Jumat Juli 20 , 2018

Mempersiapkan Makanan

Pdt. Eny Setiabudi - Kaliurang
Sabtu, 10 Februari 2018

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Wahyu 3:20
Ayat di atas berkata bahwa Yesus sudah berdiri di pintu hati kita dan mengetok. Ketokan merupakan sebuah kode atau tanda bahwa Ia ingin masuk ke dalam kehidupan kita. Dan Ia menantikan respon kita terhadap ketokan-Nya tersebut. Bila kita meresponinya dengan membuka pintu, maka Ia akan masuk dan makan bersama dengan kita, berdua saja secara pribadi. Maka dapat dipastikan kita akan menikmati kebahagiaan yang sejati. Jadi inti dari ayat di atas adalah Tuhan akan mengadakan perjanjian makan yang sifatnya pribadi bagi mereka yang siap membuka pintu hatinya.
Dan perjanjian makan ini menyangkut beberapa aspek, seperti tempat, siapa yang akan menyediakan makanan, kapan waktunya, dan menu makanan apa yang disediakan. Tempatnya tentu saja di rumah hati kita masing-masing. Lalu karena kita adalah tuan rumahnya, maka kitalah yang harus menyediakan makanan bagi Tuhan. Perjanjian makan itu akan terjadi ketika makanan sudah siap. Dan untuk menghormati Tuhan sebagai Tamu Agung kita, maka sudah seharusnya kita menyediakan menu kesukaan Tuhan di rumah hati kita. Apa saja menu kesukaan Tuhan itu?
1. Melakukan kehendak Bapa
Dalam Yoh. 4:31-34 dicatat bahwa setelah Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria, murid-murid-Nya datang dan memberikan makanan kepada Yesus. Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Dan itulah yang menjadi makanan Yesus setiap harinya. Dari sejak Ia turun ke dunia ini sampai mati di kayu salib, Ia hanya melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa. Puncaknya adalah ketika Ia berdoa dan bergumul di Taman Getsemani (Mat. 26:39).
Meskipun Yesus harus mati di atas kayu salib, tapi Yesus tidak menetapkan semua orang percaya untuk mati di atas kayu salib seperti diri-Nya. Tapi Ia ingin kita sebagai pengikut-Nya untuk menyangkal diri dan memikul salib kita setiap hari (Luk. 9:23). Ini berbicara tentang menolak segala kedagingan dan melakukan apa yang menjadi kehendak dan kerinduan hati Tuhan. Menyangkal diri dan memikul salib memang bukanlah hal yang mudah, tapi kalau kita mengasihi Tuhan kita pasti rela melakukan apa yang diperintahkan Tuhan.
Namun ingat Tuhan tidak ingin kita melakukan kehendak-Nya setengah-setengah. Ia ingin kita juga melakukannya sampai selesai, bukan malah undur di tengah perjalanan karena harus berhadapan dengan berbagai tantangan. Semakin banyak talenta dan kepercayaan yang Tuhan berikan, maka semakin besar pula tantangan yang menghadang. Setialah sampai akhir seperti Yesus yang berkata “Sudah selesai” ketika nyawa-Nya terputus (Yoh. 19:30) dan dengan demikian Ia menerima kemuliaan yang besar. Percayalah ada berkat yang besar di balik kehendak-Nya.

2. Suka mendengarkan perkataan Tuhan
Dalam Luk. 10:38-39 dicatat mengenai Maria dan Marta, dua saudara yang bertolak belakang sikapnya dalam meresponi firman Tuhan. Marta begitu sibuk dan tidak mengutamakan firman, tetapi Maria suka duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Tuhan senang kalau kita menjadi orang-orang yang peka akan suara-Nya. Mengapa? Karena kepekaan itulah yang akan menjaga kita dari kejatuhan. Ketika kita tidak lagi mendengarkan suara-Nya, maka kita pasti akan lebih condong mendengarkan suara hati kita sendiri atau suara dunia (Iblis) yang akan melemahkan iman percaya kita.
Kepekaan kita mulai diasah ketika kita mau menerima semua firman-Nya. Jangan lagi memilih-milih firman mana yang cocok dan mana yang tidak untuk dilakukan. Dan jangan lagi memandang keadaan sekitar ataupun situasi hati! Lakukanlah dengan mata yang tertuju pada Yesus (Ibr. 12:2). Kita bukan dipimpin oleh perasaan kita. Kita juga tidak dipimpin oleh orang lain atau keadaan di sekitar kita. Tapi kita dipimpin oleh Roh Kudus dan firman Allah! Tiap hari kita akan menghadapi tantangan yang baru, namun ketika kita peka akan suara-Nya kita akan mampu melihat jawaban yang tersembunyi di dalam firman-Nya. Tuhan sudah menyediakan ayat yang tepat untuk setiap kondisi.

3. Memiliki hati yang hancur
Tuhan berkata dalam Yes. 57:15, “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati…”     Tuhan suka ketika kita memiliki hati yang hancur saat mendengarkan firman Tuhan. Kita memiliki kerendahan hati untuk rela ditegor dan diperbaiki oleh firman, sehingga kita menyadari kesalahan kita dan menyadari bahwa kita memerlukan Tuhan untuk memulihkan.
Hati yang remuk ini adalah seperti hati yang dimiliki oleh Raja Daud ketika ditegor oleh Nabi Natan  setelah ia berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria. Daud begitu menyesal sehingga tidak lagi kembali pada kesalahan yang sama. Ia mempersembahkan hati yang hancur kepada Tuhan (Mzm. 51:18-19). Bahkan ia rela kehilangan semuanya asalkan ia tidak kehilangan Tuhan dan hadirat-Nya (Mzm. 51:13). Daud menyadari bahwa hanya di dalam hadirat-Nya ada mujizat dan pemulihan. Inilah yang membuat Tuhan berkenan dan mengasihi Daud.

Ketika kita makan bersama dengan Tuhan, Tuhan menyediakan pengalaman ilahi yang selalu baru serta berkat-berkat yang melimpah. Apakah Saudara siap? Tuhan saat ini mengetok pintu hati Saudara dan menunggu jawaban Saudara. Karena itu kejarlah apa yang menjadi kehendak-Nya, miliki kepekaan akan suara-Nya dan persembahkan hati yang hancur kepada-Nya. Tuhan Yesus memberkati! (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com