Kamis Desember 14 , 2017

Bagaimana Meng-handle Kekecewaan

Pdt. Simon Kostoro
Sabtu, 4 November 2017

”Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Matius 11:6
Inilah perkataan Yesus yang ditujukan kepada Yohanes  Pembaptis yang pada saat itu sedang berada di penjara. Setiap orang pasti pernah mengalami kekecewaan. Yohanes Pembaptis di penjara dan sedang kecewa. Di sini Yesus memberikan pesan kepada Yohanes supaya tidak menjadi kecewa dan menolak Yesus.
Kekecewaan menjadi senjata ampuh yang dipakai oleh iblis untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan dan melemahkan pelayan-pelayan Tuhan, terutama di akhir jaman ini. Ada hal yang berbahaya ketika seseorang mangalami kekecewaan yaitu akan timbul suatu penolakan. Ketika kekecewaan itu terus disimpan dalam hati dan semakin bertambah-tambah maka itu akan menjadi sebuah penolakan. Kecewa kepada manusia akan menolak manusia, kecewa terhadap gereja akan menolak gereja, dan yang paling berbahaya adalah ketika seseorang sampai menolak Yesus.

Beberapa penyebab kekecewaan antara lain:
- Tidak memperoleh apa yang diharapkan.
- Disakiti hati oleh orang-orang yg dikasihi.
- Mendapat perlakuan yang tidak adil.
- Tidak dihargai (dilupakan) pengorbanannya atau jasa-jasanya.
- “Outcome” (hasil akhir) yang menyakitkan (Yoh. 16:1).
- Dan lain-lain.

Bagaimana kita mengatasi kekekecewaan? Mari kita belajar kepada nabi Habakuk, seorang nabi yang pernah mengalami kekecewaan namun berakhir dengan suatu kemenangan.

Keunikan Habakuk
Kitab Habakuk tidak berisi sebuah nubuat, berbeda dengan kitab nabi-nabi lain yang berisi nubuatan, tetapi berisi sebuah dialog atau percakapan antara nabi Habakuk dengan Allah. Habakuk seorang nabi yang bingung dan kecewa.
Pada bagian pertama Habakuk bertanya kepada Allah, mengapa Allah membiarkan ketidakadilan merajalela di antara bangsanya dan tidak berbuat apa-apa (Hab. 1:1-14). Lalu Tuhan menjawab pertanyaan Habakuk (Hab.1:5-11). Namun jawaban itu tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, sehingga semakin membuat Habakuk bingung dan kecewa. Karena Allah berkata bahwa IA akan memakai bangsa Babel yang kejam untuk menghukum bangsa Yahudi. Itulah sebabnya Habakuk kembali bertanya kepada Allah (Hab. 1:12-17), dan Allah menjawab pertanyaan Habakuk (Hab. 2:2-20) yaitu bahwa Allah satu saat juga akan menghukum bangsa Babel yang kejam itu. Dalam Habakuk 3, Habakuk percaya kepada Tuhan, lalu ia menaikkan pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan buat semua yang Tuhan lakukan, walaupun saat itu keadaan belum berubah (Hab. 3:17-19).
Sehingga kesimpulannya, kitab ini dimulai dengan sebuah kekecewaan tetapi diakhiri dengan sebuah pengagungan kepada Tuhan, dimulai dengan sebuah komplain (sungut-sungut) diakhiri dengan ucapan syukur, dimulai dengan keadaan yang terpuruk diakhiri dengan kemenangan, dimulai dengan sebuah kebingungan diakhiri dengan sebuah kepastian dan ketenangan, dimulai dengan kelemahan diakhiri dengan kekuatan, dimulai dengan “lembah” diakhiri dengan bukit.

Lalu apa rahasianya ?
1. Berdialog dengan Tuhan.
Dalam keadaan yang membingungkan Habakuk bercakap-cakap atau berdialog dengan Tuhan. Tuhan adalah Pribadi yang mau diajak untuk berbicara. Tuhan itu baik dan murah hati. Jika kita bertanya kepada Tuhan, Tuhan pasti menjawab.
Maz. 62:9 “Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya, Allah ialah tempat perlindungan kita.”
Yes. 1:18 “Marilah, baiklah kita berperkara ...”

2. Jadilah seorang “Habakuk”
Nama Habakuk artinya pelukan kasih, melekat, setia. Ini memberikan gambaran tentang apa yang harus kita lakukan ketika kita bingung dan kecewa, yaitu tetap memeluk atau melekat dan setia pada Tuhan. Mungkin ada banyak hal yang sekarang ini kita tidak mengerti  tetapi kita tetap dekat dengan Tuhan.
Pemazmur juga pernah mengalami hal seperti ini, ia bingung dan kecewa, namun satu hal yang ia perbuat yaitu ia tetap ada di dekat Tuhan (Maz. 73:21-23). Habakuk dalam kebingungan dan kekecewaannya ia tetap memeluk Tuhan

3. Tetaplah Percaya & Nantikan Dia
Hab. 2:4b “...tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.”
Orang benar hidup oleh iman. Dalam keadaan apapun, bahkan ketika kita tidak mengerti, kita harus percaya kepada Tuhan. Mungkin pertanyaan kita masih belum terjawab, tapi satu hal kita harus percaya dan tetap menantikan Tuhan. Ini adalah kunci dari kemenangan Habakuk.
Ketika Habakuk menulis kitab ini, apa yang Tuhan katakan belum ia lihat. Ia belum melihat Babel dihukum ataupun keadilan sudah ditegakkan. Tuhan masih menjawab dengan firman “nantikan”, tetapi itu sudah cukup bagi Habakuk dan ia percaya kepada Tuhan. Apapun keadaan kita saat ini mari kita tetap percaya dan berpegang kepada Firman Tuhan.

Kesimpulan:
Apakah saat ini anda sedang mengalami kekecewaan?  Jangan lari ke mana-mana, tetapi larilah kepada YESUS, maka anda akan beroleh kekuatan yang baru untuk melanjutkan perjalananmu. Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com