Kamis Desember 14 , 2017

Ester

Pdt. Simon Kostoro
Minggu, 12 November 2017

Kitab Ester adalah satu dari tiga kitab yang mencatat tentang sejarah bangsa Yahudi setelah masa pembuangan. Kitab Ester mencatat tentang sejarah orang Yahudi yang tidak kembali ke Yerusalem, sedangkan dua kitab lainnya, Ezra dan Nehemia, mencatat tentang sejarah mereka yang pulang ke Yerusalem. Dan kitab ini merupakan kitab yang unik, karena tidak terdapat satu pun kata “Allah”, “Tuhan”, “doa”, ataupun “pujian” di dalamnya. Namun bila kita membaca keseluruhan kitab ini mulai dari pasal 1-10, kita akan dapat melihat bahwa Tuhanlah yang mengatur dan turut bekerja di dalam setiap peristiwa yang terjadi.
Kitab ini menceritakan tentang krisis yang menimpa bangsa Yahudi di Puri Susan, dimana pada tanggal 13 bulan Adar seluruh bangsa Yahudi di wilayah kekuasaan kerajaan Media Persia akan dibunuh secara massal (genosida). Dan keputusan ini tidak dapat dibatalkan lagi karena sudah diundang-undangkan dan dimeterai dengan meterai raja. Dan penyebab dari semua ini adalah seseorang bernama Haman yang begitu benci kepada Mordekhai, karena Mordekhai tidak mau sujud kepadanya. Oleh karena itu ia berniat untuk memusnahkan bukan hanya Mordekhai, tapi juga seluruh bangsa Mordekhai, yaitu bangsa Yahudi.
Sebenarnya kisah Ester ini merupakan penggambaran yang indah, di mana Ester adalah perlambangan dari gereja Tuhan. Mordekhai adalah lambang dari Yesus Kristus dan Raja (Xerxes) adalah Allah Bapa, sedangkan Haman adalah Iblis. Saat ini kita akan melihat beberapa analogi dalam Kitab Ester:

1. Upah Yang Tertunda
Dalam Ester 2 dicatat bahwa Mordekhai pernah berjasa kepada Raja namun tidak memperoleh apa-apa. Di pasal 6 barulah ia mendapatkan upahnya. Meskipun sempat tertunda tapi upah itu diberikan tepat pada waktunya. Karena itu kalau kita sudah berbuat baik namun belum mendapat upah, janganlah putus asa! Tetaplah berbuat baik, sebab Tuhan akan memberikan upah tepat pada waktunya (Gal. 6:9; Ams. 11:31). Semakin panjang penundaan itu, semakin besar upah yang akan kita terima. Puji Tuhan!

2. Salib: Kemenangan Kita
Dalam Ester 7 Haman sudah menyiapkan tiang gantungan untuk Mordekhai, tetapi yang digantung pada akhirnya bukan Mordekhai melainkan Haman. Hal ini merupakan kiasan tentang apa yang terjadi di atas kayu salib. Waktu Yesus disalib, Iblis berpikir bahwa ia berhasil mengalahkan Yesus. Tapi yang sebenarnya terjadi di atas kayu salib adalah kebalikannya. Yesus mati supaya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut (Ibr. 2:14). Jadi di atas kayu salib bukannya Mordekhai kita, yaitu Yesus yang dibinasakan, melainkan Haman yaitu iblis yang mati! Salib memberi kemenangan dan kelepasan (Kol. 2:13-15).

3. Torat vs Kasih Karunia
Haman memang sudah mati tetapi perintah untuk membinasakan orang Yahudi masih berjalan, oleh sebab itu di pasal 8-10 Ester harus sekali lagi menghadap Raja untuk memohon pembatalan surat tersebut. Namun Raja pun tidak bisa membatalkannnya, tetapi Raja memberikan cincin meterainya kepada Mordekhai untuk berbuat apa saja yang dipandangnya baik. Maka Mordekhai membuat hukum yang kedua atau yang baru, yang memberi wewenang pada orang Yahudi pada tanggal 13 bulan Adar itu untuk mengangkat senjata dan membunuh seluruh musuh-musuhnya. Maka orang Yahudi hari itu mendapat kemenangan yang luar biasa. Puluhan ribu musuh berhasil dimusnahkan, termasuk ke sepuluh anak Haman.
Dalam surat-suratnya Paulus banyak berbicara tentang torat dan kasih karunia. Torat adalah hukum Allah yang tidak dapat dibatalkan. Manusia dituntut untuk melakukannya dengan sempurna atau akan menerima penghukuman. Dan tidak ada satupun manusia yang dapat melakukannya, sehingga semua manusia jatuh di bawah kutuk torat. Karena Bapa begitu mengasihi manusia, maka Bapa melalui Yesus memberikan hukum yang baru, yaitu Hukum Kasih Karunia. Dan tuntutan kasih karunia hanya satu, yaitu percaya. Jadi orang percaya tidak lagi berada di bawah Hukum Torat (Rm. 6:14). Karena itu kita sekarang melakukan ibadah bukan untuk diselamatkan, tetapi sebagai wujud iman kita. Keselamatan adalah pemberian yang kita terima dengan iman, jalanilah dengan iman dan akhirilah pula dengan iman (Efe. 2:8-9).

4. Kemenangan Akhir Di Pihak Kita
Est. 10:3 mencatat: “Mordekhai… mengikhtiarkan yang baik bagi bangsanya dan berbicara untuk keselamatan bagi semua orang sebangsanya.” Kalimat “bagi semua orang sebangsanya” dalam bahasa Inggris dipakai kata “to all his seed” atau “bagi semua benihnya”. Dari awal Iblis selalu berusaha untuk membunuh benih itu, karena ia ingat akan perkataan Tuhan di Taman Eden bahwa benih perempuan akan meremukkan kepalanya. Selain Haman yang berusaha membinasakan orang Yahudi, ada Firaun yang pada zaman Musa berusaha membunuh benih itu, dan pada zaman Yesus juga terulang peristiwa yang sama lewat Herodes. Kita tentu juga ingat akan tragedi pada zaman Hitler. Di balik tokoh-tokoh ini ada roh Antikris yang berusaha membinasakan orang percaya. Namun pada akhirnya benih itulah yang menang dan Iblis yang kalah! Kemenangan ada di pihak kita!
Jadi, kita adalah orang-orang percaya yang akan menikmati kemuliaan Tuhan selama-lamanya. Karena itu siapapun kita sekarang dan apapun posisi kita saat ini, tetaplah hidup dalam kasih karunia-Nya dan jangan kuatir akan hari esok, karena Yesus, Mordekhai kita, sudah menang dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa! Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com