Senin May 21 , 2018

Dosa Kedegilan

Pdm. Daniel Rudianto
Minggu, 4 Februari 2018

Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja. 1Samuel 15:23

Ayat di atas adalah perkataan Samuel kepada Saul ketika ia ditolak oleh Tuhan sebagai raja atas Israel. Mari kita bandingkan terlebih dahulu dengan Daud untuk mengerti apa yang menjadi penyebab ia ditolak oleh Tuhan. Raja Daud pernah jatuh dalam dosa perzinahan dan pembunuhan, namun ia diampuni oleh Tuhan dan ia menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan. Sementara Raja Saul dosanya tidak seberat Daud, tapi ia ditolak oleh Tuhan karena kedegilan hatinya.
Apa itu dosa kedegilan? Dosa kedegilan adalah dosa kekerasan hati, dosa ketidakpercayaan (tidak mau percaya kepada firman Tuhan), serta sikap hati yang tidak mau berubah. Sikap hati inilah yang membuat dosa ini menjadi satu-satunya dosa yang tidak dapat ditebus oleh Tuhan, meskipun kelihatannya lebih ringan dari dosa lainnya seperti berzinah atau membunuh. Karena terlihat ringan maka tanpa disadari dosa ini sudah banyak menyusup dalam kehidupan orang percaya.
Kita mungkin bersikap seperti Raja Saul setiap harinya. Kita begitu sibuk menjaga hidup kita ini agar tidak jatuh ke dalam dosa. Tapi bagaimana dengan dosa kedegilan ini? Kita dapat jatuh dalam dosa ini ketika kita mulai tidak percaya kepada firman-Nya yang hidup dan berkuasa. Dan dosa kedegilan ini justru jauh lebih berbahaya dari dosa lainnya karena sifatnya yang tidak kelihatan. Ingat, bangsa Israel pun binasa karena kedegilan mereka yang tidak mau percaya kepada Tuhan (Rm. 11:20, 23). Jadi kita diselamatkan bukan karena tidak melakukan dosa, tapi karena percaya kepada Tuhan Yesus, sehingga beroleh kasih karunia dari-Nya.
Ada tiga jenis dosa kedegilan, yaitu:
1. Tidak percaya kepada firman Tuhan
Sebagai ayat yang mewakili Perjanjian Lama, Ams. 30:5 berkata: “Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya.” Sementara itu dalam Perjanjian Baru juga dikatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim. 3:16).
Kedua ayat ini jelas menyatakan bahwa segala yang ditulis di Alkitab adalah ilham dari Allah. Karena itu sudah seharusnya kita ini percaya bahwa keseluruhan tulisan dalam Alkitab adalah untuk kita hari ini, karena firman itu murni dan berkuasa. Dosa kedegilan dimulai ketika kita hanya percaya sebagian saja firman Tuhan, juga ketika kita memilih-milih mana firman yang cocok untuk diterima dan dilakukan, dan mana firman yang ditolak dan diabaikan karena tidak cocok di hati kita.
Hal ini sering terjadi ketika kita menghadapi kekuatiran. Kekuatiran akan hari esok dan kekuatiran akan kebutuhan hidup adalah bentuk dari dosa kedegilan. Mengapa? Karena Mat. 6:34 dengan jelas berkata: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Flp. 4:19 juga berkata: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”
Kekuatiran merupakan dosa kedegilan karena menunjukkan ketidakpercayaan akan firman Tuhan yang telah secara jelas berkata bahwa Allah akan memelihara dan mencukupi kebutuhan kita. Dengan kuatir berarti kita sedang menghina Tuhan, kita seolah-olah berkata bahwa Tuhan tidak sanggup menolong kita. Kalau ditelusuri kembali, Raja Saul pun berdosa karena ia kuatir kalau Tuhan tidak menolong tepat pada waktunya, sehingga ia akhirnya nekat mempersembahkan korban yang bukan menjadi tugasnya. Karena itu buanglah segala kekuatiran dari dalam hati kita.

2. Tidak percaya akan kasih Allah
Allah mengutus Yesus, Anak-Nya yang tunggal, ke dalam dunia ini bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya (Yoh. 3:16-17). Ayat ini menunjukkan betapa besar dan kekalnya kasih Allah akan dunia ini. Namun sayangnya kita seringkali tidak percaya akan kasih Allah ini. Ketika kita melakukan dosa atau kesalahan, kita langsung berpikir bahwa Tuhan sudah membenci kita dan akan mengambil segala berkat-Nya dari hidup kita dan balik menghukum kita dengan berbagai bencana.
Dosa kedegilan masuk dalam hati kita ketika kita berpikir bahwa Tuhanlah yang mendatangkan segala masalah, sakit penyakit dan kutuk dalam hidup kita. Hati yang degil percaya bahwa Tuhan adalah Bapa yang kejam, sehingga mengambil yang baik dan memberikan yang buruk. Padahal hati Bapa justru kebalikannya. Perhatikan perumpamaan anak yang hilang dalam Luk. 15:11-32 yang menggambarkan hati Bapa kepada kita, anak-anak-Nya, setiap saat.
Renungkan ini! Anak bungsu menderita bukan karena bapanya, tapi karena Iblis melalui dosa yang sudah diperbuatnya. Sedangkan bapa justru senantiasa menunggu anaknya kembali untuk dapat melimpahi anaknya itu dengan pengampunan dan pemulihan. Dan bukan dosa besar yang menghalangi anak bungsu ini pulang, tapi dosa kedegilan. Anak bungsu ini percaya bahwa bapanya akan marah dan menjadikannya hamba di rumahnya sendiri.
Pahamilah kasih Allah dengan benar! Banyak anak Tuhan yang berdosa kepada Tuhan bukan hanya saat ia melakukan dosa, namun setelah melakukan dosa ia tidak percaya bahwa dosanya sudah diampuni. Percayalah bahwa kasih Allah yang kekal itu tidak berkurang sedikitpun ketika kita jatuh dalam dosa. Justru Tuhan ingin kita datang kepada-Nya untuk menerima pemberesan, pengampunan dan pemulihan di dalam Kristus (Yes. 1:18; 1Yoh. 1:9).

3. Tidak percaya mujizat masih terjadi
Mrk. 16:17-18 (BIS) berbunyi: “Sebagai bukti bahwa mereka percaya, orang-orang itu akan mengusir roh jahat atas nama-Ku; mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak mereka kenal. Kalau mereka memegang ular atau minum racun, mereka tidak akan mendapat celaka. Kalau mereka meletakkan tangan ke atas orang-orang yang sakit, orang-orang itu akan sembuh.”
Bukti bahwa kita adalah orang percaya tidak lain adalah mujizat! Namun sayangnya ada banyak orang percaya yang hari-hari ini sudah tidak percaya bahwa mujizat itu masih terjadi. Mengapa? Karena mereka tidak melihat dan mengalami mujizat itu secara pribadi. Sebenarnya yang menjadi penghalang seseorang tidak mengalami mujizat adalah ketidakpercayaannya.
Mrk. 6:5-6a berkata bahwa Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan orang-orang di tempat asal-Nya. Yesus heran ketika kita tidak lagi percaya kepada mujizat, sebab mujizat adalah sesuatu yang sudah sewajarnya terjadi dalam kehidupan orang percaya. Kita perlu mujizat setiap hari! Kalau Yesus saja memerlukan mujizat untuk menyatakan kemuliaan Allah, terlebih lagi kita.
Kita sering berpikir bahwa sakit penyakit adalah berasal dari Tuhan, sehingga kalau kita sakit kita berpikir bahwa itu adalah kehendak Tuhan. Padahal Yes. 53:4-5 justru berkata bahwa penyakit kita sudah ditanggung oleh Yesus di atas kayu salib. Tidak ada penyakit yang berasal dari Tuhan! Tuhan justru ingin anak-anak-Nya menikmati berkat dan kesembuhan. Karena itu penyakit harus dilawan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus (1Pet. 2:24).
Dalam Mat. 11:20-21 Yesus lebih mengecam kota Khorazim dan Betsaida yang berisi umat Tuhan dibandingkan kota Tirus dan Sidon yang jahatnya luar biasa. Mengapa? Karena umat Tuhan di kota Khorazim dan Betsaida hatinya degil dan tidak mau percaya pada mujizat yang sudah jelas-jelas nyata terjadi. Jangan sampai hal ini terjadi dalam kehidupan kita!

Jadi dapat disimpulkan bahwa dosa kedegilan adalah dosa karena tidak percaya kepada firman Tuhan, tidak percaya akan kasih Allah, dan tidak percaya mujizat masih terjadi. Marilah kita membuka hati kita dan mengijinkan Roh Kudus untuk memeriksa dan membuang setiap ketidakpercayaan dari dalam hidup kita, sehingga kita dapat menikmati berkat yang sempurna. Tuhan Yesus memberkati! (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com