Jumat Desember 15 , 2017

Perumpamaan Tentang Seorang Penabur

Pdm. Daniel Rudianto
Sabtu, 16 September 2017

Bacaan: Markus 4:1-20

Perumpamaan tentang seorang penabur merupakan perumpamaan yang paling dasar dan paling penting yang diajarkan oleh Yesus. Karena itu dalam ayat 13 Yesus berkata: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?” Dengan kata lain, inti dari semua pengajaran Yesus ada di dalam perumpamaan ini. Perumpamaan ini menjadi dasar bagi kita untuk dapat memahami pengajaran lainnya.
Adapun inti dari perumpamaan ini adalah bagaimana sikap kita terhadap firman Tuhan. Kita tahu bahwa firman Tuhan berkuasa untuk mendatangkan perubahan, pemulihan, kesembuhan, kelimpahan dan berkat. Namun ternyata dampak dari firman itu terhadap tiap-tiap orang berbeda, tergantung pada bagaimana sikap orang tersebut terhadap firman. Karena itu kalau kita ingin menikmati hasil dari firman Tuhan yang seratus kali lipat, kita harus memiliki sikap yang benar terhadap firman Tuhan.
Dalam penjelasan mengenai perumpamaan ini di ayat 14 dikatakan bahwa: “Penabur itu menaburkan firman.” Jadi firman Allah digambarkan seperti benih yang ditaburkan. Seperti petani yang membutuhkan banyak benih untuk memiliki hasil seratus kali lipat, kita juga membutuhkan banyak firman setiap harinya. Ibarat tubuh yang memerlukan cukup makanan agar kita dapat beraktivitas dengan efektif, roh kita pun perlu benih firman yang cukup agar dapat menikmati tuaian yang besar.
Jangan berpuas diri ketika sudah membaca firman di pagi hari, apalagi jika itu dilakukan dengan terburu-buru atau hanya sekilas lalu saja. Namun jadikanlah firman Tuhan itu sebagai gaya hidup kita (Pkh. 11:6; Mzm. 1:2). Kehidupan bangsa Israel dalam memungut manna dapat menjadi pelajaran bagi kita dalam membaca firman. Setiap orang harus memungut manna 1 gomer setiap harinya (sekitar 4 liter). Ukuran manna itu seperti ketumbar. Bisa dibayangkan bahwa untuk memungutnya perlu waktu yang cukup panjang. Kita pun harus memiliki porsi firman yang cukup setiap hari. Karena itu luangkan waktu yang cukup untuk diisi dengan firman Tuhan.
Selanjutnya kita akan melihat mengenai empat kondisi hati ketika menerima firman Tuhan yang dijabarkan dalam ayat 15-20 berikut ini:

1. Pinggir jalan (ayat 15)
Kapan tepatnya Iblis mencuri firman dari hidup kita sehingga tidak berbuah? Harus dipahami bahwa yang dimaksud dengan firman di sini bukan hanya firman yang disampaikan di gereja, namun secara spesifik adalah setiap firman yang datang dalam hidup kita (Mat. 4:4). Dan firman itu datang melalui bermacam-macam penabur, misalnya melalui radio, televisi, buku rohani, juga SMS renungan. Inilah jenis firman yang dicuri oleh Iblis dari hidup kita karena sikap kita yang seringkali mengabaikan firman tersebut. Karena itu jangan melewatkan kesempatan untuk membaca atau mendengarkan firman seperti ini. Terima firman itu dengan memperhatikannya secara sungguh-sungguh agar kita dapat menikmati kuasa firman itu!

2. Tanah yang berbatu-batu (ayat 16-17)
Pada tanah yang berbatu-batu firman itu tidak berbuah karena tidak berakar dengan kuat. Ini sama dengan kondisi hati orang percaya yang begitu senang mendengarkan firman, namun sayangnya tidak dilakukan. Bandingkan dengan perumpamaan mengenai dua macam dasar dalam Mat. 7:26-27. Orang yang hanya mendengar firman tapi tidak melakukannya sama dengan rumah yang dibangun di atas pasir, yang pasti akan roboh ketika badai datang. Mari kita belajar melakukan firman agar kita dapat menuai berkat dari firman Tuhan.

3. Semak duri (ayat 18-19)
Ini adalah kondisi hati yang mendua, yaitu orang yang memang melakukan firman, tetapi di samping itu ia juga melakukan perbuatan dosa atau hal-hal duniawi. Akibatnya firman dan dosa itu sama-sama bertumbuh dalam kehidupannya, namun dosa itu akan menghimpit firman itu sampai mati. Jangan berpikir bahwa kita dapat memiliki atau melakukan kedua hal ini secara bersamaan (Mat. 6:24).
Dalam Mat. 19:16-22 dicatat kisah tentang orang muda yang kaya. Ia datang kepada Yesus karena ingin mengikut Dia. Ia berkata bahwa ia sudah melakukan semua perintah Tuhan. Namun ketika Yesus meminta dia menjual seluruh hartanya untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin, ia pergi dengan hati sedih karena tidak mampu melepaskan ikatan “Mamon” dalam dirinya. Kalau kita mau mengalami kuasa firman, kita harus melepaskan ikatan terhadap dosa dan hal-hal duniawi, seperti kekuatiran, kekayaan, dan keinginan.

4. Tanah yang baik (ayat 20)
Ini adalah gambaran hati yang menyambut firman, yaitu hati yang menerima firman sepenuhnya dan mengakui firman itu siang dan malam, sehingga mengenal dan mengalami firman itu secara pribadi. Ia bukan hanya sekedar menerima tapi menyambut dengan senang hati. Namun memang ada hasil yang berbeda di sini, yaitu 30, 60, dan 100 kali lipat. Hasil yang berbeda ini dipengaruhi oleh perbuatan iman kita. Dalam Luk. 6:38 dikatakan: “Berilah dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Maksudnya adalah bila kapasitas atau level perbuatan iman kita melimpah, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, maka tuaian kita pun akan melimpah.

Kita sudah melihat berbagai kondisi atau sikap hati terhadap firman Tuhan. Mari kita ubah sikap hati kita menjadi tanah hati yang terbaik ketika menerima firman. Maka percayalah kita pasti akan menikmati kuasa dari firman itu dalam hidup kita secara melimpah! Tuhan Yesus memberkati. (XY)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com