Minggu April 22 , 2018

Tak Pernah Ditinggalkan

Pdp. Jacky Mamahit
Minggu, 25 Februari 2018

Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?” Yesaya 40:27

Ayat di atas merupakan perkataan yang seringkali diucapkan oleh bangsa Israel dalam doa mereka ketika mereka dalam pembuangan. Tekanan yang terjadi dalam pembuangan membuat mereka merasa tidak lagi diperhatikan oleh Tuhan. Mereka lupa akan kasih setia Tuhan, sehingga hati dan iman mereka kepada Tuhan menjadi berubah. Apakah saat ini Saudara juga dalam kondisi kerohanian seperti bangsa Israel ini? Mungkin Saudara sudah sekian lama berdoa dan bergumul untuk sesuatu namun masih tidak ada jawaban?
Tuhan sebenarnya tidak pernah meninggalkan kita. Ia tetap memperhatikan kita. Dalam Mzm. 32:8 Tuhan berkata: “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” Mata Tuhan senantiasa tertuju kepada kita! Apapun kondisi kita saat ini Ia tahu dan mengerti. Hidup kita tidak pernah tersembunyi dari mata Tuhan. Ia tidak pernah lupa, apalagi meninggalkan kita. Karena itu jangan menjadi kecewa dan tetaplah berdoa.
Tuhan pasti akan menjawab setiap seruan doa kita. Namun bila doa kita seakan-akan terhalang, maka kita perlu mengoreksi diri kita. Apakah masih ada dosa dalam kehidupan kita? Tangan Tuhan senantiasa terulur untuk menyelamatkan kita dan telinga-Nya senantiasa mendengar setiap doa kita, namun yang menjadi pemisah antara Allah dan kita sehingga Ia tidak mendengar doa kita adalah segala dosa dan kejahatan kita (Yes. 59:1-2). Karena itu tanggalkan semuanya dan mintalah roh yang takut akan Tuhan (Mzm. 33:18).

Ada dua respon yang umumnya dilakukan ketika menghadapi masalah, yaitu:
1. Bersungut-sungut
Orang yang bersungut-sungut biasanya suka mengomel atau menggerutu, juga marah-marah dan tidak bersyukur. Ia akan menyalahkan orang lain atas keadaan tidak mengenakkan yang dialaminya. Dan lama kelamaan ia akan menyalahkan Tuhan karena menganggap bahwa Tuhanlah yang mendatangkan segala yang buruk dalam kehidupannya.
Inilah yang dilakukan oleh bangsa Israel. Setelah dibawa keluar oleh Tuhan dari perbudakan, mereka bukannya bersyukur, tapi malah bersungut-sungut setiap kali menghadapi ujian (Kel. 15:23-25; 16:1-3). Ketika menghadapi jalan buntu mereka bukannya berseru kepada Tuhan, tetapi mereka malah bersungut-sungut menyalahkan Musa dan menyalahkan Tuhan. Bahkan dalam Kel. 14:10-14 mereka dengan beraninya menyebut-nyebut soal kematian: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?”
Maka Tuhan mendengar dan menjawab sesuai persungutan mereka itu. Dari sekian juta orang Israel yang keluar dari Mesir, hanya Yosua dan Kaleb yang boleh masuk Kanaan, sementara sisanya dibinasakan Tuhan di padang gurun. Tuhan membenci persungutan! Ia mendengar dan memperhitungkan semuanya! Karena itu buanglah segala persungutan dan perbantahan dari hidup kita. Jangan sampai perjuangan iman kita menjadi sia-sia (tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Sorga) karena persungutan.
Ayb. 7:1 berkata: “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?” Pergumulan hidup adalah hal yang biasa dihadapi oleh semua orang sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia. Kalau Tuhan ijinkan terjadi, maka ada proses yang indah di dalamnya. Dan proses itu tidak akan melebihi kemampuan kita, karena itu tidak perlu takut. Hadapilah segala pergumulan bersama Tuhan. Tuhan mampu mengubah yang pahit menjadi manis (Kel. 15:25).

2. Bersyukur
Dalam mazmurnya Daud bersyukur kepada Tuhan: “Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!” (Mzm. 4:2). Pada masa mudanya Daud bukanlah seseorang yang diperhitungkan oleh orang lain. Tapi ketika Tuhan memilihnya, seluruh kehidupannya berubah. Ia selalu percaya bahwa Allah mampu mengangkat dan membenarkan seseorang.
Ketika Yosua akan meneruskan estafet kepemimpinan dari Musa, Tuhan berulang kali berkata kepada Yosua supaya jangan takut (Yos. 1:6-8). Tuhan berjanji tidak akan meninggalkan Yosua sendiri. Sama seperti penyertaan Tuhan kepada Musa, demikianlah Tuhan akan menyertai Yosua. Dan Tuhan memang menyatakan mujizat demi mujizat, serta kemenangan demi kemenangan dalam kehidupan Yosua.
Begitu jugalah janji penyertaan Tuhan bagi kita saat ini! Jangan ragukan kedaulatan-Nya atas hidup kita. Yang perlu kita lakukan adalah fokus kepada-Nya dan bersyukur. Jangan fokus kepada diri sendiri, sebab itu hanya akan mendatangkan rasa “sayang diri” (Mal. 3:6). Percayalah bahwa Allah lebih sayang kepada kita daripada kita sayang diri kita! Kasih-Nya kepada kita dapat diandalkan, sebab Ia tidak pernah berubah.
Semasa hidupnya Pendeta Billy Graham pernah berkata: “Rumahku itu di sorga. Aku hanya sedang berjalan-jalan melewati dunia ini.” Bahkan ia pernah berkata: “Bila suatu hari engkau mendengar bahwa Billy Graham meninggal, jangan mempercayai hal itu. Aku hanya berpindah alamat dari dunia ini ke hadirat Tuhan.” Sebuah pandangan hidup yang sangat luar biasa. Ia percaya bahwa hidupnya benar-benar ada dalam genggaman tangan Tuhan.
Bagaimana dengan Saudara? Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan Saudara! Seberat apapun pergumulan yang Saudara alami, buanglah segala persungutan dan belajarlah untuk mengucap syukur. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk. 18:7-8) Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com