Kamis Desember 14 , 2017

Dibenarkan Oleh Iman - Pelajaran Surat Roma (51)

(Rom 7:1)  Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum--bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup?
- Di dalam pasal yang baru ini Paulus menjelaskan tentang hubungan orang percaya dengan hukum Taurat. Sebagaimana telah kita pelajari bahwa hukum Taurat itu adalah hukumnya Allah sendiri. Memang hukum Taurat secara tertulis diberikan khusus kepada orang Yahudi di G. Sinai melalui perantaraan Musa, tetapi hukum Taurat yang tidak tertulis telah ditanamkan Allah di setiap hati nurani manusia dan itu yang akan menjadi hakim manusia pada hari penghakiman kelak (Rom. 2:14-16). Itulah sebabnya tidak ada seorangpun yang dapat melepaskan diri dari Taurat, apakah ia seorang Yahudi atau bukan. Dan manusia pada dasarnya terus bergumul dengan Taurat, karena suara hatinya tidak pernah berhenti berbicara dan menuduh, lalu bagaimana kita bisa lepas dari tuntutan Taurat ini dan menikmati kebebasan sebagai orang percaya? Ayat-ayat berikut ini akan menjelaskan kepada kita…

(Rom 7:2)  Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.
- Untuk menjelaskan hal itu Paulus memakai analogi pernikahan. Kita semua tahu bahwa hukum pernikahan itu mengikat seseorang selama hidupnya dan hanya maut yang dapat membebaskan seseorang dari hukum ini, entahkah ia sendiri yang mati ataukah pasangannya yang mati. Mengapa demikian? Karena dalam pernikahan dua orang menjadi satu, seperti yang ditegaskan oleh Yesus sendiri di Mat.19:6 “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Maka sebagai konsekuensinya adalah…

(Rom 7:3)  Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.
- Ayat ini jelas mengatakan bahwa, perceraian walaupun dapat dilegalkan secara hukum dunia, tetapi di hadapan Allah perceraian tetap tidak bisa dibenarkan! Selama pasangannya masih hidup, maka baik suami ataupun istri yang menikah lagi, Firman Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa ia berzinah! Pernikahan kembali hanya dimungkinkan apabila pasangan seseorang sudah meninggal. Dan prinsip inilah yang berlaku bagi manusia sehubungan dengan hubungannya dengan hukum Taurat.

(Rom 7:4)  Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.
-Di pemandangan Allah, Taurat bagaikan suami kita yang pertama. Selama kita ataupun Taurat masih “hidup”, maka kita terikat kepada “pernikahan” ini. Itulah sebabnya maka salah satu harus mati. Lalu siapa yang harus mati? Sebagai sebuah peraturan, Taurat tidak dapat mati. Jadi yang harus mati ialah kita! Kapan kematian itu terjadi? Waktu kita dibaptis di dalam air. Orang yang dibaptis, ia disatukan dengan kematian Kristus di atas kayu salib Golgota. Oleh baptisan kita mati terhadap kehidupan kita yang lama. Oleh baptisan kita dibebaskan dari Taurat. Sekarang kita bebas untuk “menikah” lagi dengan Orang lain, yaitu Kristus. Dan sekarang kita benar-benar menjadi orang-orang yang merdeka dalam Kristus! (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com