Jumat Desember 15 , 2017

Dibenarkan Oleh Iman - Pelajaran Surat Roma (43)

(Rom 6:1)  Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!

- Ayat ini untuk mengantisipasi kesalahan persepsi yang mungkin terjadi, baik secara disengaja maupun secara tidak disengaja. Sebab dikatakan di atas bahwa dimana dosa bertambah, di situ kasih karunia juga bertambah. Bisa saja orang yang tidak mau bertobat menggunakan ayat ini untuk membenarkan perilakunya. Oleh sebab itu di ayat ini Paulus menyampaikan pesannya dengan cara retoris, “Bolehkah kita bertekun di dalam dosa, supaya kasih karunia Allah semakin bertambah?” Kita tahu bahwa jawabannya ialah : Tidak boleh!

- Kita memang belum sempurna dan masih bisa berbuat dosa tetapi kita tidak “bertekun” di dalam dosa! Kata “bertekun” dalam bahasa asli dipakai kata “epimeno” yang artinya “tinggal atau berdiam di satu tempat”. Saya percaya orang yang sungguh-sungguh mengerti arti kasih karunia, tidak akan menyalahgunakan kasih karunia yang ia terima, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus : “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (I Kor.15:10). Bagi Paulus kasih karunia yang ia terima justru merupakan kesempatan baginya untuk berkarya bagi Tuhan, lalu bagaimana dengan kita?

(Rom 6:2)  Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

- Ayat ini memberikan alasan yang paling kuat mengapa orang percaya tidak perlu lagi hidup di dalam dosa. Karena kita “sudah” mati terhadap dosa! Kematian mengisyaratkan satu perpisahan yang tuntas, yang total. Orang yang sudah mati tidak mungkin kembali lagi, ia benar-benar terpisah dari dunianya, dari kehidupannya yang lama.

- Kata “mati” dipakai kata “apothnesko” yang terdiri dari dua kata yaitu kata “thnesko” yang artinya mati (to die) dan kata depan “apo” yang artinya lepas atau putus (off). Jadi kalau disambung artinya “mati sama sekali” (to die off). Ini untuk menunjukkan bahwa kita sudah benar-benar terputus dari dosa lewat kematian. Kapan orang percaya mati dan bagaimana cara kematiannya? Itu dijelaskan lebih lanjut di ayat-ayat berikut…

(Rom 6:3)  Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?

- Inilah jawabannya, yaitu lewat BAPTISAN AIR! Sesungguhnya Roma pasal 6 ini adalah Pasal Baptisan. Tidak ada pasal lain di Alkitab yang menjelaskan tentang baptisan air lebih detail dan lebih menyeluruh daripada pasal ini. Jadi pasal ini sangat penting!

- Dikatakan bahwa lewat baptisan air kita telah mati terhadap dosa, mengapa? Karena lewat baptisan kita disatukan “dalam” kematian Kristus atau lebih tepatnya disatukan “ ke” dalam (into) kematian Kristus! Kita tahu bahwa Kristus telah mati dalam keadaanNya sebagai manusia dan oleh kematianNya Ia terlepas dari dunia ini. Kitapun sebagai pengikut Kristus juga harus mati terhadap dunia ini. Lalu bagaimana caranya? Apakah kita harus disalib seperti Kristus? Seandainya kita disalib tentu kita tidak hidup lagi di dunia ini. Oleh sebab itu Allah menentukan satu cara yang jauh lebih simpel yaitu lewat baptisan air. Lewat baptisan air kita “dimasukkan” ke dalam kematian Kristus. Lewat baptisan air kita “disatukan” dengan kematian Kristus di atas kayu salib Golgota. Dan ini adalah sebuah kebenaran! Oleh sebab itu kita yang sudah dibaptis, kita benar-benar telah mati terhadap dunia, mati terhadap kehidupan kita yang lama, mati terhadap dosa-dosa kita! (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com