Jumat Juli 20 , 2018

Siklus Kehidupan

Pdt. Soerono Tan
Sabtu, 7 April 2018

Siklus adalah suatu rangkaian peristiwa yang terus berulang yang terjadi dengan urutan yang sama terus menerus. Kehidupan kita mulai dimulai dengan kelahiran, bertumbuh menjadi kanak – kanak, menjadi remaja merasakan cinta terhadap lawan jenis dan terus berlangsung dan membangun sebuah keluarga, setelah itu menjadi tua dan akhirnya dipanggil oleh Tuhan. Apakah Kehidupan kita hanya seperti itu rangkaian peristiwa yang terus berulang dalam urutan yang sama?
Rupanya hal ini telah menjadi perhatian bagi seorang Pengkhotbah.

Pengkhotbah 1:4-7
Salomo pada masa mudanya menuliskan Kitab Kidung Agung, yaitu pada saat dia jatuh cinta kepada seorang gadis Sulam. Dan pada saat usia tua dia menuliskan Kitab Pengkhotbah, dan dalam penulisannya dia memposisikan diri sebagai seorang Pengkhotbah. Dan dia mengamati tentang kehidupan manusia, dan salah satu yang dia amati adalah bahwa kehidupan manusia seperti sebuah siklus. Saat kita melihat kehidupan kita sehari – hari, kita melihat bahwa yang terjadi hanyalah sebuah siklus yang terus menerus berlangsung dengan urutan yang sama setiap harinya.

Ayat 8. “Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.”
Situasi seperti itu adalah hal yang sangat membosankan. Hal ini yang di katakan oleh Pengkhotbah bahwa “Segala sesuatu menjemukan”.  Itulah kehidupan manusia, hanyalah sesuatu yang terus berputar dan semuanya itu tidak dapat memuaskan hati. Keberhasilan pun tidak dapat memuaskan hati. Pencapaian setinggi apapun yang dapat diraih oleh seorang manusia, itu tidak akan sanggup memuaskan Jiwa manusianya.

Ayat 9-10. “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.  Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.”
Di sini seorang Pengkhotbah menjelaskan lagi bahwa kehidupan hanya seperti sebuah roda yang terus menerus begitu – begitu saja dan tidak ada yang berubah.

Ayat 11. Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.
Mungkin kita berpikir bahwa dalam kehidupan kita ini kita ingin menolong orang lain, membantu sesama agar supaya saat kita mati nanti kita akan diingat oleh orang-orang. Kita harus mengetahui bahwa apapun yang kita buat, pada akhirnya orang-orang akan melupakannya juga.
Memang kalau kita hanya memandang kehidupan manusia hanya dari sudut pandang di bawah kolong langit (di bawah matahari), maka kehidupan manusia itu dapat disimpulkan dengan 3 perkataan yaitu: Sia-sia, Menjemukan, dan Akan Dilupakan.
Itu sebabnya ada kita harus memandang kehidupan manusia dari persfektif yang lain, yaitu kita melihatnya “dari atas Matahari” ( dari perspektif Tuhan), dan Hanya Tuhan saja yang dapat memberi makna dalam Kehidupan kita.

Yohanes 10:10 “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Kata “Hidup”, dalam bahasa Yunani menggunakan 3 kata, yaitu: Bios, Psuche (Nyawa), Zoe (Hidup yang Kekal).
Yohanes paling banyak menuliskan tentang Hidup dari kata yang ketiga ini (zoe). Inilah yang seharusnya menggantikan siklus kehidupan yang hanya sekedar menjalani hidup.
Dalam hal ini kita mengetahui bahwa kehidupan manusia tidak hanya seperti sebuah siklus yang terus menerus berputar dan yang terjadi begitu saja dan memang kita akan terus menjalaninya,  tetapi ada suatu saat dimana kehidupan kita akan berlangsung sampai kepada kekekalan.
Mari kita lihat hidup kita dari perspektif kekekalan. Kita menjalani kehidupan yang benar di dunia ini karena kita memahami bahwa akan ada kehidupan yang selanjutnya dalam kekekalan.
Seorang hamba Tuhan (C.S Lewis) mengatakan : “Jika anda Membaca sejarah, anda akan menemukan bahwa orang-orang Kristen yang berkarya dalam kehidupannya di dunia ini, adalah mereka yang paling bepikirkan tentang kehidupan yang kekal, dan ketika orang-orang Kristen berhenti berpikir tentang dunia yang akan datang, maka mereka akan menjadi tidak efektif lagi.”

Kenyataannya adalah mata kita terlalu banyak melihat kehidupan kita hanya dari perspektif kita sendiri.  Seringkali kita tidak mau merubah perspektif kita karena ada banyak ujian dalam kehidupan ini. Tetapi perlu kita ketahui bahwa maksud sebenarnya dari ujian tersebut adalah bahwa Tuhan ingin menyatakan kemuliaanNya dalam kehidupan kita.
Hidup kita begitu rentan, ringkih dan rapuh. Tetapi ada Yesus yang memberi kepastian untuk hidup yang akan datang. Siklus kehidupan kita tidak hanya dalam dunia yang sementara ini, tetapi sampai kepada kekekalan. Itu sebabnya kita juga harus melilhat kehidupan manusia dari perspektif Tuhan, dan Tuhan akan berkarya melalui kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com