Kamis Desember 14 , 2017

Firman, Iman dan Perbuatan

Pdm. Daniel Rudianto
Minggu, 19 November 2017

Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" Lukas 18:8
Yesus mengkhawatirkan 1 hal saat kedatanganNya ke 2 kali, apakah masih didapati iman di bumi. Iman sangat penting bagi orang percaya, iman tidak bisa dipisahkan dari firman dan perbuatan.

Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu. Mat. 9:29
Semua yang terjadi ditentukan oleh iman kita. Ketika menyembuhkan orang buta, Yesus berkata “jadilah kepadamu menurut imanmu.” Jadi hidup kita ini terjadi sesuai iman kita. Ukuran iman kita menentukan apa yang kita terima dari Tuhan, menentukan kita akan diberkati, disembuhkan, ditolong dan sebagainya. Sering kita merasa sedang menanti-nantikan Tuhan, seakan-akan Tuhan tidak menolong. Maka bangkitkan, pelihara dan latih iman kita sehingga iman kita semakin besar dan sanggup menerima berkat yang makin besar.
Dalam Mat. 15:28, Yesus berkata jadilah seperti yang kau kehendaki. Kuasa Tuhan sangat besar dan selalu melimpah, tidak perlu kita meragukannya lagi. Yang menjadi masalah, ukuran iman kita yang menentukan seberapa besar kita dapat menerimanya. Iman seperti sebuah wadah. Kuasa, berkat selalu dicurahkan dengan melimpah, seberapa besar kita dapat menampungnya tergantung seberapa wadah iman kita. Firman, iman dan perbuatan jika dipisahkan seperti tidak berdampak dalam hidup kita, tetapi jika bersama menghasilkan kuasa yang luar biasa.

1. Hubungan Firman dan Iman
Firman jika berdiri sendiri tidak hebat tetapi jika bekerjasama akan menghasilkan hal yang luar biasa. Iman hanya lahir dari firman (Rom. 10:17), iman tidak bisa timbul dari pikiran, perasaan, atau keyakinan seseorang. Orang yang beriman adalah orang yang percaya kepada Firman, rindu dan haus kepada firman. Mari kurangi segala sesuatu yang biasanya kita lakukan (hobby, kesenangan, dan lain-lain) dan tambahkan firman. Firman di sini bukan Logos (firman Tuhan yang umum) tetapi Rhema (suara Tuhan yang khusus untuk pribadi kita). Iman timbul dari Rhema, bukan Logos. Pada saat Logos disampaikan, Roh Kudus menghidupkan 1 ayat atau pesan, itulah Rhema. Belum tentu setiap kita membaca firman, kita mendapat Rhema. Jika kita belum mendapatkan Rhema, Roh Kudus belum menekankan sebuah pesan, kita belum mendapatkan iman.
Contoh orang yang mendapatkan Rhema
- Kis. 14:8-10, orang lumpuh duduk bersama orang banyak yang lain mendengar firman (Logos), hanya orang lumpuh yang mendapat Rhema. Paulus melihat dan melalui ilham Roh Kudus ia menyuruh orang lumpuh itu berdiri dan disembuhkan. Rhema muncul tergantung sikap kita terhadap firman saat kita mendengar.
- Kisah wanita yang 12 tahun pendarahan. Saat itu banyak orang berbondong-bondong mengikuti Yesus bahkan bersentuhan langsung dengan Yesus tetapi yang disembuhkan hanya wanita ini. Wanita ini mendapat Rhema dan berkata “asal kujamah saja ujung jumbai jubahnya, maka aku akan sembuh”, dan wanita itu sembuh. Bagaimana supaya mendapat Rhema? Maz. 1:2, hanya orang yang demikian yang memiliki iman. Bukan hanya mendengar firman, tetapi yang senang, rindu dan menyambut firman akan mendapat iman kesembuhan dan lainnya.
- Luk. 5:1-5 tentang nelayan yang handal tetapi semalaman tidak mendapat ikan. Banyak orang mendengar Logos dan tidak terjadi apapun. Petrus di ay 5 mendapat Rhema, lalu ia menebarkan jala dan mendapat banyak ikan di siang hari, waktu yang mustahil ada ikan. Kita harus mendapatkan firman yang khusus di tengah-tengah Logos yang disampaikan sehingga menimbulkan iman.
- Petrus waktu berjalan di atas air, hanya dia yang mendapat Rhema. Seandainya Yohanes mencoba berjalan di atas air, pasti akan tenggelam karena ia tidak mendapat Rhema.
Jika kita mendapat Rhema dan melakukan, maka kita akan mendapat mujizat. Inilah alasan mengapa iman kita tidak bekerja dengan baik. Kita selalu merasa punya iman, tetapi iman hanya timbul dari Rhema. Bagaimana sikap kita jika mau iman kita hebat? Waktu mendengar Logos, perhatikan dengan seksama supaya Roh Kudus bisa memberikan Rhema dalam hidup kita.

2. Hubungan Iman dan Perbuatan (Yak. 2:17, Yak. 2:14-26)
Iman harus disertai dengan perbuatan. Jika kita rajin berdoa, setia beribadah, melayani tetapi tidak disertai perbuatan baik, iman kita akan mati. Orang Kristen yang melihat orang lain membutuhkan tetapi tidak mau memberi adalah orang yang tidak beriman (ay. 14-16). Iman tanpa perbuatan, tidak dapat menyelamatkan. Perbuatan kita menunjukkan iman kita (ay. 18). Jika kita berbuat jahat, tidak adil, itulah jenis iman kita. Bahkan setan imannya lebih besar dari kita tetapi perbuatannya jahat (ay. 19-20). Abraham dibenarkan bukan hanya karena iman, tetapi perbuatannya ketika mempersembahkan Ishak.

Iman harus disertai perbuatan. Permasalahan yang kita hadapi:
- Diberkati (Fil. 4:19). Jika kita renungkan ayat ini akan menjadi Rhema, tetapi ada yang harus kita lakukan di ay. 18. Jemaat Filipi sangat miskin, tetapi selalu memenuhi kebutuhan Paulus, sedangkan jemaat Korintus kaya raya tetapi tidak pernah memberi. Jika ingin diberkati, mulailah memberi maka ay. 19 otomatis menjadi bagian kita.
- Menuai (Kej. 26:13). Kita semua suka ayat ini dan ingin mengalami. Tetapi yang harus  dilakukan ay. 12, mulailah menabur.
- Kesembuhan (1Pet. 2:24b). Yang harus direnungkan ay. 24a, mati terhadap dosa
- Hubungan (Fil. 2:3-4). Lakukan ay. 3b-4, bukan hanya berdoa minta Tuhan ubahkan suami/istri/anak/orang lain.

Logos menghasilkan Rhema dan Rhema menimbulkan iman. Iman menghasilkan perbuatan dan perbuatan menghasilkan berkat, kesembuhan dan pemulihan. Tuhan Yesus memberkati. (LL)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com