Minggu Oktober 21 , 2018

Mengerti Hati Bapa

Pdp. David Sugandi
Sabtu, 28 Juli 2018

Salah satu cara agar kita bisa saling mengerti adalah saling berkomunikasi. Namun demikian sering terjadi salah mengerti walaupun sudah saling berkomunikasi. Misalnya antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, antara seorang atasan dengan bawahan, antara sahabat dengan sahabat. Arti kata mengerti adalah menangkap apa yang dimaksud. Maka dari itu, kita salah mengerti karena gagal menerima informasi yang dimaksudkan. Kita mau belajar bukan hanya mengerti hati sesama kita, tetapi kita juga mau mengerti hati Tuhan.

Lukas 15:11-32
Ada seorang ayah yang memiliki 2 orang anak. Yang bungsu meminta warisan kepada ayahnya, dan menjual seluruh warisannya lalu menghabiskannya dengan hidup berfoya-foya. Berfoya-foya disini adalah hidup yang liar, tidak teratur, dan seenaknya sendiri. Kemudian anak bungsu ini jatuh miskin bahkan sangat miskin. Dan akhirnya dia bekerja sebagai penjaga babi. Penjaga babi adalah pekerjaan paling rendah dan tidak diinginkan orang pada saat itu.
Dalam ayat 17 dikatakan “ lalu ia menyadari keadaannya…” Setiap manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi yang terpenting adalah sadarkah kita akan kesalahan kita. Anak bungsu ini juga ingat bahwa di rumah bapanya melimpah segala hal. Anak bungsu ini mengerti hati bapanya, tetapi tidak sepenuhnya, karena dalam ayat 19 dituliskan bahwa ia masih merasa tidak layak untuk kembali menjadi anak.
Dalam ayat 20 kita melihat respon bapanya yang sangat tidak diduga oleh anak bungsu itu. Bapanya berlari, memeluk dan mencium anak bungsu ini. Yoh. 3:16, bagi Tuhan keselamatan manusia adalah hal yang utama.
Kemudian di ayat 22 bapanya bekata kepada hamba-hambanya “lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya”. Jubah berbicara soal perbedaan dia dengan hamba-hamba bapanya. Cincin berbicara tentang otoritas. Sepatu berbicara sebagai anak, karena pada saat itu hamba tidak memakai alas kaki.
Bagi Tuhan pertobatan itu sangat penting. Luk. 5:31-32 dikatakan bahwa Tuhan Yesus datang bukan untuk orang benar, tetapi untuk orang berdosa. Fokus utama Bapa di surga adalah keselamatan. Asal kita mau sadar dan kembali bertobat.  1Yoh. 1:9 “jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyuckan kita dari seala kejahatan. Dalam 1Yoh. 2:1 juga dituliskan “… jangan berbuat dosa, namun jika seseorang berbuat dosa , kita mempunyai seorang perantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil”.
Sering kali kita masih melakukan dosa, merasa tidak layak tetapi Firman Tuhan mengatakan Bapa setia dan adil akan mengampuni dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita. Apakah kita sudah mengerti betapa besarnya Kasih Bapa untuk kita?

Bagaimanakah respon anak sulung? Ayat 28-30
Dari ayat-ayat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa anak sulung ini tidak mengerti hati bapa. Untuk mengerti hati Bapa itu tidak mudah. Agar kita bisa mengerti kita juga harus berbicara dengan hati. Seringkali saat kita berkomunikasi dengan sesama itu hanya menggunakan pikiran.
Mat.. 13:15 mengatakan “supaya mereka jangan mengerti dengan hatinya…” Jadi untuk mengerti dibutuhkan dengan hati. Oleh karena itu kita harus mempunyai hati yang baik. Jangan seperti anak sulung yang tidak terima terhadap kembalinya anak bungsu karena iri hati & merasa adiknya tidak pantas menerima kebaikan dan pengampunan bapanya. Kisah 12 pengintai, hanya 2 pengintai yang membawa kabar baik, 10 pengintai lainnya membawa kabar busuk sehingga hati bangsa itu melemah.
Hati yang baik akan membawa kepada pengertian yang baik dalam kehidupan kita. Dalam Firman Tuhan hati digambarkan seperti tanah yang ditaburi benih. Dari 4 macam tanah, hanya satu yang bisa sampai berbuah-buah. Tanah hati tidak bisa sekonyong-konyong menjadi baik. Tanah hati yang baik harus dipersiapkan, harus dibajak, dibersihkan dari rumput liar, bahkan menyediakan air. Begitu juga dengan kita, harus menyiapkan hati kita agar mengerti hati Bapa.

Bagaimana mempersiapkan hati kita?
1. Memiliki persekutuan dengan Tuhan. Memiliki persekutuan dengan Tuhan bukan hanya saat ibadah di gereja. Yang dikehendaki Allah adalah persekutuan dalam kehidupan sehari-hari, seperti doa pribadi di rumah. Berdoa perlu meluangkan waktu.
2. Memiliki persekutuan dengan Firman Tuhan. Kita juga perlu meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan Fiman Tuhan.
3. Memiliki persekutuan dengan Roh Kudus. Sepanjang kehidupan kita harus meyertakan pimpinan Roh Kudus.

Mari kita berusaha memiliki hati yang baik supaya dapat mengerti Hati Bapa. Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

GPdI Lembah Dieng


Jalan Lembah Dieng H1

Malang, Jawa Timur

Indonesia

phone : 0341-551692

fax : 0341-559435