Kamis Oktober 19 , 2017

Kasih Karunia dan Kebenaran

Pdt. Herman Rantung - Jakarta
Sabtu, 23 September 2017

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh. 1:14)
Kasih karunia dan Kebenaran adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Kita bersyukur jika sampai saat ini boleh menikmati anugrah Tuhan, tetapi jangan dilupakan bahwa ketika kita menerima anugrahNya Tuhan juga menuntut supaya kita hidup benar. Kita sering berpikir bahwa Tuhan itu panjang sabar dan murah hati sehingga kita bisa melakukan apa saja, bebas berbuat apa saja kemudian meminta ampun kepada Tuhan. Hari Senin sampai Sabtu berbuat dosa, lalu hari Minggu meminta ampun kepada Tuhan. Tanpa disadari pola ini terus saja ada dalam  gereja. Memang Tuhan memberikan anugerah tetapi Ia juga menuntut kita untuk hidup benar. Jadi, kasih karunia atau anugerah harus berjalan bersama dengan kebenaran.

Yoh. 8:2-11 Perempuan yang kedapatan berzinah.
Hukum yang berlaku pada saat itu, jika seseorang kedapatan berzinah maka harus dirajam dengan batu sampai mati. Dalam ayat ke 7, Yesus berkata barang siapa ada di antara mereka yang tidak berdosa hendaklah ia pertama yang melempar wanita tersebut. Mereka sadar bahwa tidak ada di antara mereka yang tidak berdosa. Dalam ayat 10, dijelaskan bahwa Yesus juga tidak menghukum wanita tersebut. Oleh karena anugrah maka wanita ini diselamatkan.
Tetapi kisah ini tidak berhenti hanya sampai Yesus mengampuni wanita ini. Selanjutnya Yesus berkata “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8:11). Jadi, ketika kita menerima anugerah dan diselamatkan maka selanjutnya bahwa kita diwajibkan untuk tidak berbuat dosa lagi.
Pertanyaan sekarang adalah “bagaimana jika wanita itu kembali jatuh ke dalam dosa”.
Yoh. 5:14 Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
Di sini diperingatkan akibat jika kembali jatuh ke dalam dosa, yaitu  akan “terjadi hal yang lebih buruk”. Jadi jika jatuh dalam dosa lagi maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Tuhan tidak boleh dianggap remeh. Tuhan menuntut setiap kita agar benar-benar menjaga hidup kita. Anugerah kita terima tetapi kita harus hidup dalam kebenaran.

Roma 11:22 Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.
Ayat ini berkata supaya kita memperhatikan kemurahan Allah dan juga kekerasanNya. Jika kita meminta anugrah maka kita juga harus hidup benar, sebab anugrah dan kebenaran itu tidak bisa dipisahkan. Jika kita meminta kebaikan Tuhan maka kita harus hidup benar. Sebab jika tidak maka kita juga akan “dipotong”. Kita tidak bisa bermain-main dengan anugerah Tuhan. Tuhan memang Allah yang panjang sabar tetapi Dia juga Allah yang Pencemburu.
Mat. 11:28-30 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
Alkitab memberikan undangan bagi kita yang berbeban berat untuk ditolong oleh Tuhan (Mat. 11:28). Ini merupakan suatu pengharapan. Namun dalam ayat 29 dikatakan bahwa ketika Tuhan mengundang kita untuk menerima kelegaan, namun tindakan selanjutnya adalah kepada kita diberikan kuk. Kuk biasanya dipakaikan kepada binatang supaya dapat dikendalikan atau di atur oleh pemiliknya. Artinya bagi kita adalah bahwa ketika Tuhan mengenakan kuk kepada kita adalah supaya kita bisa diatur. Namun masalahnya adalah bahwa banyak anak Tuhan tidak mau diatur oleh Tuhan. Kita begitu sering hidup menurut maunya sendiri, bebas melakukan apa saja. Banyak anak-anak Tuhan sudah terima anugrah tetapi tidak mau diatur. Tuhan berkata bahwa kuk yang Dia pasang itu adalah enak dan ringan (Mat. 11:30). Kuk bisa menjadi enak dan ringan yaitu ketika anak-anak Tuhan bisa diatur oleh Tuhan. Biarlah kita menjadi  jemaat yang bisa ditegur dan diatur oleh Tuhan.
Roma 2:4-8. Tuhan punya batas kesabaran. Selama pintu kemurahan Allah masih terbuka, mari kita gunakan kesempatan ini untuk bertobat (ay. 4-5), sebab Tuhan akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (ay. 6-8).

Dalam segala perbuatan kita, mari kita hidup benar di hadapan Tuhan. Tuhan melihat segala perbuatan kita. Tuhan akan memberkati kehidupan kita, bahkan segala apa yang kita kerjakan Dia akan buat berhasil, tetapi Tuhan juga menuntut agar kita hidup benar. Tuhan Yesus memberkati. (KGDP)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com