Selasa Agustus 21 , 2018

Taman Tertutup dan Mata Air Termeterai

Pdt. Simon Kostoro
Sabtu, 9 Desember 2017

Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai. (Kid. Agung 4:12)


Dalam masyarakat Yahudi ada dua kitab yang tidak bisa dibaca sebelum mereka berusia tigapuluh tahun yaitu Kidung Agung dan Yehezkiel. Kidung Agung berbicara tentang misteri pernikahan dan Yehezkiel berbicara tentang misteri ke-Ilahian.


Ayat diatas merupakan sebuah pujian dan sekaligus kerinduan dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Sebelum masuk lebih jauh dari ayat ini kita harus tahu aplikasi dari kitab Kidung Agung.

Aplikasi Kidung Agung:
1. Menggambarkan sebuah Keintiman Pernikahan (Suami & Istri).
2. Menggambarkan Hubungan Yahweh & Istri-Nya (bgs. Israel).
3. Menggambarkan Hubungan Kristus & Mempelai-Nya (Gereja)

Disini sang pengantin pria memuji istrinya sebagai “taman tertutup dan mata air termeterai”. Apa pengertian dari “tertutup” atau “termeterai”? Tidak lain berbicara tentang “ke-eksklusif-an” hubungan antara suami & istri, juga Tuhan & gereja-Nya. Arti dari “eksklusif” ialah : Khusus ; Pribadi ; Tidak terbuka untuk umum ; Tersendiri ; Terpisah dari yang lain. Artinya bahwa hubungan suami istri itu khusus, special, tidak boleh ada siapapun di dalamnya, seperti taman atau mata air yang tidak terbuka untuk umum, milik pribadi, siapapun tidak boleh ada disitu kecuali sang mempelai pria dan mempelai wanita. Sekarang mari kita lihat lebih dalam pengertiannya…

I. Taman Tertutup  (Closed Garden)
Mengapa tidak terbuka untuk umum? Supaya tanam-tanaman yang di dalamnya tidak rusak, supaya pemilik taman bisa menikmati buah-buahan yang dihasilkan. Allah juga ingin menikmati buah dari kehidupan kita.
Bicara taman, kita teringat kepada Taman Eden, taman yang pertama dibuat oleh Allah, tempat persekutuan yang indah antara Allah dengan ciptaanNya yang pertama, Adam dan Hawa. Tetapi di taman inilah awal dari kejatuhan manusia. Persekutuan manusia dengan Allah hancur di taman Eden. Mengapa? Karena taman itu “terbuka” sehingga musuh yaitu “ular Tua” itu bisa masuk dan menggoda manusia. Taman Eden adalah tempat kejatuhan manusia pertama dan kehilangan persekutuan dengan Allah, tetapi di taman Kidung Agung ini persekutuan antara Allah dan manusia dipulihkan kembali.
Dalam Yes. 5 dan Mzm 80, bangsa Israel digambarkan sebagai kebun anggur yang sangat subur, dirawat dan diberi pagar. Allah ingin mendapatkan hasil yang maksimal dari tamanNya. Namun apa jadi, bukan anggur yang manis yang Tuhan dapatkan melainkan anggur yang asam, sehingga Ia harus membongkar dan mentelantarkan tamanNya.
Apa sebenarnya pengertian rohani dari “taman”? Taman berbicara “Hati” manusia. Ams. 4:23 berkata bahwa hati ini harus dijaga melebihi segala sesuatu yang patut dijaga. Mengapa? Karena Tuhan ingin menikmati buah-buah dari kehidupan kita, terutama buah Roh Kudus (Gal. 5:22-23).
Kita perlu waspada, karena ada yang ingin merusak taman hati kita. Dalam Kidung Agung 2:15, dikatakan ada rubah-rubah kecil (sejenis musang) yang mau merusak taman kita. Hati-hati, dengan “dosa-dosa kecil” karena itu bisa merusak taman hati kita. Sebab itu kita harus jaga apa yang masuk (input) lewat mata dan telinga kita supaya taman hati kita terjaga dengan baik.

II. Mata Air Termeterai (Sealed Fountain)
Berbicara tentang mata air biasanya menunjuk kepada Pribadi Tuhan, Dia adalah sumber Mata Air yang Hidup. Tetapi disini Mata Air dikenakan kepada mempelai wanita (gereja). Kapan kita menjadi Mata Air?
Dalam Yak. 3:10-11 dikatakan bahwa mulut/lidah kita ini seperti mata air, dan mata air selalu mengeluarkan satu jenis air saja. Sebab itu tidak seharusnya mulut kita kita pakai untuk memuji Tuhan tetapi di saat yang sama kita pakai juga untuk memfitnah orang lain. Itu tidak boleh terjadi!
Di dalam II Raja. 2:19-22 Ada sebuah kota yang sangat indah, tetapi sayang mata airnya tidak baik sehingga banyak bayi-bayi yang mati. Anak Tuhan adalah ibarat kota yang indah, yang terletak di atas gunung (Mat. 5:14), jangan sampai “mata air” kita jelek, sehingga banyak “bayi-bayi rohani” yang mati karena kita. Perkataan kita bisa membawa berkat dan kehidupan, bukan kematian.
Mata air itu adalah mata air yang “termeterai”. Bicara tentang meterai selalu menunjuk kepada Roh Kudus (Ef. 1:13). Demikian juga lidah kita perlu dimeterai dengan Roh Kudus. Para nabi di PL, sebelum dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan firmanNya, lidah mereka harus “dimeterai” lebih dahulu (Yes. 6:7  Yer. 1:9). Biarlah kita juga ijinkan Roh Kudus menjamah lidah kita sehingga kita dapat menjadi mata air yang mengeluarkan air yang sehat!

Kita sedang menyongsong tahun yang baru, mungkin di tahun yg sedang berlalu ini hidup kita belum sepenuhnya menyenangkan hati TUHAN, tetapi mari di tahun yang akan datang ini kita mau menjadi Taman yg Tertutup (Input) dan Mata Air Termeterai (Output), sehingga hati TUHAN disenangkan!
Selamat menyongsong Natal & Tahun Baru, Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com