Kamis Oktober 19 , 2017

Allah Yang Menjawab Dengan Api

Pdt. Simon Kostoro
Sabtu, 30 September 2017

“Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!” Seluruh rakyat menyahut, katanya: “Baiklah demikian!” 1 Raja-raja 18:24
Peristiwa yang melatarbelakangi ayat di atas adalah “pertarungan” antara Nabi Elia melawan nabi-nabi Baal untuk membuktikan siapakah Allah yang benar, Allah Yehova atau Baal. Waktu itu bangsa Israel sudah meninggalkan Allah dan beralih kepada Baal. Mereka mendua hati, sebentar menyembah Tuhan, sebentar menyembah Baal (waver between two opinions). Itulah sebabnya Elia menantang bangsa Israel untuk bersikap tegas memilih salah satu. Ini adalah gambaran bagi gereja Tuhan. Gereja di akhir jaman digambarkan sebagai gereja Laodikia (Why. 3:14-22) yang tidak panas tetapi juga tidak dingin, suam-suam kuku. Gereja yang demikian akan “dimuntahkan” oleh Tuhan.
Akibat daripada keadaan mereka yang mendua hati, mereka mengalami kekeringan selama tiga setengah tahun. Orang yang mendua hati tidak akan diberkati, orang yang mendua hati tidak akan tenang hidupnya (Yak. 1:8), itulah sebabnya jangan mendua hati. Mengikut Tuhan jangan setengah-setengah! Jangan sampai kita kehilangan fokus dan komitmen kita kepada Tuhan.
Ada satu bahaya yang diperingatkan oleh Paulus dalam Ibr. 2:1, yaitu: “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” Kadang-kadang dengan tidak sadar kita sudah terbawa oleh arus (drifted away), kerohanian kita sudah mulai bergeser. Apa tandanya kalau kita sudah mulai bergeser? Ketika roh kita sudah tidak lagi menyala-nyala dan bersemangat untuk Tuhan. Ibadah, doa, membaca Firman Tuhan tidak lagi menjadi kesukaan kita, melayani Tuhan hanya karena tugas, tidak lagi ada sukacita di dalamnya. Lalu apa yang harus kita perbuat untuk memulihkan keadaan ini? Kita perlu api Roh Kudus kembali membakar hidup kita dan Tuhan ialah Tuhan yang menjawab dengan api!
Dalam 1Raj. 18:30-35 ada beberapa hal yang dilakukan oleh Elia sebelum api Tuhan diturunkan atas bangsa itu. Mari kita pelajari bersama…
1. Memperbaiki mezbah
Mezbah selalu berbicara tentang kehidupan doa. Kalau kita mau melihat api Roh Kudus dicurahkan dalam hidup kita, kita harus memperbaiki kehidupan doa kita.

2. Menyusun “12” batu
Batu merupakan gambaran dari anak Tuhan atau orang percaya (1Ptr. 2:5). Dan angka “12” ini mengacu kepada “keutuhan” suku Israel. Kita perlu mengerti bahwa ketika peristiwa itu terjadi, bangsa Israel sudah terpecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Utara (Kerajaan Israel) yang terdiri dari 10 suku dan Kerajaan Selatan (Kerajaan Yehuda) yang terdiri dari 2 suku. Dan peristiwa itu sendiri terjadi di Kerajaan Utara (Kerajaan Israel). Walaupun demikian waktu Elia menyusun batu, Elia tidak memakai hanya 10 batu, melainkan tetap 12 batu. Ini gambaran dari keutuhan dan persatuan umat Tuhan. Tuhan ingin gerejaNya utuh dan tidak terpecah-pecah. Kalau kita mau melihat api Tuhan diturunkan dalam gereja kita, harus ada persatuan. Ingat, berkat Tuhan dicurahkan ketika umat Tuhan bersatu dengan rukun (Mzm. 133).

3. Menyusun kayu api
Kayu api merupakan bahan untuk membakar korban. Ini gambaran dari tubuh kita yang harus menjadi persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:1). Tubuh kita ini penting, karena kita melayani dan memuliakan Tuhan dengan tubuh ini. Namun dalam kenyataannya tubuh ini paling mudah dicemari oleh dosa. Karena itu hiduplah dalam kekudusan agar kita dapat melihat api Roh Kudus membakar hidup kita.

4. Menyembelih korban
Korban disembelih dan ada darah yang tercurah. Ini merupakan gambaran dari Kristus sebagai Anak Domba Allah yang telah tersembelih di atas Golgota (1Kor. 5:7). Karena ada darah maka Allah mencurahkan RohNya ke atas gerejaNya. Sama seperti bangsa Israel waktu keluar dari Mesir, mereka diluputkan dari maut bukan karena “siapa” yang ada di dalam rumah, melainkan karena ada tanda darah di ambang pintu. Demikian juga Roh Kudus dicurahkan bukan karena “siapa kita”, melainkan karena Allah melihat darah Yesus yang ada dalam diri kita.
5. Memenuhi dengan air
Air adalah gambaran dari firman Tuhan yang menyucikan dan membersihkan kita. Marilah kita menyambut dan menampung firman dengan hati yang terbuka, supaya kita dapat melihat kemuliaan-Nya dinyatakan.

Setelah Elia melakukan lima hal di atas, maka yang terjadi selanjutnya ialah…
1. Api Tuhan turun!
Allah menjawab dengan api yang turun dari sorga dan menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah, serta air yang di dalam parit (ayat 38). Jangan ragukan Allah kita yang kita panggil di dalam nama Yesus! Ia mampu melakukan perkara yang dahsyat! Rindukan terus agar api Roh Kudus itu dicurahkan dengan luar biasa dalam kehidupan kita dan gereja-Nya.

2. Hujan berkat diturunkan!
Setelah api itu turun, hujan pun turun dengan derasnya. Percayalah bahwa ketika Roh Kudus bekerja, maka hujan berkat pun akan dicurahkan dengan melimpah dalam kehidupan kita!

Sebagai kesimpulan, Tuhannya Elia, Tuhan kita yang kita sembah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, ialah TUHAN YANG MENJAWAB DENGAN API. Sebab itu mari kita benahi hidup kita, maka api Roh Kudus dan hujan berkat Allah pasti akan dicurahkan dalam kehidupan kita! Tuhan Yesus memberkati! (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com