Jumat Oktober 19 , 2018

Making Impossible Into Possible

Pdt. Feri Andrias
Minggu, 29 Juli 2018

Bacaan: Hak. 11:1-11, 29, 32-33

Semua manusia, termasuk orang percaya dan hamba-hamba Tuhan, pasti menghadapi masalah dan pergumulannya. Dan karena menghadapi pergumulan yang berat itu, tidak jarang terbersit dalam hati kita; “Apakah mungkin ada jalan keluar dari masalah ini?” atau “Apakah mungkin ada akhir yang baik dari pergumulan ini?” Bahkan mungkin ada beberapa orang yang memiliki pergumulan yang khusus karena memiliki latar belakang dan masa lalu yang sangat buruk dan bertanya-tanya: “Apakah mungkin ada masa depan yang indah bagi saya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu juga pernah muncul dalam diri seorang tokoh bernama Yefta. Yefta adalah hakim kedelapan Israel yang tinggal di Gilead, daerah yang berbatasan dengan daerah bani Amon. Yefta adalah seorang tokoh yang kontroversial pada zaman itu, sebab ia adalah anak dari perempuan sundal yang akhirnya diusir oleh saudara-saudara tirinya. Meskipun ia adalah anak sulung tapi karena lahir dari perempuan sundal, maka sejak lahir ia sudah kehilangan hak kesulungannya (dua bagian warisan) dan status sosialnya. Ia akhirnya tinggal di tanah Tob (sebelah utara Gilead) dan memimpin sekelompok petualang.
Ketika para tua-tua Israel datang kepadanya untuk menyelamatkan mereka dari tangan bani Amon, saat itu kerohanian bangsa Isarel sangat buruk sebab mereka telah jatuh ke dalam berbagai penyembahan berhala (Hak. 6; 10:11-12). Tuhan memang menyerahkan Israel ke tangan Amon karena murka melihat ketidaksetiaan Israel. Menghadapi permohonan dari tua-tua itu tentu Yefta mengalami pertentangan dalam batinnya. Ini sebenarnya adalah sebuah kesempatan untuk membalas dendam dan melihat kehancuran keluarga yang telah menyakitinya. Tapi ia justru diperhadapkan pada pilihan apakah ia mau menolong mereka.
Selain pertentangan dalam batinnya ia juga masih menghadapi pergumulan yang kedua, yaitu melawan bani Amon yang saat itu begitu kuat dan superior. Apakah mungkin Gilead dan kota Mizpa dapat diselamatkan oleh dirinya yang bukan siapa-aiapa? Ia menghadapi pertentangan yang hebat di dalam dirinya karena harus menolong orang yang pernah mengusirnya, serta menghadapi pergumulan yang berat karena harus melawan bani Amon. Seolah-olah ada tembok kemustahilan yang menghadang di hadapannya. Tapi seperti arti namanya, “Tuhan membuka”, ternyata Tuhan membuka jalan yang baru bagi Yefta. Tuhan ubah kemustahilan itu menjadi mungkin dan nyata! Apakah kuncinya?

1. Meningkatkan kualitas kerohanian (Hak. 11:11)
Ketika menghadapi pergumulan yang berat terkadang seseorang memilih untuk meninggalkan Tuhan dan lari kepada manusia atau roh-roh (peramal, dukun, paranormal, dan lain sebagainya) untuk meminta pertolongan. Itu adalah tindakan yang keliru sebab di luar Tuhan tidak ada jawaban. Kita justru harus makin mendekat kepada Tuhan dan meningkatkan kerohanian kita. Dalam pergumulannya Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan Tuhan. Akhirnya ia mampu menghadapi segala kemustahilan yang dialaminya.
Saat menghadapi masalah datanglah kepada Tuhan melalui doa kita. Doa itulah yang akan mengubah segalanya, termasuk menjadikan yang mustahil menjadi nyata. Dengan berdoa kita akan menjadi pribadi yang lebih peka akan suara dan kehendak Tuhan. Doalah yang akan mengalirkan pengampunan dari dalam hati kita. Dan doa itulah yang akan mendatangkan iman dan pikiran postif sehingga kita selalu mampu mengucap syukur.
Paulus dalam Flp. 4:8 berkata: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Dengan doa kita akan mampu memikirkan yang baik dan memiliki respon yang benar terhadap masalah. Respon yang benar adalah tidak lagi berfokus pada masalah kita atau pada si penyebab masalah, melainkan pada Allah yang besar. Respon yang benar inilah yang akan mendatangkan perkara yang besar dalam kehidupan kita.

2. Meningkatkan kapasitas diri (Hak. 11:29, 32-33)
Ketika lari ke tanah Tob, Yefta menjadi pemimpin dari orang-orang yang sakit hati, dan mereka menjadi para perampok. Namun tidak tercatat adanya tindakan negatif dari aksinya. Mengapa? Karena ia merampok untuk kepentingan orang-orang miskin yang ada di daerah itu. Reputasi inilah yang membuat para tua-tua datang meminta pertolongannya, meskipun latar belakang keluarganya tidak baik dan meskipun ia tidak memiliki pengalaman berperang. Dengan bersandar pada Roh Kudus ia dengan berani maju dari satu peperangan ke peperangan yang lain dan beroleh kemenangan.
Banyak orang yang ingin mengalami hal yang besar, namun ia tidak mau meningkatkan kapasitas dirinya. Ia tidak menyiapkan dirinya untuk menerima jawaban doanya, bahkan ia juga membatasi dirinya dengan hanya bersikap pasrah. Kita jangan berhenti pada peningkatan kualitas rohani, tapi kita juga harus bergerak maju dan berusaha untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Di dalam doa dan usaha itulah Roh Allah baru akan bekerja secara luar biasa dalam kehidupan kita.

Ada sebuah kata mutiara yang berbunyi: “God does not create lock without its key. God does not give you problems without its solutions” (Tuhan tidak menciptakan gembok tanpa kuncinya. Tuhan selalu menyediakan jawaban atas masalah kita). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat terselesaikan, sebab tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Mari tingkatkan kualitas kerohanian kita dan perbesar kapasitas diri kita agar Roh Kudus dapat bekerja secara luar biasa dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

GPdI Lembah Dieng


Jalan Lembah Dieng H1

Malang, Jawa Timur

Indonesia

phone : 0341-551692

fax : 0341-559435