Kamis Desember 14 , 2017

I Am God Almighty (Pelajaran Dari Kitab Ayub)

Pdt. Simon Kostoro
Sabtu, 18 November 2017

Latar belakang kitab Ayub
Ayub seorang yang paling kaya di Timur tapi Tuhan ijinkan dia mengalami situasi terburuk. Harta dan anak-anaknya habis binasa, kesehatannyapun habis, istrinya tidak mendukung, demikian juga teman-temannya yang dia pikir bisa memberi penghiburan malah sebaliknya menyusahkan dia. Tapi pada akhirnya Ayub dapat keluar sebagai pemenang. Apa yang diharapkan oleh iblis, yakni Ayub mengutuki Allah, ternyata tidak terjadi. Ayub menjadi contoh terbaik dari ketekunan (Yak. 5:11).

Keunikan dari kitab Ayub:
Pertama, Kitab Ayub adalah kitab yang tertua di dalam Alkitab. Ayub hidup sezaman dengan Abraham. Kedua, di dalam Perjanjian Lama nama Allah “El Shadday” (God Almighty/Allah yang Maha Kuasa) muncul sebanyak 48 kali, di antaranya 28 kali terdapat di dalam kitab Ayub.

Beberapa pelajaran dari Kitab Ayub:
1. Jangan sembarang menghakimi (Ayb 42:7-8 ; 1Kor. 4:5)
Inilah yang dilakukan oleh ketiga teman Ayub yaitu Elifas, Bildad, dan Zofar. Maksud mereka sebenarnya baik yaitu datang untuk menghibur Ayub, namun perkataan mereka bukan menghibur malah menyusahkan Ayub. Mereka menuduh bahwa penderitaan Ayub adalah akibat salah dosa yang diperbuat oleh Ayub. Sekalipun Ayub berkata bahwa ia sudah mempertahankan hidup yang baik dan benar, namun teman-temannya tetap bersikeras bahwa Ayub pasti sudah melakukan dosa.
Dalam Ayb. 42:7-8 Allah murka kepada ketiga teman Ayub sebab mereka telah berkata yang tidak benar tentang Ayub, bahkan Tuhan berencana akan menganiaya ketiga teman Ayub. Akhirnya Allah menyuruh mereka untuk meminta maaf dan mohon doa kepada Ayub supaya mereka tidak mengalami murka Allah.
Ini merupakan pelajaran penting bagi kita agar jangan sembarangan menghakimi orang lain, apalagi jika kita tidak memahami apa yang sedang terjadi. Supaya kita tidak dianggap berdosa oleh Tuhan. Di dalam surat Korintus, Paulus juga mengingatkan supaya kita jangan meghakimi orang lain.
I Kor. 4:5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

2. Perlunya Seorang “Mediator” (Ayb 9:33; 16:19; 19:25)
Di dalam kitab Ayub kita belajar bahwa perlu adanya mediator antara manusia dengan Allah, dan hal ini merupakan nubuat tentang Yesus, Perantara kita kepada Bapa.
Ayub merasa bahwa ia dimusuhi oleh Allah sehingga ia berkata bahwa ia perlu seorang mediator (penengah) antara ia dengan Allah, yang bisa mendamaikan ia dengan Allah.
Ayb. 9:33 - Dalam pergumulannya dia berkata betapa baiknya jika ada penengah antara ia dengan Allah.     Ayb. 16:19 - Dalam  ilhaman Roh Kudus, Ayub bisa melihat adanya “Pribadi” disorga yang membela dia di hadapan Bapa.
Ayb. 19:25 - Adalah nubuatan tentang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Penebus yang selama-lamanya hidup dan menjadi Perantara bagi kita dengan Bapa. Melalui salib Ia menebus, mendamaikan kita dengan Bapa sehingga kita menjadi anak-anak Allah.
I Tim. 2:5-6 - Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.

3. Pengampunan membawa Kebebasan!
Ayb. 42:10 - Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.  
(KJV) And the LORD turned the captivity of Job, when he prayed for his friends, also the LORD gave Job twice as much as he had before
“Captivity” artinya tertawan, terbelenggu. Di dalam bahasa Inggris dituliskan, “Dan Allah membebaskan Ayub dari tawanan…”. Dengan lain kata, Ayub tadinya tertawan (tertawan secara fisik, sakit penyakit, penderitaan, juga kemarahan terhadap teman-temannya), namun setelah ia berdoa untuk sahabat-sahabatnya ia dibebaskan dari semua itu. Ya, setelah Ayub berdoa untuk teman-temannya yang menyakiti dia, maka Allah membebaskan Ayub dari situasi tersebut dan memulihkan keadaannya.
Jadi, ketika kita mengampuni, mendoakan dan memberkati, kita dibebaskan!
Dalam Mat 18:21-35, Yesus memberikan suatu perumpamaan tentang orang yang tidak mau mengampuni. Ada seorang yang dibebaskan dari hutangnya yang sangat banyak oleh Raja karena belas kasihannya kepada orang tersebut. Namun setelah dibebaskan, ia bertemu dengan seorang temannya yang berhutang sedikit kepadanya dan tidak mampu membayarnya. Orang itu tidak mau mengampuni dan menjebloskan temannya itu ke dalam penjara. Hal itu diketahui oleh Raja dan Raja menjadi sangat marah, lalu menangkap orang yang tidak mau mengampuni tersebut dan menjebloskannya ke dalam penjara sampai ia dapat melunasi hutang-hutangnya.
Kisah ini sangat jelas mengajarkan bagaimana kita harus mengampuni. Mengampuni bukan hanya dengan kata-kata tetapi harus dari hati. Caranya adalah mulai dari berdoa untuk orang-orang yang telah menyakiti kita.
Kita memang tidak bisa mengubah hati kita tetapi kita bisa mengubah pikiran kita. Sebaliknya, Allah bisa mengubah hati kita tetapi Dia tidak mau mengubah pikiran kita. Artinya bahwa kita bertanggung jawab atas tindakan kita. Apakah kita mau mendoakan, mengampuni orang lain itu bukanlah soal Allah, tetapi soal kita sendiri. Apakah Ayub mau mendoakan teman-temannya itu bukanlah soal Allah, tetapi soal Ayub sendiri mau atau tidak. Ketika Ayub mau berdoa untuk teman-temannya maka di situ juga hatinya diubahkan oleh Tuhan, dan Tuhan melepaskan Ayub dari belenggunya atau penawanannya.  
Kita tentu tidak mau hidup dalam penawanan, melainkan dalam kebebasan. Mengampuni itu membebaskan tawanan, dan tawanan yang dibebaskan itu adalah diri kita sendiri.

Penutup:
Di dalam pasal 38-41, Tuhan mulai angkat berbicara (setelah 38 pasal Allah diam). Namun Allah sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayub. Allah bicara tentang dunia, tentang ciptaanNya dan lain-lain. Sepintas sepertinya apa yang Tuhan katakan itu tidak ada hubungannya dengan keadaan Ayub.  Namun sebenarnya ada pesan tersembunyi dalam jawaban Allah itu yakni: “I Am GOD Almighty, worship ME”, artinya “Aku ini Allah Yang Maha Kuasa, sembahlah Aku”. Dengan lain kata, “Ayub jangan takut, jangan kecewa ataupun marah sebab Aku masih memegang kendali dan tetaplah menyembah Aku.”
Banyak persoalan hidup yang tidak dapat kita mengerti mengapa terjadi, tetapi ketika kita datang kepada Tuhan dan ketika Allah menyatakan diriNya sebagai Allah El-Shadday, maka semua pertanyaan-pertanyaan itu akan sirna. Yang dapat kita lakukan hanyalah menyembah Dia. Sebab itu, mari dalam segala persoalan yang kita hadapi, kita tetap menyembah Tuhan dan tetap setia, sebab Dia adalah El Shadday, Allah Yang Maha Kuasa! Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com