Jumat Juni 22 , 2018

Dibenarkan Oleh Iman - Pelajaran Surat Roma (74)

(Rom 9:10-13)  Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, --supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya-- dikatakan kepada Ribka: "Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda," seperti ada tertulis: "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau."

- Di ayat-ayat sebelumnya sudah disebutkan bahwa pilihan Allah bukan berdasarkan perbuatan baik seseorag tetapi semata-mata karena kedaulatan Allah. Allah berkuasa penuh dalam menentukan pilihanNya, dan hal ini nampak lebih jelas dalam kasus Esau dan Yakub.

- Esau dan Yakub adalah saudara kembar dilahirkan dari orang tua yang sama, namun sebelum mereka lahir, Allah sudah memilih Yakub untuk meneruskan garis keturunan yang diberkati dari bapa Abraham dengan mengatakan, “…anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda” (Kej.25:23) dan juga, “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau” (Mal.1:2-3). Jadi jelas bahwa pilihan Allah itu tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan manusia! Sampai disini maka manusia dapat saja berkata: “Allah tidak adil!” “Allah bertindak sewenang-wenang, pakai maunya sendiri!” Apakah benar demikian? Tentu saja tidak, karena Allah tidak mungkin tidak adil. IA adalah Allah yang Maha Adil! Kalau begitu mengapa demikian? Kuncinya ialah…

- “…rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” – Memang benar bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya. Allah memanggil dan tanggungjawab manusia ialah merespons panggilanNya. Barangsiapa yang merespons panggilanNya, dialah yang mendapat hak untuk menjadi umat pilihanNya. Hal ini jelas tertulis dalam ayat berikut ini, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa (hak/otoritas)  supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh.1:11,12) Lalu, bagaimana Allah tahu siapa yang akan merespons panggilanNya? Tentu saja Allah sangat tahu, karena Ia adalah Allah yang Maha Tahu, ke-Maha Tahu-an adalah salah satu sifat ilahi Allah. Ia tahu siapa yang akan merespons panggilanNya dan siapa yang tidak, oleh sebab itu Ia menentukan pilihanNya kepada Yakub. Dan sejarah membuktikan bahwa pilihan Allah sangat tepat. Esau dikatakan adalah seorang yang kasar, yang meremehkan hal-hal yang rohani, pernah menjual hak kesulungannya (Kej.25:29-34), dan nafsunya cabul kata kitab Ibrani (Ibr.12:16), ia juga seorang pendendam (Amos 1:11). Jadi jelas ‘kan bahwa Allah tidak salah memilih Yakub daripada Esau? Kalau begitu apa kesimpulan kita?

- Kesimpulannya ialah bahwa: Pilihan Allah ialah didasarkan atas kedaulatanNya, bukan atas perbuatan manusia, dan kedaulatanNya ini didasarkan atas panggilanNya yang berdasarkan atas ke-Mahatahu-anNya akan respons (tanggapan) manusia (His calling is based on His foreknowledge of man’s respons to His calling). Dengan lain kata, keselamatan itu di satu pihak ialah kedaulatan Allah tetapi di pihak lain juga tanggungjawab manusia.

(Rom 9:14)  Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil!

- Dengan demikian tidak ada seorangpun yang dapat berkata bahwa Allah itu tidak adil, dan memang tidak mungkin Ia tidak adil, karena keadilan adalah salah satu karakter Allah! (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com