Selasa Agustus 21 , 2018

Kasih Yang Mula-Mula

Pdt. Misnan - Korea
Sabtu, 21 Juli 2018

Bacaan: Wahyu 2:1-7

Pada ayat yang ke 5, Tuhan Yesus memberi suatu teguran keras kepada Jemaat Efesus, “Ingatlah betapa dalamnya kamu telah jatuh!”. Jemaat Efesus jatuh bukan karena dosa-dosa atau kesalahan, bukan karena mereka suam-suam kuku, bukan karena suka berpesta pora, bukan karena mereka jemaat yang lemah imannya. Justru Jemaat Efesus ini ditegur saat dalam keadaan giat-giatnya melayani pekerjaan Tuhan. Bahkan dikatakan mereka punya tiang-tiang doktrin yang kuat, sehingga mampu membedakan ajaran sesat (Ayat 2 & 6). Jemaat Efesus juga masih mengajarkan ajaran Tuhan Yesus dan tidak mengenal lelah memberitakan tentang Yesus (Ayat 3).
Tetapi dalam ayat 4 dikatakan “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau meninggalkan kasihmu yang semula”. Kata “Kasih” dalam bahasa aslinya ditulis “Agape” yang berarti Kasih yang tak terbatas. Kasih ini diberikan Allah ketika kita lahir baru/ bertobat. Kasih ini bisa dirasakan oleh Tuhan. Kasih yang semula ini harus menjadi standart hidup orang percaya. Sehebat apapun pekerjaan yang sudah dilakukan Jemaat Efesus, itu tidak berarti dihadapan Tuhan saat mereka sudah tidak memiliki kasih yang semula.
Mengapa “kasih yang mula-mula” itu menjadi sebuah ukuran atau standart orang percaya?

Ada 2 alasan:
1. Ketika seseorang sudah tidak lagi mempunyai “kasih yang mula-mula”, maka orang itu tidak lagi menempatkan Allah sebagai pusat penyembahan dan fokus pelayanannya.
Inilah yang dialami oleh Jemaat Efesus. Jemaat yang diberkati bukan hanya hal jasmani, tetapi juga hal-hal rohani. Karena Jemaat Efesus ini pernah diajar oleh Paulus, Apolos, Priskila, Akwila dan pengajar-pengajar yang luar biasa lainnya. Mereka menikmati kasih karunia yang luar biasa.
Tetapi setelah 40 tahun kemudian mereka kehilangan kasih yang semula. Jadi, sebenarnya mereka sedang melayani diri mereka sendiri. Secara teknis memang mereka memberikan yang terbaik untuk Tuhan, tetapi sebenarnya mereka menyembah atau melayani diri mereka sendiri.
Jemaat Efesus, mereka bisa dikatakan mengalami sebuah krisis rohani yang disebabkan karena telah meninggalkan kasih yang semula. Fokus hidup mereka bukan lagi kepada Allah,  fokusnya hanya kepada dirinya dan kepada kelompoknya.
Dalam Kel. 20:2-5 Allah menginginkan umat tebusanNya sujud beribadah kepada-Nya. Bagi Allah tidak ada yang lebih indah ketika Allah disembah oleh Umat-Nya.Ketika Bangsa Israel mendua hati, menyembah kepada Baal, mereka selalu mendapat hukuman. Dalam Matius 22:37 Yesus berkata “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Seringkali kita sudah merasa cukup dengan persembahan-persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, kita merasa cukup dengan melayani pekerjaan Tuhan. Tetapi yang Tuhan mau adalah hati yang bisa dirasakan oleh hati Tuhan. Yang Tuhan inginkan adalah kasih yang mula-mula.

2. Seseorang yang tidak lagi memiliki “kasih yang mula-mula”, tidak lagi mempunyai kepekaan untuk mendengar teguran.
Di dalam Wahyu 2:1 dikatakan “Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus… “. Kata “malaikat jemaat” menunjuk kepada seseorang yang ditunjuk oleh Allah untuk menyampaikan Firman Allah. Bisa saja Rasul, Pengajar, Penginjil, Nabi, atau Gembala di Jemaat Efesus. Di dalam ayat 2-3, Tuhan Yesus memuji jemaat Efesus. Tuhan memuji jemaat Efesus karena mereka tetap kokoh meskipun dalam keadaan minoritas. Mereka hidup ditengah-tengah penyembah dewi Artemis, dan mereka dibawah kekuasaan Kaisar Roma Domitianus yang begitu ingin dipuja dan disembah. Tetapi mereka tetap pada pendirian untuk ikut jalan Kristus.
Di tengah tekanan itu Tuhan Yesus juga berfirman “Aku mencela engkau”. Kata mencela ini juga bisa diartikan menentang. Di satu sisi mereka melakukan pelayanan yang luar biasa tapi dalam satu sisi Allah melawan jemaat Efesus. Mengapa? Karena mereka meninggalkan kasih yang mula-mula.  Dalam ayat 5 dikatakan “jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya.. “. Kaki dian adalah penerang Ruang Kudus dalam Kemah Suci. Kaki dian juga menjadi simbol gereja mula-mula, dimana gereja dibangun oleh Kristus untuk menerangi dunia ini. Supaya mereka memberitakan Injil dan menjadi saksi-saksi. Gereja memiliki suatu tugas yaitu memberitakan Injil Kerajaan Sorga, dan semua itu harus didasari oleh kasih yang mula-mula.
Mari melihat diri kita masing-masing, apakah “kasih yang semula” itu masih ada di dalam kehidupan kita?

Kesimpulan:
Sehebat apapun kita melayani Tuhan kalau kita tidak memiliki kasih yang semula ,maka semuanya tidak berguna. Saat kita memiliki kasih mula-mula itu  maka kita akan mengerti isi hati Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com