Jumat Juli 20 , 2018

3S Dalam Ibadah

Pdt. Soerono Tan
Minggu, 8 April 2018

Kita sebagai orang percaya pasti melakukan ibadah. Namun terkadang dapat terjadi penyimpangan pada ibadah yang kita lakukan bila kita tidak berhati-hati. Karena itu saat ini kita akan belajar bersama-sama mengenai ibadah yang dapat menyenangkan hati Allah. Kita semua tentu ingin agar ibadah kita tidak menjadi sia-sia, melainkan dapat diterima oleh Allah.
Tapi sebelumnya kita akan menyamakan terlebih dahulu pemahaman kita mengenai ibadah. Kita harus tahu bahwa keseluruhan hidup kita ini adalah ibadah, di mana ibadah itu ditempatkan sebagai sebuah gaya hidup. Dan di dalamnya tercakup ibadah pribadi (ibadah yang kita lakukan ketika bersaat teduh di tempat tersembunyi) dan ibadah bersama (ibadah yang kita lakukan di gereja). Jadi ibadah itu tidak sebatas pada ibadah bersama.
Dan ternyata kualitas ibadah bersama sangat ditentukan oleh seberapa intim ibadah pribadi kita. Bahkan lebih jauh lagi, seberapa besar kuasa dan lawatan Tuhan terjadi dalam ibadah bersama sangat ditentukan oleh seberapa besar harga yang dibayar oleh tiap jemaat untuk beribadah secara pribadi. Karena itu ibadah bersama sangat dipengaruhi oleh 3S, yaitu “Sebelum-Selama-Setelah Ibadah” yang akan kita bahas berikut ini.

SEBELUM IBADAH - PERSIAPAN
Pkh. 5:1a (4:17a) berbunyi: “Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!” Ayat ini ditulis oleh Salomo sebagai peringatan berdasarkan pengamatannya pada apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum masuk ke dalam rumah Tuhan. Yang dimaksud dengan menjaga langkah di sini bukan menjaga langkah kita agar tidak jatuh atau terpeleset, melainkan tentang menjaga kehidupan kita seutuhnya agar tidak menyimpang atau melakukan kejahatan.
Caranya yaitu dengan tidak memisahkan antara yang “rohani” dan yang “sekuler”. Kita seringkali berpikir bahwa ibadah, komsel, doa, saat teduh adalah kegiatan rohani, sedangkan bekerja, belajar, ataupun aktivitas di rumah adalah kegiatan sekuler. Pemisahan seperti ini akan membuat kita kurang menjaga kekudusan dalam bagian “sekuler”. Padahal hidup ini harusnya dipandang secara utuh, sebab seluruh hidup kita haruslah kudus di hadapan Tuhan.
Apa yang kita lakukan di luar gereja sangatlah mempengaruhi apa yang akan kita alami di dalam gereja. Dengan kata lain, hidup kita ini tidak terbatas hanya di gereja, melainkan dimulai dari luar gereja. Contohnya adalah Abraham dalam Kej. 22 ketika Tuhan memintanya untuk mempersembahkan Ishak. Kita melihat dalam ayat 3 bagaimana Abraham begitu taat kepada firman Tuhan. Bahkan ia mempersiapkan semuanya dengan seksama, mulai dari keledai, bujangnya, kayu, sampai pada putranya, Ishak. Darimana respon ketaatan ini berasal? Tidak lain dari penundukan dan penyerahan diri Abraham kepada Tuhan dalam aktivitas kesehariannya.
Dari kisah Abraham di atas kita dapat menyimpulkan juga bahwa ibadah itu harus dipersiapkan. Persiapan yang harus kita lakukan adalah:
1. Persiapan Hati
Ini adalah persiapan yang kita lakukan dengan beribadah secara pribadi. Dengan membangun hubungan dengan Tuhan setiap hari, kita akan memiliki hati yang responsif dan taat pada kehendak Tuhan.
2. Persiapan Jasmani
Hal-hal jasmani yang perlu dipersiapkan di antaranya adalah istirahat yang cukup, pakaian yang memadai, persembahan, serta transportasi. Hal-hal yang jasmani ini kelihatannya sepele, tapi ini justru menunjukkan bagaimana hati kita kepada Tuhan, Kata “worship” atau penyembahan berasal dari kata “worth-ship”. Kata “worth” sendiri berarti sesuatu yang layak atau bernilai. Seberapa jauh kita mempersiapkan jasmani kita menunjukkan seberapa berharganya Tuhan dalam kehidupan kita.

SELAMA IBADAH - PARTISIPASI
Pkh. 5:1b (4:17b) berbunyi: “Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh.” Pengkotbah mengklasifikasikan manusia menjadi dua, yaitu orang bodoh dan orang bijak. Orang bodoh adalah orang yang datang mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan tapi pikiran dan hatinya tidak di situ. Contohnya, ketika ia menyanyi memuji Tuhan, tapi pikirannya mengembara ke tempat yang lain.     Sedangkan orang yang bijak adalah orang yang datang menghampiri Tuhan untuk mendengar (keep your ears open and keep your mouth shut). Maksudnya adalah ketika kita menyanyi, kita menyanyi dengan pemahaman, misalnya dengan sikap: “Makna rohani apa yang dapat saya pelajari dari lagu ini?” Selain itu, ketika mendengarkan firman, kita mencurahkan seluruh hati dan pikiran kita untuk menangkap pesan Tuhan bagi kita secara pribadi. Itulah ibadah yang menyenangkan hati Tuhan.
“Belajar dari Allah adalah bagian dari ibadah: perhatian kepada Firman adalah penghormatan kepada Allah; sebaliknya, kehilangan perhatian kepada Firman adalah penghinaan terhadap Allah” (J. I. Packer)

SETELAH IBADAH - PRAKTEK
Pkh. 5:3 berbunyi: “Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.” Orang yang bijak adalah orang yang menangkap pesan Tuhan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap kali kita menangkap pesan dari Tuhan, sudah sewajarnya kalau itu kita akhiri dengan sebuah komitmen. Oleh karena itu kata nazar dalam ayat ini berbicara tentang komitmen kita kepada Tuhan dalam ibadah.
Nazar adalah bagian dari persembahan kepada Allah (Im. 22:18). Komitmen atau nazar kita kepada Tuhan harus dilakukan. Dan kunci agar kita dapat tetap memegang komitmen kita adalah dengan hidup takut akan Tuhan (Pkh. 5:6). Inilah sesungguhnya muara dari ibadah kita kepada Tuhan. Inti atau pusat dari ibadah bukanlah diri kita, melainkan Tuhan! Kita beribadah bukan supaya kita diberkati, menerima penghiburan, mendapat mujizat, dan lain sebagainya, melainkan untuk mempersembahkan hidup kita menjadi korban yang menyenangkan hati Tuhan.

Orang yang bijak adalah orang yang mempersiapkan hati dan jasmaninya sebelum beribadah, sehingga selama ibadah ia mampu menangkap pesan Tuhan, dan setelahnya mau berkomitmen untuk mengaplikasikan pesan itu dalam kehidupannya sehari-hari. Dan orang yang bijak inilah yang akan diubahkan hidupnya sehingga berkenan kepada Tuhan dan menjadi berkat di manapun ia berada. Kiranya kita semua beribadah selayaknya orang yang bijak. Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com