Kamis Desember 14 , 2017

Menderita Untuk Kristus

Pdm. Ganda Purba
Minggu, 29 Oktober 2017

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.” (Filipi 1:29-30)

Judul dari perikop adalah nasihat supaya tetap berjuang. Ketika kita telah memutuskan hidup kita untuk menjadi pengikut Tuhan, hidup kita tidak akan aman-aman saja. Fokus kekristenan bukanlah pada berkat. Hari-hari ini banyak pengajaran yang menyesatkan dimana fokusnya hanya kepada berkat saja. Fokus dari gereja atau pun anak anak Tuhan adalah mempersiapkan diri untuk masuk dalam kemuliaan.
Dalam ayat ini dikatakan bahwa kepada kita dikaruniakan bukan saja untuk percaya, melainkan juga untuk menderita untuk Kristus. Ada beberapa pennyebab sehingga penderitaan itu di alami oleh manusia, yaitu: 1) Karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam mengambil keputusan. 2) Akibat dosa yang kita perbuat. 3) Ujian yang Tuhan ijinkan. 4) Karena sesuatu yang Tuhan tetapkan dalam kehidupan seseorang. 5)Penderitaan sebagai kasih karunia dari Tuhan. Penyebab satu sampai empat sifatnya sementara, tetapi penyebab yang ke lima sifatnya tetap, artinya terus-menerus terjadi dalam kehidupan kita.

“... menderita untuk Dia.”
Dalam bahasa aslinya berarti sesuatu yang terjadi terus-menerus. Kita harus mengalaminya setiap saat di dalam kehidupan kita. Suatu penderitaan yang dikarenakan untuk Kristus, bukan karena akibat perbuatan dosa ataupun kesalahan kita.
Sama halnya dengan kata “percaya” yang artinya juga adalah percaya terus-menerus. Bukan sesuatu yang dikerjakan kadang-kadang atau terputus-putus. Demikan juga “menderita” harus terus-menerus terjadi dalam hidup kita.
Rasul Paulus berkata bahwa yang ia cari dalam pelayanannya bukanlah popularitas atau berkat. Fokusnya adalah mengenal dan bersekutu dalam penderitaan Kristus supaya pada akhirnya ia dibangkitkan dan dimuliakan bersama-sama dengan Kristus (Filipi 3:10-11). Hal ini juga harus tertanam dalam kehidupan kekristenan kita.
Alasan Paulus menulis surat ini adalah bahwa jemaat di Filipi saat itu sedang bingung tentang bagaimana seharusnya menjadi kristen yang sesungguhnya. Jemaat Filipi adalah jemaat yang rajin dalam ibadah dan juga suka berkorban, tetapi mereka bingung kenapa harus selalu mengalami penderitaan. Paulus berkata bahwa kepada mereka bukan saja dikaruniakan untuk percaya, tetapi juga menderita untuk Kristus.

“ kepada kamu dikaruniakan ... untuk menderita..”
Menjadi seorang Kristen berarti harus rela dan bersukacita menderita dalam kehidupannya. Namun kita tidak akan berhasil menjalaninya jika kita tidak melihat penderitaan itu dari sudut pandang Allah. Bahkan kita bisa menjadi mundur dari iman kita ketika penderitaan itu bertubi-tubi datang dalam kehidupan kita.
Paulus berkata bahwa penderitaan adala kasih karunia atau anugrah, artinya sesuatu yang sangat tinggi nilainya, atau suatu berkat yang luar biasa. Bukankah kita sering berdoa supaya Tuhan menyatakan anugerah atau kasih karuniaNya bagi kita. Orang menerima kasih karunia adalah orang yang sangat beruntung dalam kehidupannya. Jadi ketika kita mampu melihat “penderitaan ini sebagai kasih karunia maka kita akan dengan sukacita menjalaninya.
Dalam kehidupannya Paulus mengalami banyak sekali penderitaan (2Kor. 11:23-30) namun hal itu sedikitpun tidak mengurangi sukacitanya ataupun melemahkan imannya dalam ia mengiring dan melayani     Tuhan.
Jadi, barang siapa tidak mau menderita bagi Kristus maka sebenarnya ia tidak pernah menjadi Kristen yang sejati atau dewasa. Sebab ukurun kekeristenan yang dewasa adalah ketika ia mampu menerima penderitaan sebagai kasih karunia dari Tuhan.

Penderitaan seperti apa yang dimaksud dengan “menderita untuk Dia” (2Tim 2:3-6):
1. Penderitaan sebagai seorang prajurit.
2Tim. 2:3-4  Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.  Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
Bagi seorang prajurit, hidupnya adalah apa yang diperintahkan oleh komandannya. Seorang prajurit sangat terkenal dengan ketaatan dan loyalitasnya. Setiap orang percaya adalah prajurit Kristus dan Kristuslah yang menjadi Komandannya. Jadi kita harus taat dan loyal terhadap segala apa yang diperintahkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita sekalipun kita pasti akan mengalami penderitaan karena hal itu. Kita harus menerima seluruh kebenaran, bukan sebagian atau yang hanya menyenangkan saja.

2. Menderita sebagai seorang olahragawan
2Tim. 2:5  Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. Penderitaan seorang olahragawan adalah bagaimana ia membawa dirinya untuk memiliki disiplin dalam latihan. Demikian dengan kita, Tuhan mau agar kita melatih diri kita hari demi hari. Setiap hari kita mau memikul salib, melatih diri kita untuk bersekutu dengan Tuhan dan FirmanNya.
Semakin hari kita harus semakin kuat dan semakin mempersiapkan diri kita untuk menyongsong kedatangan Tuhan yang kedua kali. Setiap hari kita bergaul dan berjalan bersama dengan Tuhan seperti yang dilakukan oleh Henokh dimana ia mendapatkan suatu keyakinan bahwa ia tidak akan mengalami kematian (Kej. 5:21-24). Jangan kita seperti lima anak dara yang bodoh, yang tidak mempersiapkan persediaan minyak, sehingga mereka tidak masuk ke dalam pesta pernikahan (Mat. 25:1-13).

3. Menderita sebagai seorang petani.
2Tim. 2:6  Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.
Seorang petani tugasnya adalah menabur benih, merawat, menjaga dan bersabar dalam dalam menanti tuaiannya. Sebagai seorang petaninya Tuhan maka kita harus banyak menabur (Firman, kesaksian, kebaikan, dll). Kita harus peduli dengan keadaan sekeliling kita. Kita merawat jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan kepada Kita. Jika kita ingin menuai dengan sorak sorai maka kita harus menabur dengan air mata (Mazmur 125:5-6).
Kita belajar dari seorang Samaria yang menolong seorang Yahudi yang sekarat. Apakah kita memiliki hati yang juga terbeban kepada jiwa-jiwa yang belum percaya kepada Tuhan? Kekristenan bukanlah berpangku tangan, melainkan kerelaan menderita demi orang lain.

Tujuan akhir Tuhan dalam kehidupan kita bukanlah penderitaan melainkan masuk dalam kemuliaan. Penderitaan itu hanyalah proses menuju kemuliaan. Itu sebabnya penderitaan semacam ini harus kita kejar sampai menjadi bagian dalam kehidupan kita. Hingga pada akhirnya sebagaimana Yesus dibangkitkan maka kita pun dibangkitkan, sebagaimana Yesus dimuliakan maka kita pun akan dimuliakan. Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com