Senin September 24 , 2018

Dia Di Sorga...Saya Di Bumi

Pdt.Soerono Tan
Sabtu, 11 Agustus 2018

Panggilan tertinggi orang percaya adalah mengenal pribadi Allah dengan benar. Bisa jadi ada orang-orang yang menyebut dirinya Kristen, beribadah di gereja, tetapi sebenarnya sedang menyembah yang lain yaitu mamon, sukses, atau mujizat. Karena itu kita perlu belajar siapa Allah yang sesungguhnya.

Yesaya 46:9 “Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku”

Ayat ini adalah ayat deklaratif, tanpa perlu ditafsirkan lagi kita sudah memahami apa yang dimaksudkan oleh ayat ini. Sangat jelas beritanya bahwa Tuhan itu unik, unik dalam arti tiada duanya, Dia satu-satunya Allah. Kalau kita membandingkan barang palsu dengan barang asli, maka barang yang asli akan terlihat lebih bersinar/lebih indah. Begitu juga seperti nabi Yesaya yang mendeklarasikan bahwa tidak ada Allah lain, Dia satu-satunya Allah. Maka nabi Yesaya juga menyandingkan/ membandingkan dengan berhala sesembahan bangsa Babel.

Yesaya 46:1-2,6-7
Di ayat 1 kita melihat bahwa ada 2 nama dewa Babel yaitu dewa Bel dan dewa Nebo. Dalam jajaran dewa-dewi Babel, dewa Bel dan Nebo adalah sesembahan paling utama. Setiap tahunnya, 2 ilah ini ditempatkan paling depan dalam sebuah upacara/ibadah dengan pesta yang sangat meriah. Tetapi Yesaya menunjukkan dengan jelas kualitas dewa Bel dan Nebo yaitu “dia diangkut”, “dia dimuatkan”, “dia tidak dapat menyelamatkan”, “keberadaannya bergantung kepada manusia”. Dan nabi Yesaya menubuatkan bahwa Babel akan ditundukkan oleh Media Persia. Dan saat kaum Babel ditundukkan ilah-ilah mereka ini juga diangkut dan ditawan. Kalau demikian, kesimpulannya adalah ilah-ilah/ berhala-berhala itu TIDAK BERDAYA DAN MENJADI BEBAN. Itulah karakteristik dari berhala-berhala sesembahan manusia, yang diantaranya bernama Bel dan Nebo. Mari kita catat kebenaran ini, kalau kita menyembah sesuatu yang bukan Allah itu malah akan membebani kita.
Sekarang mari kita bandingkan ilah-ilah kaum Babel dengan Allah orang Israel.

Yesaya 46:3-4
Pada ayat 3 dan 4 ini Yesaya memaparkan bahwa Allah Israel tidak menjadi beban tetapi “Dia mendukung”, “Dia menjujung”, “Dia menggendong”, “Dia menanggung”, “Dia memikul”, “Dia menyelamatkan”. Allah kita bukan menjadi beban, tetapi melepaskan beban-beban kita. Kemudian di ayat 10-11 Yesaya menambahkan karakteristik Allah Israel, hal ini juga adalah syarat yang harus dimiliki Allah yang sesungguhnya. Dia tahu secara detail apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Bukan karena Allah meramal, tetapi karena Allah merencanakan lebih dahulu karena Ia punya hikmat dan kuasa, maka apa yang Dia rencanakan itu akhirnya pasti jadi.
Di sinilah berbicara mengenai kedaulatan Allah.  Allah yang berdaulat berarti: Allah mempunyai otoritas, kebebasan, hikmat, dan kuasa untuk mewujudkan segala sesuatu yang Ia kehendaki untuk terjadi.
Allah adalah otoritas tertinggi, Dia bebas dan tidak ada yang bisa mendikte, Dia punya hikmat dan kuasa untuk mewujudkkan segala sesuatu yang direncanakanNya.

Implikasi kedaulatan Allah dalam kehidupan kita:
1. Allah berhak berhubungan dengan saya dengan cara-cara yang Ia pilih.
Ia tak harus memperlakukan saya seperti Ia memperlakukan orang lain. Allah yang menciptakan kita tahu dengan benar siapa kita luar dalam. Maka dari itu tidak heran Allah memperlakukan masing-masing kita dengan cara yang berbeda.
2. Allah tidak harus memperlakukan saya seperti Ia memperlakukan saya hari kemarin.
Banyak kali kita mengharapkan Tuhan memberkati kita hari ini dan sampai seterusnya. Tetapi bisa saja terjadi kita semakin jauh dari Tuhan bila kita terus menerus dalam keadaan diberkati. Oleh karena itu seringkali Tuhan ijinkan kita kekurangan. Kunci agar kita selalu berkecukupan adalah selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Mari belajar menyesuaikan dengan Tuhan. Tuhan melatih kita sepaya menjadi kokoh di dalam Dia.

3. Allah menjawab doa-doa saya sesuai dengan kehendak-Nya.
Artinya, Tuhan tidak harus memenuhi semua keinginan kita. Posisi kita adalah sebagai hamba dan Tuhan adalah tuan. Karena Ia berdaulat sebaiknya dalam doa kita katakan “Bukan kehendakku yang jadi, tetapi Biarlah Kehendak-Mu yang jadi”.  

Sikap kita terhadap kedaulatan Allah bukanlah menolak dan marah, melainkan kita tunduk dan memuji Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

GPdI Lembah Dieng


Jalan Lembah Dieng H1

Malang, Jawa Timur

Indonesia

phone : 0341-551692

fax : 0341-559435