Minggu April 22 , 2018

Masa Kasih Karunia

Pdm. Daniel Rudianto
Minggu, 4 Maret 2018

Saat ini kita hidup di bawah kasih karunia, bukan hukum Taurat. Sebagai ilustrasi, pernahkah kita terbangun melihat jam menunjukkan pk. 05.00, kita segera mandi, bersiap karena merasa sudah terlambat tetapi setelah itu melihat jam yang lain masih pk 00.00, tengah malam karena ternyata jam tadi mati. Ketika kita lupa bahwa kita hidup di masa kasih karunia, semua yang kita perbuat pasti kacau. Melakukan hal yang baik di masa yang salah, hasilnya pasti salah. Melakukan segala sesuatu buat Tuhan akan sia-sia dan tidak berkenan.

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia - Roma 6:14

Hidup manusia dibagi menjadi 3 jaman:
1. Masa sebelum Taurat: manusia hidup berbuat baik menurut hati nuraninya sendiri
2. Masa hukum Taurat: manusia bisa selamat jika melakukan semua hukum Taurat
3. Masa kasih karunia: manusia selamat ditentukan oleh iman kepada Yesus.
Dari masa ke masa, manusia harus hidup sesuai dengan jamannya, jika hanya ber-iman di jaman hukum Taurat, tidak akan selamat, begitu sebaliknya jika melakukan hal yang baik tanpa iman di jaman kasih karunia, juga tidak selamat. Sebaik dan setaat apapun perbuatan kita, tetapi tanpa iman, tidak akan selamat.
Luk. 15 menggambarkan 3 masa kehidupan manusia
- Ay. 1-7 perumpamaan domba yang hilang (masa sebelum Taurat). Manusia digambarkan seperti domba (domba itu binatang yang bodoh gampang tersesat), maka Allah langsung turun tangan mengutus nabi-nabi.
- Ay. 8-10 perumpamaan dirham yang hilang (masa hukum Taurat). 10 dirham menggambarkan 10 hukum Taurat, jika melanggar 1 saja maka akan ditolak mempelai pria.
- Ay. 11-32 perumpamaan anak yang hilang (masa kasih karunia), kita menghidupi masa kasih karunia ini. Kita harus belajar hidup di bawah kasih karunia, jika tidak maka semua yang kita perbuat tidak akan berkenan. Anak sulung hidup di bawah Taurat, ia tidak mau mengampuni adiknya karena memang adiknya bersalah. Kesalahan di jaman Taurat memang tidak akan diampuni. Mungkin kitapun berpikir anak sulung lebih baik.

Bagaimana belajar hidup di bawah kasih karunia:
1. Perbuatan kita tidak pernah mempengaruhi kasih Allah pada kita (ay. 11-13, 25).
Anak bungsu nakal, anak sulung baik dan setia, tetapi kasih Bapa terhadap mereka sama, berkatnya sama. Kasih Bapa tidak berkurang karena kenakalan bungsu dan tidak bertambah karena kebaikan sulung. Jadi perbuatan kita tidak mempengaruhi kasih Bapa terhadap kita. Iblis ingin menyembunyikan hal ini dari kita karena ketika kita berbuat dosa, kita pasti berpikir kasih Tuhan berkurang, Tuhan marah, tidak diberkati lagi sehingga kita takut dan menjauh dari Tuhan, dan dosa kembali berkuasa terhadap kita. Kenyataannya, kasih, berkat, penyertaan Tuhan tetap sama, Tuhan tidak menurunkan hujan hanya di rumah orang yang baik saja (Mat. 5:45).
Sebaik-baiknya orang tidak percaya dibandingkan seburuk-buruknya orang percaya, lebih tinggi orang percaya (tetapi bukan berarti kita boleh berbuat dosa seenaknya). Yesus mati bagi kita sebelum kita mengenal Tuhan, saat kita masih hidup dalam dosa (Rom. 5:8-9). Kita terlalu meremehkan kasih karunia ketika kita merasa tidak lagi dikasihi Allah ketika berbuat dosa.
Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita berdosa (ay. 18-19)? Seburuk apapun dosa, kapanpun kita berbalik kepada Tuhan, Tuhan menerima. Yang berbahaya ketika pikiran kita salah, menganggap Tuhan marah, merasa jauh dari Tuhan, tidak mau datang pada Tuhan, sebenarnya itu kasih kita yang berubah terhadap Tuhan dan kita bisa gagal seperti bangsa Israel (Rom. 9:32). Jika kita berbuat dosa, datang pada Tuhan, akui dosa itu dan Tuhan akan mengampuni.

2. Hak kita sebagai anak Allah (ay. 29, 31).
Hak kita sebagai anak Allah berarti segala kepunyaan Tuhan sudah diberikan kepada kita. Kita tidak yakin segala kepunyaan Tuhan adalah milik kita sehingga ketika iblis mencurinya satu persatu (berkat jasmani, kesehatan, dll) kita diam, pasrah dan berkata “ini kehendak Tuhan” dan hidup kita menderita di masa kasih karunia yang tidak mungkin menderita. Tuhan sangat senang memenuhi kebutuhan kita anak-anakNya (Yak. 4:2b; Yoh. 16:24), dan ini hak kita.
Dalam Mrk. 16:17-18, ada hak kita yang tidak pernah kita pakai:
- Memakai nama Yesus (Flp. 2:10), semua tunduk dalam nama Yesus. Ketika kita mengalami sesuatu, kita berhak memakai nama Yesus. Biasanya saat menghadapi sesuatu, kita berdoa, menangis, minta jawaban Tuhan, padahal nama Tuhan sudah diberikan kepada kita. Pakailah nama itu saat kita tidak bisa mengatasi sesuatu yang kita hadapi.
- Bicara dalam bahasa Roh (1Kor. 14:18), bahasa Roh membangun diri sendiri, kita berhak memakainya terutama saat kita merasa lemah.
- Otoritas atas iblis (Mat. 18:18), usir saja iblis karena kita juga berhak.
- Perlindungan (Maz. 34:8)
- Kesembuhan (1Pet. 2:24). Transaksi di atas kayu salib (Yes. 53:4-5), ada perjanjian yang tidak bisa dibatalkan, penyakit kita ditanggung dan dosa diampuni. Banyak di antara kita tidak sadar hak ini. Ketika iblis datang menawarkan dosa, kita lari dan usir iblis, tetapi saat diberi penyakit, kita berterimakasih dan pasrah menerima penyakit.

Mari hidup di dalam kasih karunia Tuhan, percaya kasih Allah tidak berubah, dan pakailah hak kita sebagai anak Allah. Tuhan memberkati. (LL)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com