Selasa Agustus 21 , 2018

sadarlah dan Berjaga-Jagalah

Pdt. Daniel Rudianto
Sabtu, 7 Juli 2018

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.1 Petrus 5:8

Kita harus sadar dan berjaga-jaga karena kedatangan Tuhan sudah tidak lama lagi. Karena itu kita mau fokus pada keselamatan kita. Kita harus ingat bahwa lawan kita yang sesungguhnya adalah Iblis, supaya Iblis tidak mendapat keuntungan dari kita dan menelan kita. Gal. 5:14-15 menjelaskan lebih jauh bagaimana cara Iblis menjatuhkan kita, yaitu dengan menghasut jemaat Tuhan untuk saling menggigit dan saling menelan. Dengan jalan itu kita menjadi lupa untuk berfokus pada keselamatan sehingga tertinggal ketika Tuhan datang nanti.
Mat. 24:37-42 menulis tentang keadaan manusia menjelang kedatangan Tuhan. Situasi saat itu bukanlah situasi yang kacau balau, melainkan sama dengan situasi saat ini yang tenang. Namun tiba-tiba Tuhan datang dan melakukan pemisahan, yaitu antara orang yang benar menurut pemandangan-Nya dan orang yang tidak. Dan yang harus kita ketahui, pemisahan itu bukan hanya terjadi pada orang di luar Tuhan, namun juga pada hidup orang percaya. Karena itu jangan sampai kita lengah supaya kita semua tersingkir dari masa Antikris (Mat. 24:15-28).
Dalam Mat. 25 kita akan melihat tiga kriteria Tuhan dalam melakukan pemisahan antara orang benar (yang tersingkir) dan orang yang tidak benar (yang tertinggal):
1. Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh (ayat 1-13)
Apakah yang menjadi perbedaan antara gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh? Dalam ayat 3-4 dikatakan bahwa gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Untuk mengetahui lebih jauh arti minyak kita harus melihat apa yang menjadi dasar penolakan Tuhan pada kelima gadis bodoh dalam ayat 12.
Di ayat itu Tuhan berkata bahwa Ia tidak mengenal mereka. Kata “mengenal” di sini bukan sekedar tahu, tapi hubungan yang intim seperti suami istri. Ini berbicara tentang hubungan pribadi kita dengan Tuhan, bukan sekedar soal ibadah atau pelayanan. Jadi minyak berbicara tentang waktu yang kita pergunakan untuk bersekutu dengan Tuhan. Maka jelaslah bahwa perbedaan antara orang bijaksana (yang tersingkir) dan orang bodoh (yang tertinggal) adalah bagaimana orang tersebut mempergunakan waktunya untuk mengenal Tuhan lebih dalam (Efe. 5:15-16).

2. Perumpamaan tentang hamba yang rajin dan hamba yang malas (ayat 14-30)
Perumpamaan ini menceritakan tentang seorang tuan yang mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya menurut kesanggupan mereka, yaitu lima, dua, dan satu talenta. Talenta bisa berupa harta, bagian pelayanan, maupun karunia-karunia yang ada dalam diri kita. Hamba-hamba yang menerima lima dan dua talenta mempergunakan semua talentanya sehingga beroleh laba dua kali lipat. Tidak demikian dengan hamba yang malas. Ia tidak berbuat apa-apa, dan akibatnya talentanya diberikan kepada hamba yang setia tadi dan ia masuk dalam penghukuman.
Dalam ayat 26 tuan itu berkata kepada hamba yang malas itu: “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas”. Hamba yang punya satu talenta ini kalau kita perhatikan dalam kisah itu tidak pernah berbuat kejahatan apa-apa selain tidak mempergunakan talentanya. Jadi dapat disimpulkan bahwa kemalasan adalah suatu kejahatan di mata Tuhan. Kalau kita malas dalam melayani Tuhan atau mempergunakan talenta kita maka kita akan tertinggal. Tapi kalau kita setia mulai dari perkara kecil maka kita pasti akan tersingkir pada kedatangan Tuhan nanti.

3. Perumpamaan tentang domba dan kambing (ayat 31-46)
Domba dan kambing memiliki bentuk atau rupa yang mirip, namun “dalamnya” beda. Dan Tuhan sendirilah kelak yang akan memisahkan keduanya, domba di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri. Domba akan tersingkir, sedangkan kambing akan tertinggal. Yang sebenarnya membedakan domba dan kambing di mata Tuhan dapat kita lihat di ayat 35-40. Di situ dijelaskan bahwa yang membedakan adalah sikap dan perlakuan kita kepada orang lain.
Domba adalah binatang yang suka berkumpul dengan domba lainnya, tapi kambing lebih bersifat individual. Kambing adalah ciri orang yang tidak suka akan persatuan, tidak mau berbagi, tidak suka menolong dan mengasihi orang lain. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan kepada orang lain, maka kita sedang melakukannya untuk Tuhan. Dan sebaliknya, segala sesuatu yang tidak kita lakukan untuk orang lain, berarti kita tidak melakukannya untuk Tuhan.
Dalam Yak. 4:17 dikatakan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Dosa (Yunani: hamartia) berarti melakukan perbuatan yang umumnya kita ketahui sebagai kejahatan, seperti membunuh, berzinah, memfitnah dan lain sebagainya. Namun dosa ternyata juga kita lakukan ketika kita tidak berbuat baik, padahal kita tahu harus berbuat itu. Kita tahu ada orang lain yang perlu diperhatikan dan ditolong tapi kita menutup mata, maka kita sebenarnya sedang berbuat dosa, yang akibatnya sama dengan dosa lainnya, yaitu maut.

Kita telah melihat apa yang menjadi kriteria Tuhan dalam memisahkan manusia menjelang kedatangan-Nya kelak. Tentu kita semua ingin masuk dalam golongan yang tersingkir dan terangkat. Karena itu pergunakanlah waktu dengan bijaksana untuk mengenal Tuhan, setia dalam perkara-perkara yang Tuhan percayakan kepada kita, serta terus berbuat baik pada semua orang. Dengan demikian Tuhan akan menyambut kita pada kedatangan-Nya kelak. Maranatha, Tuhan datang! Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com