Jumat Juni 22 , 2018

Mengampuni VS Menghakimi

Pdp. David Sugandi
Minggu, 18 Maret 2017

Bacaan: 1Yoh. 4:8-11, Yoh. 3:16

Pertarungan terbesar dalam hidup manusia adalah mengampuni atau menghakimi. Mengampuni adalah sifat dasar Allah sebab Allah dalah kasih dan bentuk kasih adalah mengampuni. Perintah Allah jelas, supaya kita saling mengampuni bukan menghakimi. Allah sudah memberi teladan dengan mengutus AnakNya yang tunggal untuk mengampuni dosa kita. Menghakimi adalah sifat iblis dan bentuk iblis menghakimi adalah dengan mendakwa/menuduh kita (Why. 12:10). Pilihan di tangan kita, mau mengampuni atau menghakimi.
Seperti di pengadilan, seorang pengacara atau pembela akan terus membela kliennya mati-matian supaya dibenarkan dan dibebaskan dari hukuman sedangkan seorang jaksa atau penuntut akan terus menuntut supaya klien dipersalahkan dan mendapat hukuman. Yesus adalah pembela kita sedangkan iblis berusaha menuntut kita (Rom. 8:31-34). Allah mengutus Yesus bukan untuk menghakimi tetapi mengampuni. Jika kita merasa selalu dituduh, dihakimi, jangan berkecil hati karena kita punya pembela yaitu Yesus. Iblis sudah tidak punya kuasa atas kita, iblis hanya bisa mempengaruhi kita. Kuasa ada di tangan kita, keputusan mau mengampuni atau menghakimi ada di tangan kita.

Mengapa sulit mengampuni? (Ibr. 12:15)
1. Tumbuh akar pahit (kekecewaan yang menimbulkan dendam, kebencian, rasa permusuhan, persaingan). Akar pahit digambarkan seperti racun dalam tubuh yang lama-lama membunuh diri sendiri. Belajarlah supaya tidak hidup dalam kebencian.
2. Menjauhkan diri dari kasih karunia Allah. Kasih karunia adalah kita menerima sesuatu yang sebenarnya kita tidak layak menerima yaitu pengampunan. Rahmat adalah kita tidak menerima sesuatu yang sebenarnya harus kita terima yaitu penghakiman. Yesus mati disalib sehingga kita menerima pengampunan dan dibebaskan dari penghakiman.
Mat. 18:23-35 menceritakan tentang seorang hamba yang berhutang 1000 talenta kepada raja dan pasti tidak sanggup membayarnya. Dia memohon ampun kepada raja dan tergeraklah hati raja sehingga semua hutangnya dibebaskan & dihapuskan. Kemudian ia bertemu dengan temannya yang berhutang 100 dinar. Ia segera menagih hutang temannya itu sambil mencekik dan hendak memasukkan ke dalam penjara meskipun temannya bersujud dan memohon belas kasihan. Hamba ini lupa, baru saja ia menerima kasih karunia dan diampuni. Jika kita lupa kasih karunia, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (ay. 35).

Bagaimana supaya bisa mengampuni:
1. Bebaskan dan hapuskan akar pahit yang ada dalam kehidupan kita.
2. Miliki belas kasihan dan jangan lupa kasih karunia Allah. Tuhan sudah lebih dahulu mengampuni kita. Ampuni maka kita juga akan diampuni.
Luk. 6:27-28, 35-36 mengajarkan kita untuk mengasihi musuh, berbuat baik, mintalah berkat dan berdoalah. Seperti halnya mengampuni, mendoakan dan memberkati yang sering kita diajarkan, itu bukan sekedar slogan. Allah baik kepada orang-orang yang tidak tahu terimakasih dan orang jahat. Siapa tahu dengan kasih yang kita berikan, orang itu diselamatkan.

Mengapa sulit untuk tidak menghakimi (Luk. 6:41)?
Karena kita punya mata dan mata kita lebih suka memperhatikan orang lain daripada diri kita sendiri. Manusia memiliki 5 panca indera untuk menerima informasi dan diteruskan ke pikiran. Ketika mata dan telinga kita menerima sesuatu, jika pikiran kita baik, tidak akan terjadi apa-apa, sebaliknya jika pikiran kita jahat, mulailah kita mengeluarkan kesimpulan-kesimpulan, prasangka.

Kita harus hati-hati dengan apa yang kita dengar dan terlebih lagi dengan apa yang kita lihat karena:
1. Apa yang kita lihat dan dengar belum tentu sebuah kebenaran.
2. Kalaupun benar, tetap saja kita tidak mempunyai hak untuk menghakimi. Menghakimi itu hak Tuhan karena kita menghakimi orang lain menurut standar kita sendiri, sedangkan Tuhan melihat sampai ke dasar hati (Yoh. 8:15-16). Jangan tertipu, tetapi berdoalah meminta Tuhan memberi pengertian karena  hanya Tuhan yang dapat melihat sampai kedalaman hati setiap orang.
Manusia kadang melakukan kesalahan karena tidak sadar, jadi kita tidak tahu seseorang dengan sadar atau tidak saat melakukan kesalahan. Paulus dalam 1Kor. 4:4-5 juga tidak merasa ia benar saat tidak sadar melakukan kesalahan. Tetapi yang berhak menghakimi hanya Tuhan saat Ia datang kedua kali nanti. Jika kita menghakimi, berarti kita mengambil posisi sebagai hakim padahal satu-satunya hakim adalah Tuhan (Yak. 4:11-12). Seperti Saul yang buru-buru mempersembahkan korban padahal itu adalah bagian tugas Samuel, sehingga Saul ditolak untuk selamanya. Jangan sekali-sekali mengambil posisi yang bukan bagian kita.
3. Keluarkan dahulu balok dari matamu (Luk. 6:42b).         Perbaiki diri, janganlah sibuk mengurus kesalahan orang lain supaya kita memperlengkapi diri menjadi sempurna saat Yesus datang dan tidak tertinggal.
Dalam Yoh. 8:7, Yesus mempersilahkan orang yang tidak berdosa menjadi yang pertama melempar batu kepada wanita yang kedapatan berzinah. Orang Farisi dan ahli Taurat yang tahu tentang firman tidak melempar batu, lalu siapa kita sehingga kita menghakimi orang lain. Semua orang berdosa, sebab itu jangan menghakimi.
Beberapa quote tentang menghakimi:
- Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu - Mat. 7:1-2
- Jangan menghakimi seseorang hanya karena dia melakukan dosa yang berbeda dari anda.
- Don’t be so quick to judge, you never know when you might just find yourself walking in that person’s shoes (jangan cepat menghakimi karena mungkin saja suatu saat anda akan berada di posisi yang sama seperti orang yang anda hakimi).

Jadi, mulailah mengampuni dan berhentilah menghakimi. (LL)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com