Jumat Juni 22 , 2018

Dibenarkan Oleh Iman - Pelajaran Surat Roma (62)

Rom. 8:14)  Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

- Ayat ini menegaskan sekaligus menguatkan bahwa sebagai anak Allah kita memiliki Roh Kudus di dalam kita, jangan ragu lagi! Dan Roh Kudus inilah kunci kemenangan kita atas daging. Bagaimana caranya? Dengan berjalan menurut pimpinan Roh Kudus. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa memahami pimpinan Roh Kudus di dalam kita? Jawaban dari pertanyaan ini bisa sangat rumit tetapi mari kita sederhanakan. Bapa Gereja Agustine menjelaskan sebagai berikut : “It’s real simple. Love the Lord and do whatever you want” (Sederhana sekali untuk mengerti pimpinan Tuhan, kasihi Tuhan dan lakukan apa yang engkau kehendaki). Walaupun kedengarannya agak ekstrim, namun ada benarnya, karena seseorang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan tidak mungkin melakukan hal-hal yang menyakiti hati Tuhan. Kalau boleh saya perjelas, ada dua hal yang memagari apakah langkah kita dalam pimpinan Roh Kudus atau bukan, yakni :
1. Tidak bertentangan dengan Firman – Firman Tuhan adalah ilham Roh Kudus (2Pet. 1:21), sebab itu pimpinan Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan Firman Tuhan.
2. Berangkat dari kasih – Tuhan itu kasih, Roh Kudus itu Roh kasih, maka pimpinannya selalu berdasarkan atas kasih.
Demikianlah kita tahu apakah kita dalam pimpinan Roh atau bukan…

(Rom. 8:15)  Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
- Di sini Paulus menjelaskan bahwa pimpinan Roh itu membawa kebebasan, karena Roh yang Allah berikan kepada kita ialah Roh anak, dalam bahasa Inggris dipakai kata “Spirit of adoption” (Roh pengangkatan sebagai anak; Roh adopsi). Keberadaan Roh Kudus di dalam kita membuktikan bahwa kita ini adalah “anak”, bukan budak! Mari kita camkan dan hayati hal ini bahwa kita ini adalah “anak”, bukan bawahan, bukan hamba! Di dalam kisah anak terhilang (Luk. 15), ketika anak bungsu itu pulang ke rumah bapanya ia diliputi ketakutan dan ia merasa tidak layak lagi menjadi anak bapanya. Ia cukup puas kalau ia dianggap sebagai hamba. Namun bapa itu begitu murah hati sehingga ia tetap mengangkatnya sebagai anak, posisinya sebagai anak dikembalikan lagi seperti semula. Sebaliknya kita melihat anak sulung, walaupun ia selalu bersama-sama dengan bapa tetapi ia memposisikan dirinya sebagai seorang hamba yang hanya tahu bekerja dan bekerja tetapi tidak menikmati kekayaan bapanya. Hal ini menjadi cermin bagi kita. Bagaimana sikap hati kita sebagai orang Kristen? Apakah kita merasa sebagai anak yang dikasihi oleh Bapa atau kita hanya merasa sebagai hamba yang hanya dituntut untuk bekerja dan bekerja? Saudara-saudara, Bapa kita ialah Bapa yang amat sangat baik, camkan hal ini…

(Rom. 8:16)  Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

- Keyakinan sebagai anak Allah itu bukan hanya berasal dari diri kita sendiri. Kalau seandainya demikian maka kesaksian tersebut perlu diragukan, karena berasal dari diri kita sendiri. Tetapi keyakinan itu berasal dari kesaksian internal (inner witness), yaitu dari Roh Allah yang berdiam di dalam kita. Firman Tuhan berkata bahwa kesaksian dari dua orang adalah sah. Sebab itu jangan ragu lagi bahwa anda dan saya adalah anak-anak Allah! (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com