Jumat Juli 20 , 2018

Apa Yang Begitu Berharga

Pdm. Stanley Piri - Gresik
Sabtu, 16 JUni 2018

Bacaan: Markus 14:3-9

Kisah yang kita baca di atas adalah kisah mengenai seorang perempuan bernama Maria yang datang kepada Yesus dengan membawa buli-buli pualam berisi minyak narwastu. Ia kemudian memecahkan leher buli-buli itu dan mencurahkan semua isinya untuk mengurapi kepala Yesus. Dan kita harus tahu bahwa minyak yang dibawanya adalah minyak narwastu murni yang sangat mahal harganya, yang seharga tiga ratus dinar lebih. Namun Maria tidak merasa sayang dengan minyak itu, sebab baginya Yesus jauh lebih berharga dari minyak yang mahal itu.
Apakah yang berharga atau bernilai dalam hidup kita? Yang berharga dalam hidup kita tentu bermacam-macam. Bisa berupa orang yang kita kasihi, uang, status sosial, gelar, pendidikan, ataupun kebanggaan-kebanggaan lainnya. Namun tahukah Saudara bahwa apa yang Saudara anggap berharga itu akan menentukan tujuan hidup Saudara? Apa yang kita anggap berharga akan menentukan langkah yang kita ambil atau arah hidup kita ke depan. Jadi secara tidak langsung, apa yang berharga ini merupakan suatu faktor yang penting dalam menentukan pula akhir kehidupan kita kelak.
Karena sesuatu kita anggap berharga, maka secara otomatis kita akan mengarahkan hidup kita untuk mengejar hal yang kita anggap berharga tersebut. Dan sebaliknya, kita akan secara tegas menolak hal-hal lainnya yang tidak kita anggap berharga, ataupun hal-hal yang bertolak belakang dengan apa yang berharga bagi kita. Misalnya, kalau kita mengganggap bahwa uang adalah sesuatu yang bernilai, maka kita akan mengarahkan hidup kita mati-matian untuk mengejar uang. Dan kalau ada hal-hal lainnya yang menghalangi kita untuk memperoleh kekayaan, maka pasti kita akan menolaknya, atau minimal tidak mempedulikannya.
Bagi Maria Yesus lebih berharga dan lebih utama dari segala-galanya. Karena itu ia tidak merasa sayang untuk mencurahkan minyak itu kepada Yesus. Bahkan ia memecahkan leher buli-buli itu agar minyak dalam buli-buli itu tercurah semuanya dan tidak ada yang tersisa lagi. Maria rela memberikan minyak itu kepada Yesus karena ia sangat mengasihi Yesus yang telah mengampuni dosa-dosanya. Namun tidak demikian dengan Yudas Iskariot (ayat 4). Yudas menganggap minyak itu lebih berharga dari pada Yesus, sehingga ia berkata bahwa apa yang dilakukan oleh Maria itu adalah pemborosan.
Tetapi di ayat 6 Yesus justru berkata bahwa apa yang dilakukan oleh Maria ini adalah perbuatan yang baik. Kata “baik” dalam bahasa aslinya berarti indah. Bukankah kita ingin menjadi pribadi yang indah dan berkenan di mata Tuhan? Tidak ada cara selain mengutamakan Yesus di atas segala-galanya. Kita harus punya tekad yang bulat untuk percaya dan mengasihi Yesus dengan sungguh-sungguh. Kerohanian kita jangan hanya sebatas rutinitas agamawi saja ataupun menjadi sesuatu yang kosong dan mati. Jangan pula “menahan-nahan” iman dan kasih kita kepada Tuhan dengan logika atau akal sehat kita.
2 Kor. 4:18 berkata: “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal.” Paulus menasihati kita agar memperhatikan dan memprioritaskan hal-hal yang tidak kelihatan atau yang bernilai kekal. Mengapa? Sebab yang kelihatan sifatnya hanya sementara atau fana belaka. Justru yang tidak kelihatan menjadi hal-hal yang akan kita bawa sampai ke sorga. Namun Iblis akan selalu berusaha mengalihkan fokus kita kepada Tuhan dengan menawarkan hal-hal fana yang mengenakkan dan menyenangkan kedagingan kita.
Karena itu sebagai pengikut Kristus kita harus mengikuti teladan Kristus dengan bukan hanya mengenal Dia sebatas kuasa kebangkitan-Nya saja, tetapi juga turut bersekutu dalam penderitaan-Nya (Flp. 3:10). “Hidup adalah Kristus” sudah seharusnya melekat sebagai prinsip hidup orang percaya (Flp. 1:21). Mengikut Tuhan bukan lagi soal perhitungan untung-rugi, sebab seluruh hidup kita memang sudah seharusnya dipersembahkan kepada Kristus yang sudah menyelamatkan kita dari hukuman dosa, yaitu maut. Kita sudah menerima hidup yang kekal, maka kita harus mengarahkan diri pada hal-hal yang kekal.
Melayani Tuhan harus disertai dengan ketulusan, agar kita tidak terjebak dengan motivasi-motivasi lainnya. Orang yang melayani belum tentu punya kualitas kerohanian yang baik. Tapi orang yang memiliki kualitas kerohanian yang baik pasti akan menjadi pelayan yang luar biasa dan patut dipuji (excellent). Pelayanan seperti inilah yang disebut indah oleh Yesus, pelayanan yang membuat Yesus terharu dan akan menggerakkan hati-Nya untuk mencurahkan berkat-berkat-Nya.
Jadi apa yang kita anggap berharga pasti akan menjadi prioritas utama dalam kehidupan kita. Apakah Yesus sudah menjadi yang berharga bagi Saudara? Apakah Saudara sudah melayani Dia dengan totalitas? Prioritaskan Tuhan di atas segala-galanya, maka berkat yang kekal pasti menyertai kehidupan Saudara selamanya… Tuhan Yesus memberkati! (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com