Kamis Desember 14 , 2017

Dibenarkan Oleh Iman - Pelajaran Surat Roma (49)

Rom 6:17)  Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.

- “Tetapi syukurlah kepada Allah!” – Seruan kemenangan. Kita bukan orang-orang yang kalah. Dalam pergumulan melawan dosa kita adalah orang-orang yang sudah menang dan akan menang. “Sudah” menang karena memang itulah posisi kita di dalam Kristus. Kristus sudah menang atas iblis dan dosa, kita di dalam Kristus adalah orang-orang yang menang. “Akan” menang, itulah akhir dari pergumulan kita. Memang kita sekarang masih jatuh bangun, tetapi selama kita mau bangkit dan terus berjalan di dalam Kristus, kita akan semakin hari semakin kuat dan pada akhirnya kemenangan ada di pihak kita. Haleluya!!

- “Dahulu memang kamu hamba dosa” – Inilah keadaan kita sebelum kita ada di dalam Kristus, kita diperhamba oleh dosa. Hamba (doulos) tidak punya kebebasan, hamba harus mentaati apa yang diperintah oleh tuannya.

- “sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu” – Sekarang kita adalah hamba kebenaran, dan sebagai hamba kebenaran kita juga mentaati kebenaran, bukan dengan paksaan tetapi dengan kerelaan dan keluar dari hati kita.

(Rom 6:18)  Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

- Ayat ini menegaskan kembali posisi kita saat ini dan sekaligus memberi alasan ayat yang sebelumnya. Mengapa kita harus mentaati kebenaran? Karena kita sekarang adalah hamba kebenaran. Mana yang lebih enak, menjadi hamba dosa atau menjadi hamba kebenaran? Jelas, menjadi hamba kebenaran. Menjadi hamba dosa membawa kepada kematian, sedangkan menjadi hamba kebenaran membawa kepada kebebasan dan kehidupan. “Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh.8:32

(Rom 6:19)  Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.

- Di ayat ini Paulus memakai ilustrasi yang mudah dimengerti untuk menjelaskan posisi orang percaya sebelum dan sesudah di dalam Kristus.

- Sadar atau tidak sadar setiap orang harus memilih, apakah ia menjadi hamba kecemaran, atau dia menjadi hamba kebenaran. Tidak ada zona netral. Bila seseorang memilih untuk menjadi hamba kecemaran, maka hasilnya ialah kedurhakaan. Kata “kedurhakaan” dipakai kata “anomia”. Kata ini juga dipakai di I Yoh.3:4 untuk menyatakan hakekat dosa. “Dosa ialah pelanggaran hukum Allah (anomia)” Dengan lain kata, bila kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita sebagai hamba kecemaran maka yang dihasilkan ialah dosa (melanggar hukum Allah). Sebaliknya, bila kita ijinkan anggota-anggota tubuh kita menjadi hamba kebenaran, maka kita akan dibawa kepada pengudusan. Kata “pengudusan” dipakai kata “hagiasmos” , yang artinya “dipisahkan bagi Allah”. Tuhan memisahkan kita dari dunia untuk dipakai sebagai alat-alat kemuliaanNya, mari kita persiapkan hidup kita di dalam ketaatan untuk menjadi alat-alatNya. (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com