Jumat Januari 19 , 2018

Pemulihan Hubungan

Pdm. Daniel Rudianto
Minggu, 10 Desember 2017

Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah. Maleakhi 4:5-6

Kitab Maleakhi adalah kitab terakhir dalam Perjanjian Lama dan ayat di atas merupakan 2 ayat terakhir. Setelah mengucapkan pesan ini Tuhan berhenti berfirman kepada manusia selama kira-kira 350 tahun dan masa 350 tahun itu adalah masa tergelap dalam sejarah kehidupan manusia. Jadi bila kita hidup tanpa firman, maka sesungguhnya kita sedang mengalami masa yang sangat gelap dan kacau.
Kitab Maleakhi merupakan isi hati Tuhan, yang menyatakan keberatan hati Tuhan kepada umatNya sehingga Ia akhirnya berhenti berbicara.
Ada tiga penyebab utama:
1. Persembahan dan persepuluhan  (Mal. 3:8). Bangsa Israel tidak memberikan persembahan yang terbaik dan tidak mengembalikan persepuluhan kepada Tuhan.
2. Ibadah (Mal. 3:18). Bangsa Israel mulai tidak setia dan meninggalkan ibadah.
3. Hubungan keluarga. Di antaranya hubungan antara suami dan istri (Mal. 2:16) dan antara orang tua dan anak (Mal. 4:6), termasuk di dalamnya hubungan dalam gereja Tuhan. Menurut saya inilah penyebab yang paling serius karena dalam Mal.4:6 Tuhan juga menyatakan akan memukul bumi jika tidak terjadi pemulihan hubungan dalam keluarga dan gereja. Pemulihan hubungan adalah sumber sukacita dan kebahagiaan dalam hidup kita.

Mari kita merenungkan sebuah perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus, yaitu perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni (Mat. 18:21-35).
1. 70 X 7 kali (Ayat 21-22).
Mengapa 70X7? 70X7 berbicara tentang kesabaran, pengampunan, dan kemurahan Tuhan kepada kita, seperti yang tercermin dalam:
- Hukum Sabat Tanah
Dalam 2 Taw. 36:21 Allah pernah bersabar kepada bangsa Israel selama 490 tahun. Ada hukum Sabat Tanah yang Tuhan tetapkan, di mana setelah 6 tahun maka pada tahun ke-7 tanah harus diistirahatkan. Dan bangsa Israel melanggar Sabat Tanah sebanyak 490 tahun atau sebanyak 70 kali, sehingga akhirnya mereka harus menerima akibatnya, yaitu mengalami pembuangan selama 70 tahun ke Babel, sementara Tuhan mengistirahatkan tanah di Israel yang dilalaikan selama 70 tahun. Tanah adalah gambaran pekerjaan dan tubuh kita. Kita perlu istirahat dari kesibukan kita dan mencari Tuhan.

- Nubuatan 70X7 Masa
Dalam Dan. 9:24 ada nubuatan tentang tujuh puluh kali tujuh masa. Saat ini kita berada di masa tujuh puluh kali tujuh masa, di mana itu adalah masa kemurahan Tuhan. Di akhir dari tujuh puluh kali tujuh masa itu Tuhan akan datang dan menghakimi manusia, di mana pintu kemurahan itu sudah ditutup. Jadi masa-masa ini adalah masa kemurahan Tuhan bagi kita. Dan seperti Tuhan sudah mengampuni kita setiap saat, marilah kita juga mengampuni sesama kita.
Dari ayat 21-22 ini kita dapat merenungkan beberapa hal. Ketika Petrus berkata bahwa ada saudaranya yang berbuat dosa kepadanya sampai tujuh kali, Yesus tidak bertanya siapa orang itu atau apa kesalahannya kepada Petrus. Yesus hanya menjawab bahwa Petrus harus mengampuni sebanyak 70X7 kali. Dengan kata lain, siapapun orang yang sudah berbuat salah kepada kita, kesalahan apapun yang sudah diperbuatnya, dan seberat atau sebanyak apapun kesalahannya, kita harus tetap mengampuni orang tersebut.
Dan kalau kita bandingkan dengan Luk. 17:4, orang itu melakukan kesalahan sebanyak tujuh kali dalam sehari. Siapakah orang itu? Kalau kita renungkan orang yang paling mungkin melakukan kesalahan tujuh kali dalam sehari kepada kita pasti adalah orang yang dekat dan tinggal dengan kita. Jadi kemungkinan terbesar orang yang terbanyak melakukan kesalahan kepada kita adalah keluarga kita sendiri, terkhususnya suami atau istri kita sendiri. Orang yang mencintai kita dan yang kita cintai. Tuhan ingin kita mengampuni orang-orang di sekitar kita meskipun mereka berulang kali menyakiti kita.

2. Hutang sama dengan dosa (ayat 23-27).
Yesus dalam perumpamaan ini menggunakan hutang untuk menggambarkan dosa, artinya semakin besar hutangnya semakin besar pula dosanya. Kita harus waspada dengan hutang. Dalam Rm. 13:8 dikatakan: "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi." Maksud ayat ini adalah janganlah kita berhutang apapun kepada orang lain kecuali hutang budi. Salah satu lawan dari kasih adalah hutang. Ketika hutang tidak dapat dibayar, maka hubungan akan menjadi retak. Kalau kita tidak yakin bahwa hutang adalah dosa, saya percaya kita semua setuju bahwa hutang adalah beban yang sangat berat (Ibr. 12:1). Ayat ini memerintahkan kita untuk menanggalkan semua beban, karena beban seringan apapun bisa menghalangi kita memperoleh keselamatan. Bukan batu yang membuat kita terpeleset, tetapi kerikil kecil atau bahkan pasir.

3. 10.000 talenta vs 100 dinar (ayat 28-35).
Yesus mengajarkan kebenaran yang ketiga dengan membandingkan 10.000 talenta dengan 100 dinar. Sekecil-kecilnya dosa kita kepada Tuhan, pasti dosa kita itu lebih besar dari 10.000 talenta, sebab dosa kita harus dibayar dengan darah Yesus di atas kayu salib. Tapi sebesar-besarnya dosa orang lain kepada kita, dosanya itu tidak lebih besar dari 100 dinar. Selain itu dalam ayat 33-35 Yesus memberikan penawaran yang menarik kepada kita. Hutang 10.000 talenta (kira-kira Rp. 3T = 3.000.000.000.000 rupiah) kita kepada Tuhan disamakan dengan hutang 100 dinar ( kira-kira 5 juta rupiah) orang lain kepada kita. Ketika kita mau mengampuni orang lain, maka kita pun diampuni oleh Tuhan.
Dalam Yoh. 12:3-5 terdapat kisah tentang Maria yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak seharga 300 dinar. Kita tidak akan dapat mengampuni orang lain kalau kita tidak mengerti harganya. Maria mengerti besarnya harga pengampunan itu, karena itu ia tidak merasa sayang meminyaki Yesus dengan minyak seharga 300 dinar. Minyak seharga 300 dinar itu memang mahal, tapi ia tahu bahwa harga pengampunan jauh lebih besar dari sekedar 300 dinar.
Jadi mengampuni itu bagaimanapun akan tetap menguntungkan kita, meskipun terlihat berat dan menyakitkan. Mengapa? Ingat kembali Mat. 18:35 yang berkata: "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." Pengampunan harus dilakukan dengan segenap hati dan sampai lunas seperti Yesus yang mengampuni kita sampai lunas, seperti Maria yang mencurahkan seluruh minyaknya tanpa sisa. Mengampuni akan terasa sulit kalau kita masih memilah-milah kesalahan mana yang masih bisa kita ampuni dan kesalahan mana yang tidak.

Jadi pengampunan harus segenap hati. Kalau kita mau mengampuni dan minta kekuatan dari Roh Kudus, maka kita pasti akan menikmati berkat dan sukacita yang jauh lebih besar, sebab Tuhan juga akan mengampuni kita. Sambut Natal dengan hati yang mengampuni! Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com