Jumat Oktober 19 , 2018

Hidup dan Mati Dikuasai Lidah

Pdt. Daniel Rudianto
Minggu, 2 September 2018

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. Amsal 18:21

Kita sering mendengar bahwa kehidupan orang Kristen berpusat pada perbuatan, di mana orang yang berbuat baik akan memiliki hidup yang baik. Namun tahukah Saudara bahwa Alkitab juga mengatakan bahwa hidup dan mati kita ini lebih ditentukan oleh lidah kita? Karena itu dapat disimpulkan bahwa jika seseorang perbuatannya baik, namun lidahnya jahat, maka ia dikategorikan sebagai orang yang jahat dan sedang memakan buah kejahatan lidahnya.
Kedatangan Tuhan yang kedua sudah tidak lama lagi. Sebagai gereja Tuhan mari persiapkan diri kita sebaik-baiknya, sebab yang Tuhan cari waktu kedatangan-Nya nanti adalah gereja yang sempurna. Yang dimaksud dengan sempurna di sini adalah pribadi-pribadi yang melakukan firman dengan sempurna, sehingga bisa mengendalikan bukan hanya perbuatannya, namun terlebih lidahnya. Ingat yang ditulis dalam Yak. 3, yang menjadi standar orang percaya adalah dapat mengendalikan lidahnya.
Dalam Mat. 12:33, 35-37 dijelaskan mengenai dosa menghujat Roh Kudus yang dimaksud dalam ayat 31-32. Di situ Yesus mengatakan bahwa setiap orang percaya akan dihakimi menurut perkataannya. Setiap kata-kata sia-sia seperti kata-kata yang sembrono, sembarangan, tidak berguna, asal diucapkan ataupun kosong, harus dipertanggungjawabkan saat kedatangan Tuhan kelak. Karena itu mari kita sangat berhati-hati dalam berkata-kata.
Ayat 33 berkata bahwa pohon itu dikenal dari buahnya. Maksudnya adalah setiap orang (pohon) dikenal atau dilihat dari perkataannya (buah). Kita bisa menilai seseorang itu baik atau jahat dari perkataannya. Jika seseorang perbuatannya baik, namun perkataannya jahat, maka sebenarnya ia adalah seseorang yang jahat. Kita mungkin berpikir bahwa kita boleh mengucapkan kata-kata jahat yang “benar”, namun Alkitab mengajar bahwa kata-kata seperti itu tidak boleh diucapkan meskipun benar, sebab kata-kata itu justru hanya akan menyakiti dan melemahkan orang lain, bukan malah membangun dan menyadarkan.
Menghujat Roh Kudus termasuk dalam dosa perkataan, dan dosa ini adalah dosa yang tidak akan diampuni. Apa yang dimaksud dengan menghujat Roh Kudus? Ayat 32 berkata; “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni…” Dosa ini telah dilakukan oleh orang Farisi saat itu ketika Yesus melakukan pekerjaan Tuhan, namun mereka mengatakannya sebagai pekerjaan Iblis. Karena itu kita harus berhati-hati dalam berkomentar dan menilai suatu pekerjaan Tuhan, sebab dapat berujung celaka bahkan kehilangan keselamatan bagi diri kita sendiri.
Dalam Yud. 14-20 terdapat catatan tentang nubuatan Henokh bahwa di akhir zaman ini akan muncul orang-orang yang suka mengeluarkan kata-kata jahat dalam gereja. Jadi di akhir zaman ini orang percaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu orang percaya yang suka berkata-kata dan yang kedua adalah orang percaya yang suka berdoa dan penuh Roh Kudus. Kerinduan Tuhan adalah kita masuk dalam golongan yang kedua. Apapun yang terjadi kita memilih untuk menutup mulut kita dan duduk di kaki Tuhan. Ini adalah tanda iman bahwa Tuhan berkuasa untuk mengubah segala keadaan menjadi indah bagi kita.
Perkataan sia-sia yang tidak boleh keluar dari mulut kita adalah:
1. Perkataan Marah
Orang yang sedang marah pasti perkataannya sembrono dan sia-sia, karena emosinya sedang tidak terkendali. Dalam Mat. 5:21-22 marah disamakan dengan membunuh, dan keduanya sama-sama dosa di hadapan Tuhan. Namun dalam perjalanan hidup kita memang tidak mungkin kita sama sekali tidak marah. Karena itu dalam Efe. 4:26 Alkitab mengajar bagaimana cara kita mengontrol kemarahan kita sehingga kita tidak berdosa di hadapan Tuhan, yaitu:
a. Apabila kita marah jangan berbuat dosa dengan mengeluarkan kata-kata sia-sia. Dalam situasi seperti ini kita justru harus mengunci rapat-rapat mulut kita (Mzm. 4:5).
b. Jangan marah sampai matahari terbenam, atau dengan kata lain jangan lama-lama memendam amarah kita. Jadilah seperti anak kecil yang cepat mengampuni dan melupakan. Dengan demikian kita tidak memberi kesempatan kepada Iblis untuk menghancurkan kehidupan kita.
Kita harus belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh Musa. Musa adalah seseorang yang luar biasa. Dia berhadapan muka dan berbicara sebagai sahabat dengan Allah. Namun Mzm. 106:32-33 menjelaskan bahwa ia tidak dapat masuk Kanaan karena ia salah bicara (teledor dengan kata-katanya) ketika ia marah di mata air Meriba (Bil. 20:2-13). Karena itu mari kita belajar mengendalikan amarah kita supaya tidak ada kata sia-sia yang keluar, yang berujung celaka bagi diri kita sendiri.

2. Memperkatakan Kelemahan Orang Lain
Memperkatakan kelemahan orang lain kelihatannya adalah sesuatu yang wajar, apalagi jika yang kita katakan adalah suatu fakta yang benar. Kita tidak merasa berdosa mengatakannya, namun sebenarnya hal itu adalah jahat di mata Tuhan. Kalau kita melihat dalam Ams. 10:12; 1 Kor. 13:7a; 1 Ptr. 4:8 kasih itu justru menutupi segala kesalahan dan pelanggaran seperti yang dilakukan oleh Yesus, bukannya malah membuka atau membeberkan apapun tujuannya, termasuk dengan tujuan “baik” yaitu supaya orang itu bertobat.
Dalam Bil. 12 ada sebuah contoh mengenai dosa yang dilakukan oleh Miryam dan Harun ketika mengatai Musa. Dalam ayat 1 dikatakan memang Musa melakukan kesalahan dengan mengambil perempuan Kush menjadi istrinya. Namun tindakan Miryam dan Harun itu dipandang jahat oleh Tuhan (ayat 2), sehingga akhirnya Tuhan menghukum mereka (ayat 6-10). Dari kisah ini kita belajar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Semua pasti memiliki kekurangan dan kelemahannya sendiri, termasuk diri kita. Karena itu tidak perlu mengata-ngatai orang lain terkait kelemahannya.

3. Perkataan Gosip
Gosip itu adalah kabar angin karena itu gosip selalu dimulai dengan “katanya…” atau “dengar-dengar…” Gosip memang ada kemungkinan benarnya, tapi sebagian besar adalah salah. Namun sekalipun benar, kita harus ingat kembali apa yang sudah kita bahas dalam poin kedua di atas. Kita pasti mengerti bahwa gosip itu sengaja atau tidak disengaja pasti sudah ditambah atau dikurangi dari fakta yang sebenarnya. Namun anehnya hampir semua orang menyukai gosip, padahal gosip ibaratnya adalah kanker yang harus dihindari agar tidak menjalar (1 Tim. 5:13, 15; 2 Tim. 2 :16-17). Karena itu ingatlah bahwa gosip sampai ke telinga kita hanya untuk didoakan, bukan diteruskan!

Kita sudah mengiring dan melayani Tuhan sekian lamanya. Jangan sampai kita justru kehilangan keselamatan kita hanya karena mengeluarkan perkataan yang sia-sia, seperti perkataan marah, memperkatakan kelemahan orang lain, dan perkataan gosip. Biarlah buah perkataan manis senantiasa keluar dari mulut kita, sehingga kita dapat menikmati berkat-berkat Tuhan yang melimpah. Tuhan Yesus memberkati! (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

GPdI Lembah Dieng


Jalan Lembah Dieng H1

Malang, Jawa Timur

Indonesia

phone : 0341-551692

fax : 0341-559435