Senin May 21 , 2018

Orang Majus (Orang Bijaksana)

Pdm. Daniel Rudianto
Sabtu, 16 Desember 2017

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.“ Matius 2:1-2
Tidak ada keterangan yang jelas tentang siapa sebenarnya orang Majus ini. Tapi hampir semua penafsir memiliki satu persamaan yang diakui, yaitu bahwa mereka adalah orang yang bijaksana. Alkitab sering membagi manusia menjadi dua golongan, yaitu orang bodoh (orang bebal) dan orang bijaksana (orang arif). Hal ini tidak ada kaitannya dengan kepandaian secara intelektual. Dan hal ini memiliki makna yang sangat serius karena mempengaruhi keselamatan. Mengapa? Karena kebodohan dan kebijaksanaan menunjuk pada jalan hidup seseorang, pandangan hidupnya, serta pilihan hidupnya, bahkan menunjuk pada nasib hidupnya di kekekalan. Kebodohan berarti kebinasaan, sedangkan kebijaksanaan berarti kehidupan kekal.
Ada dua hal yang menentukan apakah seseorang itu bodoh atau bijaksana, yaitu:
1. Orang bodoh dan bijaksana ditentukan oleh bagaimana ia mempergunakan waktunya.
Bagaimana kita mempergunakan waktu kita setiap hari menentukan hidup kita di kekekalan. Efe. 5:15-16 berkata: “Karena itu perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.“ Coba perhatikan setiap harinya ada berapa banyak waktu yang sudah terbuang dengan sia-sia. Mulailah mengatur waktu kita dengan baik.
Orang Majus melakukan perjalanan sekitar dua tahun lamanya dengan mengikuti bintang. Mereka disebut bijaksana karena mereka tahu menempatkan prioritas dalam hidup mereka. Prioritas mereka adalah mengutamakan Tuhan. Karena itu mereka memilih untuk meninggalkan segala kenyamanan hidup untuk bertemu Yesus. Orang bijaksana pasti memprioritaskan Tuhan di atas segalanya.
Kata “pergunakanlah waktu“ dalam bahasa aslinya dipakai kata “tebuslah waktu“ atau “belilah waktu“. Hal ini menandakan bahwa waktu itu jauh lebih berharga dari pada uang. Namun sayangnya, kita cenderung lebih mengutamakan uang daripada waktu, sehingga kita seringkali mengorbankan waktu demi uang. Padahal ayat di atas mengimplikasikan bahwa lebih baik kehilangan uang dari pada kehilangan waktu atau kesempatan, terutama waktu untuk bersekutu dengan Tuhan.
Dalam Mat. 25:1-13 terdapat perumpamaan tentang gadis bijaksana dan bodoh. Sebenarnya perumpamaan ini mengajarkan tentang waktu, sebab ada empat kata “waktu“ yang disebutkan dalam perumpamaan ini. Kesepuluh gadis ini sama-sama menunggu kedatangan mempelai laki-laki yaitu Yesus. Perbedaannya hanya pada persediaan minyak. Pada akhirnya yang bijaksanalah yang masuk dalam perjamuan kawin, sedangkan yang bodoh tidak.
Persediaan minyak berbicara tentang setiap waktu dan kesempatan yang kita pergunakan untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi. Selama kita menunggu kedatangan Yesus kedua kali ini, bagaimanakah kita mempergunakan waktu kita dan apakah prioritas hidup kita? Tentu kita ingat dengan minyak dalam buli-buli seharga 300 dinar milik Maria yang mengurapi kaki Yesus, minyak dalam buli-buli menggambarkan sesuatu yang bersifat pribadi.
Hal ini diperjelas dalam ayat 9 di mana gadis-gadis yang bijaksana menolak untuk membagi minyak mereka dengan gadis-gadis yang bodoh. Mereka menyuruh gadis-gadis yang bodoh untuk pergi membeli minyak. Bila dikaitkan dengan Efe. 5:16 di atas, maka itu berarti kita harus membeli atau mempergunakan waktu dengan baik. Dan di dalam ayat 12 mempelai laki-laki menolak lima gadis yang bodoh dengan satu alasan utama: “sesungguhnya aku tidak mengenal kamu“. Kata “mengenal“ artinya adalah intim atau seperti hubungan suami istri.
Jadi dapat disimpulkan bahwa persediaan minyak itu berbicara tentang waktu yang kita pergunakan untuk berhubungan secara intim dan pribadi dengan Tuhan. Kumpulkanlah minyak dalam buli-buli kita dengan memprioritaskan Tuhan dalam masa-masa kita menanti kedatangan Tuhan ini. Bila di waktu akhir kita baru sibuk mengumpulkan, ada kemungkinan “minyak“ itu tidak akan cukup.
Dan kalau kita perhatikan lebih dalam di Efe. 5:16, ayat ini juga berarti bahwa waktu yang tidak kita pergunakan sebagaimana seharusnya, maka itu akan menjadi waktu yang jahat. Contohnya dalam 2 Sam. 11:1 dicatat: “Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang…“ Daud seharusnya berperang waktu itu, tapi ia tidak mempergunakan waktu ini sebagaimana harusnya. Dan yang terjadi berikutnya adalah waktu itu menjadi waktu yang jahat bagi Daud. Ia jatuh di dalam dosa perzinahan.
Ams. 18:9 dikatakan: “Orang yang bermalas-malas di dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.“ Orang yang hidupnya tidak tertib dan tidak menggunakan waktunya sebagaimana seharusnya maka ia langsung menjadi sekutu atau saudara dari Iblis. Iblis paling mudah menjatuhkan orang percaya ketika ia tidak hidup secara disiplin. Ingat, jatuhnya seseorang bukan karena perkara-perkara yang besar, tapi dimulai dari hal-hal yang kecil seperti hidup dengan tidak tertib atau disiplin! Begitu Hawa memberi waktu untuk bersekutu dengan Iblis lewat ular, maka di situlah saat kejatuhannya. Daud sudah berhasil mengalahkan 5 Goliat, tapi begitu ia hidup tidak tertib, ia mengalami kejatuhan.

2. Orang bodoh dan bijaksana ditentukan oleh bagaimana ia mempergunakan hartanya.
Dalam Luk. 12:13-21 terdapat perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Ia disebut bodoh bukan berkaitan dengan besarnya kekayaan yang dimiliki, tetapi karena ia tidak kaya di hadapan Allah. Dan akibatnya adalah kebinasaan di dalam kekekalan. Dalam Mat. 6:19-24 dijelaskan bahwa kita akan menjadi kaya di hadapan Allah ketika kita suka memberi. Bila diperhatikan dalam ayat 22-23 muncul kata “mata baik“ dan “mata jahat“. Ternyata dalam bahasa aslinya kata “mata baik“ berarti suka memberi dan “mata jahat“ itu berarti kikir. Jadi kaya di hadapan Allah atau mengumpulkan harta di sorga berbicara mengenai memberi.
Mrk. 12:41-44 mencatat tentang kisah persembahan seorang janda yang miskin. Dari perikop ini kita mengetahui bahwa semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi kaya di hadapan Allah, entah ia miskin ataupun kaya, asalkan ia suka memberi. Orang majus disebut sebagai orang bijaksana karena mereka mempersembahkan harta mereka kepada Yesus. Perhatikan bahwa harta kita menentukan nasib kita di kekekalan! 1 Kor. 6:10 mengatakan bahwa orang kikir tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Luk. 16:19-31 mencatat tentang orang kaya dan Lazarus. Apa yang menjadi alasan orang kaya ini tidak masuk ke dalam sorga? Dalam ayat 25 dikatakan: “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.“  Kata “sewaktu hidupmu“ berbicara tentang kesempatan memberi selama ia hidup. Ia jelas-jelas mempunyai kesempatan untuk memberi kepada Lazarus setiap hari, sebab Lazarus selalu duduk di pintu rumahnya. Namun sayangnya ia tidak mempergunakan kesempatan itu sewaktu hidupnya, sehingga ia pun binasa dalam kekekalan. Jadi semua orang punya kesempatan untuk menjadi kaya di hadapan Allah, asalkan ia punya belas kasihan dan berkemurahan kepada sesama yang membutuhkan.

Hidup ini adalah kesempatan. Jangan kita sia-siakan! Pergunakanlah waktu dan harta kita dengan bijaksana. Selamat menyambut Natal dengan sukacita dan berkat-berkat yang melimpah dalam hidup kita! Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com