Kamis Desember 14 , 2017

Anak Autis Bukan Akhir Segalanya

 

Dari waktu ke waktu penderita Autism semakin meningkat. Penelitian yang diadakan pada tahun 1990, menemukan jumlah penderita autism hanya 4-6 orang per 10.000 kelahiran. Pada tahun 2000, penderita autism sekitar 10-15 orang per 10.000 kelahiran. Jumlah yang cukup mengejutkan dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, pada tahun 2010 ada 2,4 juta penderita autism di Indonesia yang saat itu berpenduduk 237,5 juta jiwa.
Memiliki seorang anak penderita autism bukanlah akhir segalanya. Banyak orang tua yang takut, malu dan depresi dengan kenyataan bahwa anaknya menderita Autism sehingga tidak memberikan penanganan yang tepat bagi anaknya. Autism adalah gangguan perkembangan yang kompleks dan gejalanya mulai timbul sebelum seorang anak mencapai usia 3 tahun. Penyebab Autism adalah gangguan neurobiologist (terjadi karena faktor keturunan, makanan, dan kelainan pada masa kehamilan)yang mempengaruhi fungsi otak sehingga seorang anak tidak mampu mengadakan kontak mata, tidak mampu berinteraksi sosial secara efektif.
Gejala yang paling mencolok pada penderita Autism adalah: Tidak mempedulikan orang disekitarnya, kesulitan memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal, senang berputar-putar, sering mengepak-ngepakkan tangan, senang berjalan dengan menjinjit. Autism beragam jenis dan tingkat keparahannya. Autism yang aktif cenderung membuat seorang anak menjadi hiperaktif dan akhirnya sering menyakiti diri sendiri(membenturkan kepalanya ke dinding), sedang autism yang pasif membuat seorang anak menjadi emosional tanpa penyebab yang jelas.
Autism Observation Scale for Infants (AOSI) menyebutkan bahwa Autism dapat dideteksi melalui perilaku anak mulai ia berusia 6 bulan. Perhatikan apabila anak tidak mau tersenyum saat diajak tersenyum, tidak bereaksi saat namanya dipanggil, kecenderungan untuk terpukau pada benda tertentu dan ekspresi yang sangat kurang menginjak usia 12 bulan.
Anak-anak pengidap Autism biasanya memiliki kemampuan lebih di bidang musik dan seni, karena itu banyak orang tua yang memakai terapi musik untuk anak-anak yang menderita Autism, namun karena banyaknya jenis Autism sendiri, perlu terapi yang sesuai kebutuhan anak.
Penderita Autism berbeda dengan penderita tunagrahita (anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental) karena itu jangan memasukkan anak-anak penderita Autism di sekolah berkebutuhan khusus yang dicampur dengan penderita tunagrahita. Carilah sekolah yang tepat, lebih bagus bila menemukan sekolah yang menyediakan atau mengijinkan ada shadow teacher (guru pendamping khusus yang akan membantu dalam proses belajar) khususnya saat anak ada di kelas1-2 SD.
Autism bukanlah akhir segalanya. Orang  tua yang memiliki anak penderita Autism perlu melibatkan diri dan memberi perhatian lebih kepada anak-anaknya. Autism bukan penyakit menular seperti pemahaman yang salah selama ini. Anak-anak penderita Autism tidak perlu disembunyikan sehingga makin terisolasi dari dunia luar. “Kasih sayang dan perhatian orang tua adalah dukungan yang terbesar bagi penderita Autism” kata Hershinta Suroso, dosen komunikasi London Scholl of Public Relation Jakarta.
(dirangkum dari berbagai sumber)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com