahal yang harus saya bayar karena untuk melepaskan ilmu, jimat, kekuatan yang sudah mendarah daging itu sangat sulit. Saya sudah tidak berhubungan dengan kuasa gelap tapi kuasa yang selama ini menjadi kekuatan saya itu selalu ada dalam hati saya. Inilah pergumulan saya dan yang menjadi duri dalam daging. Lalu Tuhan lepaskan dan dari situ saya menerima kepenuhan pengurapan dari Allah. Sejak itu Tuhan terus membawa saya untuk memberitakan Injil. Waktu itu saya belum sekolah Alkitab, tapi saya sudah membuka pos-pos penginjilan di daerah Kendal.  
Satu kali Tuhan membawa saya kepada seorang dukun yang terkenal di situ. Dia bisa menyembuhkan orang sakit tapi tidak bisa menyembuhkan istrinya yang lumpuh. Saat itu saya baru 3 bulan terima Tuhan Yesus, saya belum dewasa rohani, belum mengerti banyak. Roh kudus (yang saat itu saya belum mengerti, hanya saya merasakan sesuatu dalam diri saya) membawa saya untuk mendoakan istri dari dukun itu. Begini doa saya; “dalam nama Yesus katanya orang lumpuh berjalan.” Istri dukun itu bangkit dan berjalan di depan suaminya. Saat itu juga, dukun itu mau percaya Yesus dan setengah kampung itu juga menjadi percaya kepada Yesus.  
Lalu ada orang lain yang lumpuh bertahun-tahun. Dia dipikul beberapa orang dibawa ke gereja. Saat itu saya bersama beberapa janda mendoakan orang tersebut. Doa saya tetap sama, “dalam nama Yesus katanya orang lumpuh berjalan.” Orang itu pun sembuh, banyak orang mendengar ada orang lumpuh sembuh di gereja sehingga mulailah pemberitaan injil terbuka di tempat itu.  
Apakah tantangan berhenti? Tidak! Ada banyak tantangan yang terjadi. Suatu hari saat saya selesai memimpin persekutuan, pk. 10.00 malam saya pulang. Sampai di bawah pohon asam besar, saya dihadang 2 orang ketua geng, orang kuat desa Ngadipurwo yang membawa pedang. Mereka berkata kalau saya tetap memberitakan agama Kristen, mereka akan membunuh saya saat itu juga tapi jika saya mau membubarkan agama Kristen, saya selamat. Saat itu saya tidak bisa berkata apa-apa, hanya mengikuti gerakan Roh Kudus dan memberikan hidup saya, jika memang mau dibunuh karena memberitakan Kristen, saya rela dibunuh tetapi sebelum dibunuh, lihatlah saya. Ketika melihat saya, mereka langsung lari. Saya tidak tahu mengapa mereka lari karena saya pun ikut lari. Malam itu saya tidak bisa tidur karena Roh Kudus terus berkata kepada saya untuk menemui ke-2 orang itu. Paginya saya menemui mereka, yang 1 lari tetapi yang lain bertobat dan sampai saat ini ia menjadi majelis gereja.
Gereja yang kami buka dimulai dari mujizat kepada mujizat. Tuhan terus membawa saya dari hari ke hari sampai saya masuk sekolah Alkitab. Sampai hari ini, kami bisa membuat album-album campursari, kami membuat terobosan-terobosan dalam pelayanan karena kami percaya janji Bapa. Lewat pengurapanNya, Bapa ingin kita berdiri dan menjadi saksiNya, menyelamatkan jiwa-jiwa. (LL) 

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com