Jumat Juli 20 , 2018

Memikul Kuk dan Belajar Dari Yesus

Pdt. Hardi R. Halim
Sabtu, 27 Januari 2018


Hari-hari ini ada banyak orang percaya yang menanggung beban yang berat, baik dalam rumah tangga, pekerjaan, pergaulan, dan lain sebagainya. Belum lagi berbagai permasalahan yang tiba-tiba datang menerpa seperti angin sakal. Semua itu begitu menekan kehidupan kita sehingga membuat kita merasa letih lesu, bahkan seolah-olah tidak sanggup berdiri lagi. Kita berpikir bahwa sudah tidak ada lagi jalan keluar untuk mengatasi badai kehidupan ini.
Namun firman Tuhan di atas berkata bahwa Yesus mengundang kita untuk menikmati kekuatan, kelegaan dan kemenangan yang nyata di dalam Dia. Dan ini bukan sekedar janji, tapi merupakan suatu jaminan yang pasti, di mana kita pasti akan menikmati berkat itu kalau kita datang kepada-Nya. Tuhan akan mengangkat semua beban yang menghimpit kehidupan kita dan menggantinya dengan kuk atau beban yang enak dan ringan.
Kuk adalah suatu alat untuk membajak yang dipasang di atas leher binatang (sapi, lembu, atau kerbau). Tujuan kuk ini dipasang adalah untuk mengendalikan binatang itu agar dapat fokus berada pada jalan yang sudah ditetapkan oleh pembajaknya. Demikian juga dengan kuk yang Tuhan pasang dalam diri kita. Tujuannya bukan untuk membebani kita, namun untuk mengendalikan kehidupan kita, sehingga setiap langkah kita tetap berada di jalur kebenaran firman Tuhan. Dengan kuk itu kita dapat tetap fokus pada kehendak dan rencana Tuhan yang indah bagi kita.
Kuk itu tidak berat sebab Yesus yang lemah lembut sangat tahu dan mengerti keadaan kita. Ia mengundang kita untuk datang dan belajar kepada-Nya. Sama seperti seorang anak yang bersekolah yang pengetahuannya terus meningkat, demikian pula kita ketika belajar dari Yesus. Kerohanian kita pun akan terus meningkat, asalkan kita tekun mengikuti setiap proses. Dan sama seperti anak itu yang akan merasakan kepuasan dan kemenangan ketika berhasil melewati setiap tingkat, begitu juga kita. Kita juga akan menikmati kelegaan dan kemenangan yang sejati ketika kita mau merendahkan diri dan terus belajar dari Yesus.
Beberapa pelajaran yang akan kita terima di dalam Yesus adalah:
1. Menambah Iman
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1). Kita tidak boleh merasa cukup dengan iman yang kita miliki sekarang, namun kita harus terus menambah iman kita. Dalam Luk. 17:5 rasul-rasul berkata kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami!” ketika Yesus sedang mengajar mereka. Dan Yesus menerangkan bahwa iman kita dapat terus bertambah jika kita mau taat, merendahkan hati, dan senantiasa bergantung kepada Tuhan. Tuhan mau kita tetap taat melewati proses meskipun belum melihat rencana Tuhan yang indah. Pergunakanlah terus perisai iman dalam segala keadaan! (Efe. 6:16)

2. Mengurangi Ego
Yohanes Pembaptis dalam Yoh. 3:30 berkata bahwa Yesus harus makin besar, tetapi ia harus makin kecil. Dalam Terjemahan Lama dikatakan: “Patutlah Ia makin bertambah… tetapi aku ini makin kurang.” Ini adalah perkataan Yohanes ketika ia dalam masa kejayaannya, sementara Yesus masih belum dikenal oleh siapa pun. Tapi Yohanes mau merendahkan dirinya di hadapan Yesus. Keakuan atau ego kita memang tidak mungkin bisa hilang sama sekali. Tapi kita mau belajar untuk terus menguranginya. Bagaimana caranya? Yaitu dengan memandang pada kebesaran Tuhan. Ketika kita memandang Tuhan, kita akan sadar betapa kecilnya kita sebenarnya dan tidak ada alasan untuk memegahkan diri sedikit pun.

3. Mengampuni Berkali-kali
Dalam Mat. 18:21-22 Petrus bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Yesus mengajar kita untuk mengampuni berkali-kali siapapun orangnya dan apapun kesalahannya. Masalah inilah yang banyak kali menyerang pikiran dan hati orang percaya. Namun biarlah kita mau melepaskan pengampunan seperti yang dilakukan Yusuf kepada kakak-kakaknya. Setelah mengampuni, Yusuf dapat melihat kebaikan yang Tuhan rancangkan dalam kehidupannya (Kej. 50:20). Mau melihat rancangan kebaikan Tuhan? Mengampuni!

4. Berbagi
Paulus mengingatkan kita dalam 1Tim. 6:17-19, “…Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” Hidup yang sebenarnya akan kita temukan ketika kita merasa cukup dan mulai berbagi.

5. Sepersepuluhan
Sepersepuluhan ini bukan berbicara mengenai jumlah, tetapi bagaimana sikap hati kita terhadap Tuhan. Apakah kita mau taat apapun keadaan kita dan apapun keadaan gembala kita? Lewat sepersepuluhan sebenarnya Tuhan hendak melihat hati kita, sejauh mana kasih dan ketaatan kita kepada-Nya. Karena itu jika Tuhan mendapati kita taat, Tuhan pun tidak akan ragu-ragu membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat-Nya, serta menghalau segala sakit penyakit dari keluarga kita (Mal. 3:10-12).

Jadi apapun masalah kita saat ini, marilah datang kepada Yesus dan belajar dari dari-Nya. Pikullah kuk dan ijinkan Tuhan untuk mengendalikan seluruh hidup kita. Percayalah Tuhan yang lemah lembut akan bekerja secara lemah lembut dalam kehidupan kita serta mendatangkan kelegaan dan kemenangan. Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com