Selasa Agustus 21 , 2018

Perumpamaan Tentang Hamba Yang Setia dan Hamba Yang Jahat

Pdm. Ganda Purba
Minggu, 8 Juli 2018

Bacaan: Matius 24:45-51

Ayat-ayat ini merupakan bagian tentang sikap berjaga-jaga dalam menyongsong hari  kedatangan Tuhan. Menjalani hidup tanpa kesiagaan atau persiapan, berarti kita sedang mempersiapkan kehidupan kita untuk masuk ke dalam suatu bencana yang sangat besar. Pemikiran yang paling berbahaya a dalah pemikiran bahwa masih banyak waktu, besok, atau nanti, sehingga kita lalai dalam mempersiapkan diri.
Melalui teks ini, dalam pandangan Allah manusia itu hanya terdiri atas dua kelompok yaitu “hamba yang setia” atau “hamba yang jahat, dan konsekuensi dari pilihan itu adalah sorga atau neraka. Tidak ada perbedaan antara pelayan dan bukan pelayan, antara pendeta ataupun jemaat biasa.
Jadi, untuk mempersiapkan diri kita menjelang hari kedatangan Tuhan, yang harus kita lakukan adalah menempatkan posisi kita sebagai hamba dari Tuhan.

Apa yang dimaksud menjadi seorang hamba?
Setiap kita yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat, maka kita semua adalah hamba-hamba Allah.
Roma 6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
1. Seorang yang tidak memiliki hak atas dirinya. Seorang hamba tidak punya wewenang lagi atas dirinya sebab ia telah dibeli oleh pemiliknya. Hidupnya bukan miliknya lagi. Demikian juga dengan kita telah ditebus oleh Tuhan sehingga segenap kehidupan kita adalah milik Allah, dan Dia mau hidup kita memuliakan namaNya (1Kor 6:20). Seorang hamba harus rela menyangkal diri demi kehendak tuannya.

2. Seorang yang bekerja atau melayani (pekerja/pelayan). Tidak ada hamba yang menganggur, semua hamba punya tugas atau pekerjaan yang diberikan atau dipercayakan tuannya kepadanya. Semua anak Tuhan adalah “hamba”, jadi kita harus bekerja dan melayani Tuhan sesuai dengan kapasitas dan panggilan kita masing-masing.

3. Seorang yang mau atau bisa diatur (tunduk pada otoritas). Tidak ada hamba yang memilih, mengatur, dan menentukan jenis pekerjaan sesuai keinginannya. Tuhan mendelegasikan berbagai otoritas di atas kita yang harus kita taati. Semua hamba tahu bahwa ia diatur dan tunduk pada perintah majikannya. Kita harus mengerjakan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan kita.

4. Seorang yang punya majikan atau pemimpin. Tidak ada hamba yang berdiri sendiri, semuanya memiliki majikan atau pemimpin. Demikian juga dalam Firman Allah, pelayanan tanpa penaklukan diri pada otoritas kepemimpinan (penggembalaan) adalah melayani diri sendiri. Orang yang tidak mau berada di bawah kepemimpinan, melanggar Firman. Sebab Allah mengangkat pemimpin dalam gereja-Nya dan memerintahkan umat-Nya untuk tunduk dan menghormati pemimpinnya.

5. Melakukan pekerjaan tepat seperti yang diperintahkan oleh tuannya.

6. Kebanggaan dan kemuliaan seorang hamba adalah ketika dia mendapatkan pujian dan penghargaan dari tuannya melalui apa yang telah dikerjakannya.

3 karakter hamba yang mempersiapkan kita pada hari kedatangan Tuhan:
1)  Setia (ay. 45)
Amsal 20:6 Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah (dimanakah) menemukannya?
Setia dalam Firman Tuhan berarti tetap dan teguh hati, taat, seorang yang bisa dipercaya, seorang yang dapat memegang janji, yang bertahan sampai akhir. Setia berkaitan erat dengan iman. Itu sebabnya seorang yang setia adalah seorang yang penuh iman. Pada saat kedatangan Tuhan kembali, Ia mencari orang-orang yang setia (Lukas 18:8).
Lukas 18:8  Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

2) Bijaksana
Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk melihat hidup dari sudut pandang Tuhan dan kemudian mengetahui tindakan terbaik untuk dilakukan.  Dalam Alkitab, orang yang bijaksana disebut juga sebagai orang yang berhikmat. Hikmat sejati adalah kemampuan akal budi untuk memikirkan setiap aspek lalu mengambil keputusan tepat sebagaimana yang Tuhan inginkan.
Orang yang bijaksana adalah orang yang keputusannya selalu cocok dengan yang Tuhan mau. Hikmat sejati muncul ketika seseorang terus menerus memiliki hubungann yang intim dengan Tuhan dan juga FirmanNya.
Untuk menjadi hamba yang bijaksana kita bisa memintanya kepada Tuhan, seperti yang dilakukan oleh Salomo (1Raja-raja 3:9-10). Juga  melalui Firman Allah.Raja Daud berkata bahwa oleh Firman Allah dia menjadi lebih bijaksan dari pada musuh-musuhnya (Maz. 119:97-98)  

3) Bertanggung jawab (ay. 46)
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya  yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Atau, sikap menerima tugas dengan segala konsekuensinya, kemudian melakukannya dengan setia.
Sebagai hamba-hamba Tuhan, kita mengerjakan sesuatu bukan karena diawasi atau pun mencari pujian dari manusia, tetapi mengerjakannya seperti untuk Tuhan (Kolose 3:22-24). Segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mempermuliakan Tuhan.

Penutup:
Bagaimana kesiapan kita dalam menyambut hari kedatangan Tuhan? Persiapkanlah hidup kita dengan cara memposisikan diri kita sebagai hamba yang baik, maka kita akan berbahagia untuk selama-lamanya.
Mat 24:46  Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.
Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com