Kamis Desember 14 , 2017

Dibenarkan Oleh Iman - Pelajaran Surat Roma (48)

(Rom. 6:15)  Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!

- Pertanyaan ini muncul karena adanya pernyataan di ayat sebelumnya bahwa kita sekarang ada di bawah kasih karunia (ay. 14). Mungkin pertanyaan ini bagi kita seperti pertanyaan yang mengada-ada, tetapi secara tidak sadar, hal ini sedang terjadi di sekitar kita. Apa buktinya ? Maraknya pengajaran “hypergrace”! Walaupun pengajaran ini memang tidak mengajar orang untuk berbuat dosa tetapi secara tidak langsung orang yang menganut ajaran ini akan “lebih berani” berbuat dosa karena mereka percaya bahwa orang yang dipilih Tuhan untuk diselamatkan pada akhirnya akan tetap selamat karena keselamatan itu “semata-mata” karena kasih karunia Allah. Ya, memang benar, kita selamat karena kasih karunia Allah bukan karena perbuatan, tetapi bukan berarti kita tidak punya tanggung jawab! Lalu apa tanggung jawab kita? Ada dua tanggung jawab kita:
a) Sebelum kita diselamatkan, tanggung jawab kita ialah “menyambut/menerima” kasih karunia Allah ini, seperti yang dikatakan oleh Yoh. 1:11-12 “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” Kasih karunia Allah diberikan kepada semua orang tanpa terkecuali, tanpa memandang bulu, namun hanya mereka yang menyambut kasih karunia itu yang berhak menjadi anak-anak Allah.
b) Sesudah kita diselamatkan, tanggung jawab kita ialah “tinggal” di dalam kasih karunia Allah itu dengan cara menjaga hidup kita untuk hidup dalam kekudusan, tidak hidup di dalam dosa. Itulah yang dipesankan oleh Paulus kepada jemaat di Roma, “Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu” (Rom. 11:20-21). Lalu mengapa orang yang sudah diselamatkan tidak boleh hidup di dalam dosa ?

(Rom. 6:16)  Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?

- Dasar dari ayat ini ialah perkataan Tuhan Yesus sendiri, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah” (Yoh. 8:34-35). Dosa itu sifatnya selalu “memperbudak/memperhamba”. Hal ini bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, orang yang terikat dengan mabuk, judi, narkoba, percabulan dan lain-lain pada akhirnya diikat oleh dosa tersebut sehingga sukar untuk melepaskan diri. Dan apa yang didapat oleh orang tersebut pada akhirnya ? Kematian, baik kematian secara jasmani maupun kematian secara rohani. Sebaliknya orang yang melakukan kebenaran akan mendapat kehidupan, baik di dunia maupun di sorga!
- “ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran” – Kata “ketaatan” dipakai kata “hupakoe”, yang berasal dari kata “hupo” yang artinya “di bawah”, dan kata “akouo” yang artinya “mendengar”. Jadi orang yang taat ialah orang yang mendengar perintah dari atasannya.  Dari bunyinya kita dapat menyimpulkan bahwa ayat ini bukan ditujukan kepada orang yang belum percaya tetapi ditujukan kepada anak-anak Tuhan, orang-orang yang sudah diselamatkan! Jadi setiap anak Tuhan punya dua pilihan sikap, tidak mau mendengar Firman dan tetap hidup dalam dosa yang membawa kepada kematian, atau mau mendengar Firman dan hidup dalam kebenaran yang akan membawa kepada kehidupan yang kekal! (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com