Jumat Oktober 19 , 2018

Dibenarkan Oleh Iman - Pelajaran Surat Roma (56)

(Rom 7:18)  Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

- Di dalam ayat ini Paulus mau menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.
“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia…” – Bila ayat ini dihubungkan dengan ayat yang sebelumnya (ay 17), maka yang dimaksud dengan “aku” disini ialah “aku” yang kedua atau aku “manusia lama” (lihat pelajaran yang lalu). Saudara-saudara, kita harus sadar bahwa di dalam diri kita sebagai manusia tidak ada sesuatupun yang baik. Sejak manusia jatuh di dalam dosa, manusia dikuasai oleh hukum dosa, sehingga manusia kehilangan kemampuan untuk berbuat yang baik, dan kecenderungan hatinya ialah berbuat yang  jahat (Kej.6:5). Mungkin anda berkata : “Ah, bapa terlalu mengada-ada, bukankah masih banyak orang baik di dunia ini, contohnya…bla…bla…bla..” Saya tidak menyangkal bahwa kita masih melihat ada orang-orang di luar Tuhan yang melakukan perbuatan yang baik, tetapi ingat, Tuhan mengukur kita bukan hanya dari perbuatan kita tetapi dari “hati” kita. Dan kalau sudah berbicara “hati” saya yakin tidak ada seorangpun yang berani berkata bahwa hatinya sudah baik sudah sesuai dengan standar Allah.

- Paulus adalah contoh yang nyata. Sebelum mengenal Yesus ia adalah seorang tokoh agama yang luar biasa. Ia sempat mengenyam pendidikan agama yang sangat ketat dibawah guru agama yang luar biasa pula yaitu Gamaliel. Secara agama ia nyaris sempurna. Namun apa buahnya? Ia menangkap, menyiksa bahkan membunuh orang-orang Kristen. Itulah sebabnya ia berkata, “di dalam diriku tidak ada sesuatu yang baik” Apakah kita juga sadar bahwa di dalam manusia lama kita juga tidak ada yang baik?

(Rom 7:19)  Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

- “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik…” - Nah, di ayat ini Paulus beralih, ia tidak lagi berbicara tentang “aku” yang lama, tetapi “aku” yang baru. “Aku” yang baru ini selalu ingin melakukan apa yang baik, yang benar dan yang berkenan kepada Allah, tetapi “aku” yang lama selalu menghalangi.  Itulah pergumulan orang percaya, pergumulan antara roh dan daging, dan pergumulan ini akan terus berlangsung selama kita masih hidup di dalam dunia ini. Lalu bagaimana supaya kita dapat menang dalam pergumulan ini ? Tunggu jawabannya…

(Rom 7:20)  Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

- Disini Paulus menegaskan kembali bahwa setelah ia lahir baru, ia ingin melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah, tetapi di satu pihak masih ada yang menghalangi yaitu hukum dosa yang menguasai manusia lama kita. Jangan salah paham, Paulus bukan bermaksud untuk lepas tanggungjawab atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat, ia hanya menjelaskan bahwa di dalam dirinya ada pergumulan antara kehendak daging dan kehendak roh, antara melakukan kebenaran dan berbuat dosa. Ya, ternyata Paulus juga mengalami pergumulan yang sama seperti yang saudara dan saya alami. Tetapi bukannya hal ini tidak ada solusinya, kita akan lihat itu di pelajaran yang selanjutnya… (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

GPdI Lembah Dieng


Jalan Lembah Dieng H1

Malang, Jawa Timur

Indonesia

phone : 0341-551692

fax : 0341-559435