Selasa Agustus 21 , 2018

Hidup Berkenan Kepada Allah

Pdt.Nelson Tarigan - Singkawang
Sabtu, 14 Juli 2018

Bacaan: 1 Yohanes 5:1-5

Kekristenan bukanlah sekedar taat melakukan kesepuluh perintah Allah, namun lebih jauh berkaitan dengan hidup yang dipagari oleh kehendak Allah. Dengan jalan demikian barulah hidup kita ini akan berkenan kepada Allah. Kita bisa belajar dari kehidupan bangsa Israel ketika berada di padang gurun. Mereka hanya berusaha melakukan kesepuluh perintah Allah, namun tidak mengejar hidup dalam kehendak Allah. Akhirnya dari sekian juta bangsa Israel, hanya dua orang, yaitu Yosua dan Kaleb, yang boleh masuk ke tanah Kanaan. Jadi apabila kita hanya fokus pada hukum Allah, maka kita dapat menjadi gagal untuk sampai kepada tujuan iman kita.
Mat. 7:21 berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Mengiring Tuhan bukanlah perkara yang mudah, namun kita harus selalu ingat bahwa kita ini adalah pribadi-pribadi yang lahir dari Allah (1 Yoh. 5:1), sehingga memiliki otoritas dan fasilitas dari Allah. Dalam diri orang percaya ada dua macam benih, yaitu benih natural dan benih ilahi atau supranatural. Benih natural adalah benih yang diwarisi dari orang tua, yaitu hukum dosa, yang menarik manusia untuk melakukan dosa (Rm. 7:18-20). Sebaliknya, benih ilahi memungkinkan kita untuk melakukan kehendak Allah.
Di dalam tubuh yang natural tidak mungkin seseorang dapat melakukan kehendak Allah, sekuat apapun usaha yang dilakukannya. Akan ada satu titik di mana tubuh yang natural ingin mementingkan diri sendiri dan kedagingannya. Dengan tubuh yang natural kita tidak akan dapat menjadi pewaris Kerajaan Allah. Namun dengan menjadi anak Allah kita memiliki dan dapat menikmati otoritas dan fasilitas dari Allah Yang Mahakuasa, yang menciptakan dunia ini dan segala isinya. Otoritas dan fasilitas yang dimaksud tidak lain adalah iman yang mengalahkan dunia dan menjadikan kita sebagai pemenang di dalam segala perkara (1 Yoh. 5:4).
Yang menjadi persoalan adalah apakah kita sudah mengalami hidup yang berkemenangan ini? Jika belum, maka jangan menyalahkan Tuhan, sebab otoritas dan fasilitas itu sudah diberikan oleh Tuhan ketika kita menjadi percaya. Masalahnya ada di diri kita sendiri. Karena itu kita perlu mengoreksi kehidupan kita, apakah ada hal-hal yang masih belum berkenan kepada Tuhan. Bila semua itu sudah dibereskan, maka secara otomatis kemenangan akan menjadi bagian kita. Kita akan menjadi seperti rajawali yang naik terbang mengatasi segala badai kehidupan dengan kekuatan baru yang Tuhan berikan.
Untuk itu kita akan melihat tiga hal yang menjadi kunci agar kita dapat berkenan kepada Allah. Kita akan belajar dari pengalaman bangsa Israel ketika Elia mengalahkan para nabi Baal di gunung Karmel dalam 1 Raj. 18. Ketiga hal tersebut adalah:
1. Doa yang berfokus pada kemuliaan Tuhan
Inilah doa Elia ketika ia memohon agar Tuhan mendengar doanya, “Jawablah aku, ya Tuhan, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya Tuhan, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.” (ayat 37). Tujuan doa Elia bukanlah untuk kepentingan dan kemashyurannya, melainkan agar ketika doa itu terjawab, bangsa Israel dapat mengetahui siapakah Allah sehingga hati mereka kembali kepada Tuhan (ayat 39). Doa seperti inilah yang membuka pintu kemurahan Tuhan dan mendatangkan mujizat. Dan ketika jawaban doa itu nyata, sadarilah bahwa semua itu terjadi hanya oleh kemurahan Tuhan semata.
Waktu kita menghadapi masalah jangan meninggalkan Tuhan, sebab di luar Tuhan hanya ada kemiskinan, penderitaan, bahkan kematian. Teruslah berdoa dengan tekun, sebab Tuhan mampu melakukan hal-hal yang bagi kita mustahil. Tuhan menjawab doa dengan berbagai cara, kadang jawaban itu langsung kita terima seperti yang dialami oleh Elia waktu melawan para nabi Baal (ayat 38). Namun terkadang jawaban itu tidak seketika datang, seperti ketika Elia berdoa memohon hujan turun (ayat 42-45). Ada proses yang mungkin harus kita lewati, namun percayalah bahwa Tuhan pasti menjawab doa yang benar.

2. Memiliki roh penundukan diri
Dalam ayat 30a Elia berkata kepada seluruh rakyat sebelum ia mempersembahkan korban: “Datanglah dekat kepadaku!” Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Seluruh rakyat itu mau taat dan dengar-dengaran kepada Elia, padahal tadinya Elia tidak dianggap sebagai nabi oleh mereka. Mereka yang tadinya memberontak, sekarang menundukkan diri kepada Elia sebagai utusan Allah. Kita juga harus memiliki roh penundukan diri, bukan saja kepada Tuhan, tapi juga kepada otoritas yang Tuhan percayakan ada di atas kita. Otoritas tersebut bagaikan lokomotif yang akan membawa kita sampai ke tujuan. Di dalam roh pemberontakan tidak ada kedamaian, namun di dalam roh penundukan diri ada mujizat!

3. Memperbaiki mezbah Tuhan
Setelah rakyat mendekat, Elia memperbaiki mezbah Tuhan yang telah diruntuhkan (ayat 30b). Ketika Abraham dipanggil Tuhan untuk keluar dari rumahnya, hal pertama yang dilakukannya adalah membangun mezbah (Kej. 12:7). Ketika ia akan mempersembahkan Ishak, ia juga membangun mezbah bagi Tuhan (Kej. 22:9). Mezbah adalah dasar bagi kita untuk membawa persembahan bagi Tuhan. Bagaimana mungkin kita mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan kalau mezbah itu rusak? Mezbah berbicara tentang hati kita. Bila hati kita rusak, maka persembahan apapun yang kita berikan tidak akan berkenan di hati Tuhan.
Hati adalah satu-satunya ukuran Tuhan dalam menilai kita. Tuhan melihat hati kita, bukan rupa atau kemampuan kita (1 Sam. 16:7). Karena itu hati selalu menjadi sasaran utama Iblis untuk dirusak dan dihancurkan, sebab bila hati sudah rusak maka segala aspek dalam kehidupan orang tersebut juga pasti rusak (rumah tangga, pekerjaan, pelayanan, dan lain sebagainya). Karena itu jagalah hati kita dengan segala kewaspadaan (Ams. 4:23). Selain itu lakukanlah segala sesuatu dengan segenap hati kita seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23).

Kita tentu rindu menikmati hidup yang berkemenangan. Itu adalah otoritas dan fasilitas yang Tuihan berikan ketika kita percaya. Namun semuanya itu tidak akan kita nikmati kalau hidup kita tidak berkenan kepada Tuhan. Karena itu berdoalah dengan tekun, milikilah roh penundukan diri, dan bangunlah mezbah hati kita. Percayalah kita pasti akan diberkati dan menjadi berkat! Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com