Kamis Oktober 23 , 2014

Cerita Rakyat Batu Menangis

Pada zaman dulu kala, seorang anak perempuan dan ibunya yang miskin tinggal di sebuah desa. Mereka hidup berdua dalam keadaan yang begitu sederhana. Sang ayah telah lama meninggal dunia. Meskipun begitu, sang ibu selalu berusaha untuk membahagiakan anak perempuannya itu.
Anak perempuan tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Sayangnya, perangai si gadis kurang begitu terpuji. Ia manja, keinginannya harus selalu dipenuhi tanpa peduli dengan keadaan ibunya. Ia juga enggan membantu pekerjaan sang ibu.


Suatu hari, sang gadis dan ibunya pergi ke pasar bersama ibunya. Letak pasar cukup jauh. Mereka berjalan kaki menuju pasar. Sang gadis berdandan sehingga penampilannya sangat menawan, sedangkan ibunya hanya mengenakan pakaian lusuh saja. Keadaan keduanya sangat bertolak belakang satu sama lain. Sepanjang jalan, banyak orang yang memperhatikan perbedaan ibu dan anak tersebut.


Saat memasuki pasar, semakin banyak orang yang berbisik-bisik mengomentari keduanya. Mereka sangat terpesona dengan kecantikan sang gadis, namun ada perempuan tua berpakaian lusuh di belakangnya. Beberapa orang menanyakan siapa perempuan tua di belakang sang gadis.


Gadis menjawab bahwa perempuan tua itu adalah pembantunya, bukan ibunya. Meskipun ada yang menduga perempuan tua itu ibunya, sang gadis selalu membantahnya.
Selalu begitu setiap orang bertanya, “dia bukan ibuku. Dia pembantuku.” Begitu kalimat yang kerap diucapkannya. Mendengar pernyataan itu, sang ibu merasa sedih sekali. Ia kemudian berdoa pada Tuhan agar memberi hukuman setimpal atas penghinaan anak gadisnya.

Atas kekuasaan Tuhan, tubuh sang gadis berubah menjadi batu. Dimulai dari kakinya, kemudian menjalar ke kaki.

Sang gadis menangis tersedu-sedu mohon ampun pada ibunya. Namun, tubuh sang gadis terus membatu sampai akhirnya seluruh tubuh gadis berubah menjadi batu. Anehnya meskipun telah berubah menjadi batu, air mata sang gadis tetap terlihat, sehingga menjadi batu yang menangis.

*****

Hikmah Cerita

Cerita rakyat batu menangis ini memberikan pesan moral kepada anak untuk menghormati ibu, bagaimana pun keadaan sang ibu.


Jika Anda membacakan cerita ini pada anak-anak Anda, diskusi mengenai perilaku sang gadis dapat Anda lakukan. Tanyakan pada anak Anda, apa yang seharusnya dilakukan sang gadis, agar ia tidak malu ketika pergi ke pasar bersama ibunya. Posisikan anak Anda sebagai sang gadis, juga karakter ibu, sehingga Anda dapat menstimulasi kemampuan problem solving dari anak-anak Anda. (LC/LL)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com