Jumat Oktober 19 , 2018

Pentingnya Rasa Takut

Pdm. Stanley Piri - Gresik
Minggu, 17 Juni 2018

Lukas 22:39-46 Di Taman Getsemani
Suatu pergumulan berat yang dihadapi oleh Tuhan Yesus ketika Ia berada di Taman Getsemani, yang membuat kita menerima pengampunan dosa. Yesus mengikuti apa yang dikehendaki Bapa dalam kehidupanNya.
Dalam ayat 44 dikatakan bahwa “Ia sangat ketakutan”.  Hal ini seperti bertentangan  dengan ayat-ayat lain dalam Alkitab mengatakan supaya kita “jangan takut”. Namun disini dituliskan bahwa Yesus dalam keadaan yang sangat ketakutan dan semakin bersungguh-sungguh berdoa, bahkan peluhNya sampai seperti titik-titik darah. Dalam injil yang lain bahakan dikatakan “seperti mau mati rasanya”.
Apa yang membuat Yesus sangat ketakutan?
Apa yang membuat Yesus sangat ketakutan sehingga rasa takut seperti itu juga harus kita miliki. Apakah Yesus takut karena akan mati dibunuh, menderita atau disalib? Dalam Mat. 16:21 kita melihat bahwa bukan hal-hal tersebut membuat Yesus sangat ketakutan. Yesus sendiri sudah barkata bahwa Anak Manusia akan mengalami banyak penderitaan bahkan harus mati, namun bukan itu yang membuat Ia sangat ketakutan. Dalam Matius 17:22 Yesus berkata yang kedua kalinya tentang penderitaan yang akan Ia alami. Bahkan Yesus sampai empatkali berkata tentang penderitaan yang harus Ia alami (Mat.  28:18 dan Mat. 26:2).
Mrk. 15:33-34 Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Hal inilah yang membuat Yesus sangat ketakutan bahkan seperti mau mati rasanya yaitu karena Ia harus mengalami keterpisahan dengan Bapa karena menanggung dosa manusia.
Apakah kita memiliki rasa takut ketika hubungan kita dengan Allah? Kita perlu memiliki rasa takut ketika kita jauh dari Allah. Kekristenan bukanlah kegiatan agamawi saja melainkan hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan. Apakah kita masih memiliki rasa takut atau merasa sangat kehilangan ketika dalam sehari kita tidak memiliki persekutuan dengan Allah?
Maz. 42: 2-4 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.  Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
Pemazmur sangat rindu akan hubungan yang indah dengan Tuhan. Pemazmur merasa menderita dan sangat tertekan ketika hidupnya jauh dari hadirat Tuhan. Inilah yang dialami oleh Yesus ketika Ia harus jauh dari Bapa karena menanggung dosa manusia.
Manusia sering stress atau tertekan karena persoalan atau pergumulan yang dialaminya, tetapi tidak merasa stress ketika mereka jauh dari Tuhan dan juga persekutuan sesama anak-anak Tuhan. Kita mau ikuti teladan Yesus dimana Ia hanya stress karena jauh atau terpisah dari Bapa.
Bagaimana kehidupan kita hari-hari ini, apakah kita jauh dari Tuhan? Apakah dunia ini sudah memisahkan kita dari Tuhan? Sebagai anak-anak Tuhan ataupun sebagai pelayan Tuhan, apakah kita menjalani hidup ini hanya sebagai rutinitas saja? Kelihatannya kita  ada di gereja atau juga melayani pekerjaan Tuhan, namun hidup kita jauh dari Tuhan. Kita memang harus beribadah dan juga melayani pekerjaan Tuhan, tetapi kita juga harus intim dengan Tuhan.
Masalah, tantangan, bahkan kekuatiran boleh ada, namun kita harus senantiasa ada bersama-sama dengan Tuhan. Dalam mengawali setiap hari yang kita jalani , marilah kita memulainya dengan suatu persekutuan dengan Tuhan. Jangan biarkan kesibukan dunia menjauhkan kita dari Tuhan. Tuhan sangat rindu kita selalu dekat dan semakin dekat dengan Dia setiap harinya. Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

GPdI Lembah Dieng


Jalan Lembah Dieng H1

Malang, Jawa Timur

Indonesia

phone : 0341-551692

fax : 0341-559435