Kamis Desember 14 , 2017

Betapa Hebat KuasaNya untuk Menyelamatkan

Pdt. Herman Rantung - Jakarta
Minggu, 26 November 2017 (sore)

Bacaan: Matius 8:18-22

Di dunia ini ada banyak sekali orang yang mengaku dirinya orang Kristen, tapi hanya sebagian saja yang sebenarnya adalah benar-benar pengikut Kristus. Sisanya adalah orang-orang yang hidup di luar keselamatan atau tanpa pertobatan. Untuk menjadi seorang pengikut Kristus diperlukan totalitas dan kesungguhan hati.
Perikop yang sudah kita baca di atas menceritakan tentang seorang ahli Taurat yang berkata ia akan mengikut Yesus ke mana saja Yesus pergi. Dalam zaman itu perkataan seperti ini mengandung makna permintaan jaminan hidup dari pribadi yang diikuti, yang dalam hal ini adalah Yesus. Oleh karena itu Yesus berkata di ayat 20 bahwa Ia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Atau dengan kata lain Yesus berkata bahwa tidak ada jaminan dalam mengikut Dia.
Adalah suatu kesalahan jika kita mengikut Tuhan dengan anggapan bahwa kita akan hidup senang dan diberkati, memiliki kesehatan serta usaha yang lancar, dan sebagainya. Memang berkat adalah bagian dari kekristenan, namun bukan itu intinya. Inti dari kekristenan adalah memikul salib. Dan paradigma inilah yang ingin Tuhan ubah dalam diri setiap pengikut-Nya. Tuhan ingin kita memiliki motivasi yang benar dalam mengiring Dia.     
Hal ini juga yang ingin diajarkan-Nya kepada Maria, Marta dan Lazarus dalam Yoh. 11 ketika Lazarus sakit. Di ayat 6 dikatakan: "Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada." Maria, Marta dan Lazarus adalah keluarga yang sering sekali disinggahi oleh Yesus untuk beristirahat dalam pelayanan-Nya. Yesus sangat dekat dengan keluarga ini, tapi Yesus justru sengaja tidak datang.
Bagaimana respon hati kita ketika Tuhan sengaja tidak menolong kita? Apakah kita masih tetap mengasihi-Nya? Atau sebaliknya, kita merasa kecewa dan putus harapan? Hati-hati, itu merupakan tanda bahwa motivasi pengiringan kita masih salah. Secara tidak sadar kita seringkali mengatur Tuhan saat ada masalah datang. Kita mulai mengeluarkan berbagai alasan, seperti: "Tuhan itu baik, tidak mungkin Tuhan tidak menolong saya." atau "Selama ini saya sudah banyak melayani dan berkorban, Tuhan seharusnya menolong saya." Kalau kita renungkan, perkataan-perkataan seperti ini sebenarnya melambangkan ketidaktulusan.
Kalau kita kembali di Mat. 8, di ayat 21 ada murid Tuhan yang berkata bahwa ia ingin menguburkan ayahnya dulu baru mengikut Yesus. Alasan ini kelihatannya masuk akal. Namun Yesus yang melihat jauh sampai kedalaman hati dapat menilai segala sesuatu. Yesus tahu bahwa perkataannya itu hanyalah alasan untuk mundur dari pelayanan. Orang yang tadinya menggebu-gebu mau mengikut Yesus akhirnya memilih mundur setelah tahu tidak ada jaminan dalam mengikut Yesus. Dan ia memakai alasan yang klise, yaitu alasan keluarga.
Mari sekarang kita bandingkan dengan kisah di dalam Mat. 4:18-22. Dalam kisah ini Yesuslah yang memanggil dan mengajak Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Berbeda dengan kisah sebelumnya di mana murid-murid Yesuslah yang menawarkan diri untuk mengikut Yesus. Dan respon yang berbeda juga dimiliki oleh keempat murid Yesus ini. Kalau dalam Mat. 8 murid-murid malah meninggalkan Tuhan, di perikop ini Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes justru langsung meninggalkan jalanya dan pergi mengikut Yesus (Mrk. 1:17-18).
Respon kita dalam menanggapi panggilan Tuhan sangat menentukan berkat yang akan kita terima. Tapi kalau kita sudah berkomitmen untuk mengikut Tuhan namun memilih mundur, maka kita akan menerima akibatnya! Respon yang terbaik adalah meninggakan "jala" kita. Jala berbicara tentang pekerjaan dan sumber kehidupan. Meninggalkan jala maksudnya adalah kita jangan sampai mengesampingkan Tuhan dan pelayanan karena keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya (Luk. 9 :57-62).
Pergunakanlah waktu yang ada (kairos) untuk mengiring Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita berkata: "Saya mau ikut Tuhan tapi…" atau "Saya mau percaya Tuhan tapi…" Kata "tapi" merupakan bentuk keraguan! Penyerahan diri menuntut totalitas! Tidak ada kata setengah-setengah untuk Tuhan. Ingat, Tuhan kita adalah Tuhan yang Cemburuan. Ia tidak mau diduakan.
Dalam Luk. 19:9 Yesus berkata: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini…" Zakheus selamat karena ia tidak mau melewatkan momentum bertemu dengan Yesus. Di akhir zaman ini Iblis memakai taktik: boleh percaya Tuhan, tapi jangan sekarang. Jadi jangan sampai kita terlena dan melewatkan setiap kesempatan untuk bertemu dan melayani Tuhan. Memang benar bahwa Yesus sedang berdiri di muka pintu hati kita dan mengetok. Tapi ingat, bila kita tidak segera membukanya, akan ada satu masa di mana Yesus pergi dan tidak mengetok lagi!
Saat ini yang menjadi perenungan kita adalah "Sudahkah Yesus menjadi Juruselamat dan segala-galanya dalam hidup kita?" Motivasi yang murni adalah ketika masalah datang kita dapat tetap berkata seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego dalam Dan. 3:17-18: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami…  tetapi seandainya tidak…  kami tidak akan memuja dewa tuanku…" Ketika mereka mempertahankan iman mereka, maka ada anak dewa yang berjalan di tengah api bersama mereka. Ada Yesus yang berjalan bersama kita di tengah masalah, asalkan kita setia!
Mungkin saat ini Tuhan sedang menguji iman percaya kita, janganlah kita berubah setia. Tuhan pasti menolong sesuai dengan waktu dan cara-Nya. Kalau setiap kali kita meminta sesuatu kepada Tuhan dan langsung dikabulkan, maka tidak lagi diperlukan iman dalam kekristenan kita. Iman justru diperlukan ketika kita tidak melihat Tuhan ataupun jalan-Nya. Jadikan Tuhan yang terutama dan tetaplah setia, maka Tuhan pasti memberkati Anda! (XY)


"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com