Selasa September 25 , 2018

Empat Macam Tanah

Pdt. Simon Kostoro
Sabtu, 3 Februari 2018

Mat. 13:1-23; Mrk. 4:1-20; Luk. 8:4-15

Perumpamaan ini sangat penting sebab perumpamaan ini adalah kunci untuk memahami perumpamaan-perumpamaan yang lain (Mrk. 4:13). Berbicara 4 macam tanah adalah berbicara tentang 4 macam respon hati manusia terhadap Firman Tuhan. Juga mengajar kepada kita secara pribadi yaitu bagaimana seharusnya kita merespon Firman Tuhan dengan benar.
Alkitab sudah menjelaskan bahwa benih yang ditabur itu adalah Firman, dan tanah yang menerima itu berbicara tentang hati manusia.

“BENIH” yang bagaimana?
1. Benih Unggul (Yes. 55:11)
Firman itu tidak akan pernah kembali sia-sia. Benih ini seharusnya menghasilkan hasil yang optimal yakni 100 kali ganda. Jika benih itu, ketika ditabur tidak sampai menghasilkan, maka yang salah itu bukanlah benihnya melainkan tanahnya. Sebab benih yang ditabur adalah benih yang unggul.

2. Benih yang kekal (1Pet. 1:23)
Artinya: benih itu akan membawa kita kepada hidup yang kekal, hasilnya itu tidak hanya sebatas di dunia ini saja, melainkan sampai kepada kekekalan.

3. Memiliki Daya Cipta yang Dahsyat (Roma 4:17; Ibr. 11:3)
Firman Tuhan itu berdaya cipta yang sangat dahsyat, dapat menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada (Rom. 4:17). Tuhan menciptakan alam semesta dengan FirmanNya.
Sekarang mari kita lihat berbicara apakah tanah-tanah ini…
Tanah 1:   “Tanah di pinggir jalan...”
Berbicara tentang hati yang tidak siap (tidak dipersiapkan). Firman Tuhan (Pengk. 4:17) berkata bahwa ketika kita datang ke Rumah Allah kita harus menjaga langkah kita, artinya kita harus menyiapkan hati kita. Disinilah pentingnya peranan Praise & Worship. Selain kita membawa persembahan kepada Tuhan, saat itu kita juga sedang mempersiapkan tanah hati kita.
Jangan pula kita mendengar Firman untuk “orang lain”, maksudnya ialah ketika kita mendengar Firman kita selalu mencocokkan dengan orang lain, kita tidak mencocokkan dengan kehidupan kita sendiri. Kita harus belajar bahwa ketika kita mendengar Firman, kita mendengar untuk “diri sendiri”. Orang lain berurusan sendiri-sendiri dengan Tuhan.
Kata kunci untuk tanah I ini adalah “SIAP”. Artinya hati kita harus siap untuk menerima Firman.

Tanah 2: “Tanah yang Berbatu-batu...”
Sebelum menabur maka seorang petani akan membajak tanahnya, dan jika terdapat batu-batu maka seharusnya batu-batu itu diambil dan dibuang. Tetapi disini batu itu tidak dibuang!
“Batu” berbicara hati yang keras; tidak mau berubah; tidak mau percaya; menolak Firman; sombong. Tanah yang berbatu sulit untuk menerima Firman Tuhan. Walaupun senang mendengar Firman tetapi tidak mau berubah.
Benih yang ditabur di tanah yang berbatu tidak berakar sehingga sinar matahari membuatnya cepat layu. Matahari sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, tetapi di sini matahari yang seharusnya membawa kehidupan, justru malah mematikan.  Matahari berbicara tentang kesulitan hidup, aniaya, persoalan, masalah kehidupan kita. Hal-hal itulah yang sebenarnya membuat kerohanian kita bertumbuh. Itu sebabnya benih itu harus berakar dalam kehidupan kita.
Kata kunci untuk tanah yang berbatu adalah “BUANG!”, yaitu buang semua batu-batu dari tanah hati kita.

Tanah 3: “Tanah bersemak duri...”
Ini adalah tanah yang campuran (bercampur), sebab disamping benih yang baik, tumbuh juga benih semak duri, dan pada ahkirnya semak duri akan menghimpit benih yang baik itu. Ini adalah Hati yang “campuran (bercampur)”.
“Duri” berbicara:
1. Kekuatiran dunia (Mat. 6:24-34). Jangan kuatir tentang apa pun juga. Cari Tuhan dan utamakan Kerajaan Allah, maka Tuhan yang akan ambil alih semua kekuatiran kita.
2. Tipu daya kekayaan (Mat. 6:19-21). Kekayaan bisa membuat orang merasa aman (sehingga kita tidak lagi mengandalkan Tuhan), menjadikan sombong. Bukan berarti kita tidak boleh menjadi kaya, tetapi mari kita waspada terhadap kekayaan. Jangan sampai hati kita terikat kepada kekayaan tersebut.
3. Kenikmatan Hidup (1Tim. 6:6-8). Jangan juga karena kenikmatan yang hanya sementara kita mengorbankan yang kekal.
Kata kunci untuk tanah ini adalah “CABUT”. Cabut “duri-duri”itu supaya tidak menghalangi pertumbuhan iman kita.

Tanah 4: “Tanah yang subur...”
Berbicara tentang hati yang Gentle & Humble Spirit (lemah lembut dan rendah hati). Seperti hatinya Yesus (Mat. 11:29).
Yak. 1:21-22  “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu…”
Kata kunci untuk tanah ini adalah “SAMBUT”. Mari kita menyambut Firman Tuhan dengan roh yang lemah lembut.

Kesimpulan:
Jika kita mau menerima berkat-berkat yang optimal dari Firman Tuhan kita harus : SIAP ➔ Buang ➔ CABUT ➔ SAMBUT, maka panen raya akan menanti kita semua!
Tuhan Yesus memberkati! (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

GPdI Lembah Dieng


Jalan Lembah Dieng H1

Malang, Jawa Timur

Indonesia

phone : 0341-551692

fax : 0341-559435