Senin May 21 , 2018

4G for Jesus

Pdt. Hardi R. Halim
Minggu, 28 Januari 2018

“Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.  Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13:10-14

Kita harus meninggalkan masa kanak-kanak untuk menjadi  dewasa dalam Tuhan. Cermin pada masa itu bukan seperti kaca yang kita kenal sekarang. Pada waktu itu hanya sejenis aluminium sehingga pantulan yang terlihat hanya samar-samar, bukan seperti saat ini kita dapat melihat dengan jelas saat kita bercermin. Seperti tekhnologi handphone, sebelum ada 3G dan 4G, kita hanya bisa berkomunikasi lewat suara. Ketika 3G, kita sudah bisa berkomunikasi dengan melihat (video call) dan kemudian meningkat dengan tekhnologi 4G yang sinyalnya lebih bagus.
Demikian kita orang percaya, semakin hari kita semakin mengenal Tuhan dan menikmati janji-janji Tuhan. Sebenarnya itu sudah bukan janji karena Tuhan sudah menggenapinya, dan kita harus percaya penggenapan itu adalah jaminan bagi kita untuk menerimanya.

4G yang harus kita lalui untuk menerima janji Tuhan
1. Getsemani
Di Getsemani Yesus berdoa ketika menuju salib. Titik di mana Yesus akan menyelamatkan manusia supaya manusia benar-benar mengalami jaminan keselamatan. Yesus berdoa, jika boleh cawan ini berlalu, tetapi bukan kehendakNya melainkan kehendak Bapa yang jadi. Bisakah kita belajar menerima saat apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita doakan? Tetapi kita harus percaya ujungnya adalah kesempurnaan.

2. Gabata (Yoh. 19:13)
Pilatus duduk di kursi pengadilan dan berkuasa untuk membenarkan atau menyalahkan. Pilatus, penguasa saat itu, tahu bahwa Yesus tidak bersalah, bahkan istrinya sudah mengingatkannya. Di atas Gabata, pikirannya adalah Yesus orang benar tetapi saat mendakwa, ia merubah keputusannya karena teriakan orang Yahudi “salibkan Dia”. Sering kita mengalami hal yang sama, berbuat baik malah dijahati. Siapkah kita menerima jika disalahkan bahkan diperlakukan tidak baik?

3. Golgota (Yoh. 19:16-17)
Di atas Golgota, Tuhan menggenapi panggilannya dan kita diselamatkan dan ada kuasa kebangkitan. Tanpa Golgota, rencana Tuhan tidak akan terjadi. Yesus berkata, “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” lalu Yesus menyerahkan nyawaNya. Mengapa Yesus mati? Karena Ia menyerahkan nyawaNya. Jika Yesus tidak menyerahkan nyawaNya, maka sampai saat ini Ia tetap tidak akan mati dan kita tidak terselamatkan. Karena Yesus adalah Allah 100%. Ketika Yesus mati, maka genaplah keselamatan kita.
Saat itu iblis merasa menang tetapi 3 hari kemudian Yesus bangkit dan menunjukkan bahwa Ia 100% Allah. Siapkah kita mengampuni orang lain?

4. Gembira
Setelah kita diselamatkan, inilah yang harus kita kerjakan karena Gembira itu menentukan berkat yang akan kita terima. Kis. 2:41-47 menceritakan tentang gereja yang bertumbuh. Sukacita yang menarik orang kepada Yesus, membuat orang ingin mengetahui ada apa di gereja.
Orang Majus ketika melihat bintang tahu bahwa ada raja yang lahir. Orang majus dari Timur pergi ke Betlehem yang jaraknya + 300km. Ketika melihat bintang, iman mereka muncul dan karena sukacita mereka berjalan fokus kepada bintang itu. Bintang adalah iman kita dan pengiringan kita kepada Yesus. Tanamkan iman percaya kita pada bintang itu. Sampai di Yerusalem, bintang itu sudah dekat dan mereka berpikir dan berkesimpulan jika raja lahir berarti adalah anak raja. Hal ini seperti orang percaya Tuhan tetapi juga percaya dukun, sihir, jimat dan sebagainya. Raja yang ada saat itu adalah Herodes (Mat. 2:1-8, 12). Dalam perjalanan iman kita sering kita menemui Herodes sehingga 4G kita tidak berfungsi. Orang Majus diingatkan untuk tidak kembali kepada Herodes dalam perjalan pulang.
Siapakah Herodes? Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes - Mrk. 8:15. Apakah ragi itu? ... Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi - Luk. 12:1. Herodes berarti kemunafikan. Jangan sampai ada kemunafikan dalam hidup kita.
Orang majus membawa emas (lambang kemurnian), kemenyan (lambang doa orang percaya) dan mur (lambang Roh Kudus). Ketiga hal ini harus ada dalam pengiringan kita kepada Tuhan (Rom. 14:17-18).

Bangkitkan 4G kita untuk Yesus:
- Getsemani, siap menerima saat apa yang kita terima tidak sesuai dengan doa kita
- Gabata, siap disalahkan dan diperlakukan tidak baik
- Golgota, siap untuk mengampuni
- Gembira, tetaplah bersukacita karena di situ ada berkat, mujizat yang Tuhan sudah sediakan.
Dan percayalah Tuhan sedang memunculkan bintang dalam diri kita, Tuhan Yesus memberkati. (LL)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com